Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
CENTER for Indonesian Policy Studies (CIPS) memperkirakan perekonomian nasional semakin mengandalkan sektor digital. Itu ditandai dengan meningkatnya kontribusi pasar digital terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
"Semakin banyak usaha di Indonesia yang mengandalkan sektor digital dalam melakukan jual beli baik barang maupun jasa," kata peneliti CIPS Novani Karina Saputri di Jakarta, Rabu (14/2).
Menurut dia, tingginya potensi sektor ekonomi digital di Indonesia itu juga didukung dengan terjangkaunya biaya internet dan penjualan yang terjadi di Indonesia dengan aktivitas penggunaan internet yang tinggi.
Seperti diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, kontribusi pasar digital terhadap PDB Indonesia adalah 3,61%. Jumlah itu meningkat menjadi 4% pada 2017.
"Jumlah ini diperkirakan akan mengalami kenaikan di 2018 yaitu sebesar 8%-10%. Proyeksi ini didasarkan pada beberapa hal, salah satunya adalah data Bank Indonesia yang menjelaskan nilai transaksi e-commerce di Indonesia yang terus meningkat dalam 4 tahun terakhir," paparnya.
Ia menambahkan, kenaikan nilai transaksi ini juga diikuti adanya peningkatan nilai transaksi pangsa e-commerce terhadap ritel yang juga terus merangkak naik dengan proyeksi 3,1% di 2017.
Upaya pemerintah dalam meningkatkan digital ekonomi juga tertuang dalam Paket Kebijakan Ekonomi XIV yang ingin menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020.
Novani berpendapat, salah satu kendala yang dihadapi pelaku bisnis ekonomi digital ialah pendanaan yang kurang. Ia juga menekankan masih perlunya perbaikan dan peningkatan di beberapa hal terkait kesiapan Indonesia terhadap ekonomi digital.
Menurut data Kepios 2017 dan McKinsey 2016, penetrasi dan kualitas jaringan internet di Indonesia masih tergolong relatif tertinggal dibandingkan dengan negara lainnya. Penetrasi Internet di Indonesia hanya mencapai sekitar 50% dengan kecepatan rata-rata (Mbps) sekitar 3,9%.
"Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand. Selain kualitas jaringan untuk mendukung iklim bisnis digital, yang tidak kalah pentingnya juga adalah perlu adanya upaya untuk meningkatkan kualitas SDM yang merupakan pelaku usaha," ucapnya.
Di tempat terpisah, Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, pembangunan infrastruktur fisik ekonomi digital harus dibarengi dengan soft infrastructure berupa pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan dukungan regulasi.
Menurut Darmin, pemerintah ke depannya akan menyusun regulasi yang tidak mengekang industri ekonomi digital, tapi tetap memperhatikan aspek kehati-hatian dan perlindungan konsumen. Indonesia menargetkan akan menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan target transaksi daring senilai 130 miliar dolar AS pada 2020. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved