Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Ingin Kejar Pertumbuhan, Ayo Dorong Manufaktur

Fetry Wuryasti
07/2/2018 17:19
Ingin Kejar Pertumbuhan, Ayo Dorong Manufaktur
(MI/MOHAMAD IRFAN)

DI saat ekonomi negara ASEAN bertumbuh pesat, seperti Singapura yang tumbuh 5,2%, Malaysia tumbuh 6,2%, Filipina 6,9% dan Vietnam 7,5%, Indonesia justru tak mampu berlari kencang dan hanya tumbuh 5,07%.

Ekonom Chatib Basri menjabarkan, negara-negara tetangga itu bisa tumbuh tinggi karena penggerak ekonomi mereka adalah manufaktur. Sehingga ketika ekonomi AS pulih, bagian besar dari ekspor mereka, yaitu industrialisasi begitu cepat mengalami perbaikan.

Parameter ekonomi Indonesia, kata dia, sebetulnya bagus. Namun tetap saja tidak bisa berlari lebih cepat.

"Maka isu yang wajib dibahas ialah fokus pada perkembangan manufaktur. Sebab secara makro kondisi ekonomi Indonesia dalam keadaan stabil. Pemerintah dan pengusaha harus masuk ke sesuatu yang lebih dari makro stability, yaitu sektor riil," terangnya di acara Mandiri Investment Forum , di Jakarta, Rabu (7/2).

Sektor riil Indonesia tidak lagi bisa bertahan dengan manufaktur berbasis buruh murah, mengingat upah buruh di Bangladesh sepertiga dari Indonesia. Tidak mungkin lagi menekan upah di saat kelas menengah naik.

Begitu pula tidak mungkin lompat kepada high value technology. Maka mestinya pemangku kepentingan mengambil pada intemediate manufacturing yang didukung dengan peningkatan kualitas SDM.

"Insentifnya, pemerintah melalui Kemenko Perekonomian sudah mulai bicara bahwa ada upaya mendorong ke sektor manufaktur, khususnya yang orientasi ekspor dan bisa menyerap tenaga kerja. Sejarah di Asia Pasifik, semua negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi basisnya perdagangan dan industri," ujar Chatib.

Dengan sektor riil berkembang, bagi bank, risiko volatilitas pembiayannya akan lebih relatif kecil, dibandingkan membiayai sektor sumber daya alam. "Siklus kredit manufaktur lebih terprediksi. ini yang membuat kenapa Indonesia harus fokus di manufaktur,"

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wirjoatmodjo mengakui permintaan di perbankan dari sektor manufaktur belum menjadi primadona. Ini terbukti dari penggerak utama permintaan kredit perbankan masih berasal dari sektor infrastruktur, sebesar 21,9% portofolionya di Bank Mandiri.

"Dilanjutkan dengna perkebunan sawit dan baru mulai tumbuh di mineral, tembaga, emas, batu bara dan consumer goods serta jasa pelayanan," kata dia.

Alasannya dari manufaktur masih sedikit perusaahaan minat bangun di hilir. Meski demikian, lanjut Kartika, arahnya sudah ke sana, seperti hilirisasi mineral dan CPO.

"Memang untuk yang labour intensif, masih perlu ada dorongan dan fasilitas yang membuat mereka tertarik untuk masuk. Kami melihat setahun terakhir mulai banyak perusahaan tekstil yang mulai masuk setelah dibeli pemain baru," tukas Tiko. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya