Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Sejumlah Nama Mulai Beredar, Calon Gubernur BI Harus Paham Moneter

Fetry Wuryasti
29/1/2018 17:54
Sejumlah Nama Mulai Beredar, Calon Gubernur BI Harus Paham Moneter
(MI/PANCA SYURKANI)

GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo bakal habis masa jabatan pada Mei 2018 mendatang. Ini artinya, proses pemilihan bakal segera berlangsung. Beberapa nama disebut-sebut berpeluang kuat menjadi pengganti, meski Agus masih bisa saja menjabat untuk satu periode lagi.

Beberapa nama yang disebut-sebut potensial menggantikan Agus antara lain Bambang Brodjonegoro, yang kini masih menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) dan Muhammad Chatib Basri yang pernah menjabat Menteri Keuangan periode 2013-2014.

Kemudian, mencuat juga nama-nama dari internal BI yaitu Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara dan Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo.

Menanggapi hal tersebut, sebagian besar kandidat yang disebut-sebut akan menggantikan Agus sebagai Gubernur Bank Indonesia justru menimpali dengan berkelakar.

"Ah saya Gubernur DKI. Kalau yang itu (Gubernur BI) berat ya," canda Chatib Basri, di Jakarta, Jumat (26/1) lalu.

Sementara Bambang Brodjonegoro menjawabnya sebagai kabar baik yang dia terima seandainya itu benar.

"Ah itu kabar dari kamu . Kalau kamu kasih kabar, saya bilang kabar baik. Tidak ada komentarlah. Pokoknya kabar baik saya kembalikan kepada kamu," tukas Bambang.

Pemilihan kandidat GUbernur BI merupakan wewenang Presiden Joko Widodo. Nantinya, Jokowi akan mengusulkan kandidat pilihannya kepada Komisi Keuangan DPR untuk dilakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).

Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan tidak bisa memprediksi siapa sosok yang paling tepat mengisi bangku Gubernur Bank Indonesia untuk periode selanjutnya.

Namun demikian sebaiknya pemimpin bank sentral harus memiliki latar belakang kebijakan moneter. Ini diperlukan, mengingat risiko dari ekonomi global yang meski tumbuh, juga banyak dibumbui pergejolakan kebijakan ekonomi beberapa negara maju seperti AS dan Eropa.

"Wah, saya tidak tahu siapa yang paling tepat. Tetapi yang jelas tugas BI adalah manajemen kebijakan moneter dan lalu lintas keuangan. Jadi akan lebih baik jika Gubernur BI mempunyai latar belakang kebijakan moneter, baik dari akademisi atau praktisi."

Sebab, ahli moneter berbeda dengan perbankan atau lembaga keuangan. "Sudah waktunya Gubernur BI diisi oleh pihak yang mengerti mengenai kebijakan moneter. Ke depannya risiko yang dihadapi dari keuangan global akan menjadi sangat kompleks dan membutuhkan kebijakan moneter yang juga kompleks. Di sini Pak Perry dan Pak Chatib menjadi lebih cocok. Sebenarnya ketua OJK saat ini, Pak Wimboh juga merupakan orang yang tepat karena bidangnya adalah kebijakan moneter," tukas Yose.

Sepakat, ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara juga mengatakan idealnya pengganti Gubernur BI selanjutnya berasal dari akademisi maupun internal BI yang memahami kebijakan moneter, berpengalaman di bidangnya dan mampu membaca arah perubahan ekonomi global.

Selain itu menjelang Pemilu 2019 sosok Gubernur BI, kata dia, sebaiknya netral dan tidak gampang diintervensi kepentingan politik.

Gubernur BI yang baru juga harus lebih kreatif dalam membuat kebijakan moneter sehingga peran BI sebagai pendorong ekonomi nasional bisa lebih optimal. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya