Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH menyaksikan panen padi di beberapa desa di Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (22/1), lalu berlanjut ke Demak, Kudus serta Grobogan Jawa Tengah, Selasa (23/1), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meneruskan perjalanan untuk melihat lokasi panen raya kloter awal di Sragen, Jawa Tengah, Rabu (24/1).
Di Demak, tepatnya di Desa Sari, Gajah, panen awal dilakukan pada sawah seluas 7 ribu hektare. Panen selanjutnya, yang akan tiba pada Februari mendatang, sekitar 38 ribu ha sawah akan menyusul sehingga total lahan sawah yang dipanen di desa tersebut ialah 45 ribu ha.
Di Kabupaten Grobogan, pada Januari diproyeksikan akan ada 12 ribu ha sawah yang siap diproses dan menghasilkan 51 ribu ton beras. Sepanjang triwulan pertama, diramalkan panen padi akan terjadi pada lahan seluas 65 ribu ha dan diperkirakan menghasilkan 241 ribu ton beras. Jumlah tersebut jauh di atas angka konsumsi daerah setempat yang hanya sekitar 15 ribu ton per bulan atau 45 ribu ton per triwulan.
Adapun, di Desa Pumbungan, Sragen, luas lahan yang menjadi objek panen pada hari ini tercatat seluas 486 ha. Sedangkan total luas panen keseluruhan di Kabupaten Sragen sejak Januari, Februari dan Maret dipekirakan mencapai 40 ribu ha dengan hasil 142 ribu ton beras.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, panen padi di provinsi tersebut dalam tiga bulan pertama 2018 mencapai 731 ribu ha dengan potensi produksi 2,87 juta ton beras.
Menyaksikan langsung ribuan ha sawah yang sudah dan siap dipanen, Amran merasa sangat lega. Pasalnya, selama ini, begitu banyak pihak yang menyangsikan adanya panen raya pada awal tahun.
"Kami lihat sendiri dari helikopter, sudah empat hari, Jawa Timur dan Jawa Tengah sudah panen raya. Ini sesuai rencana awal, akhir Januari sudah panen. Kami ajak Bulog, Satgas Pangan, KPPU, Kabareskrim, kami saksikan bersama. Tidak hanya sepihak dari Kementan saja yang melihat dan mengatakan sudah panen puncak," ujar Amran di Sragen.
Dengan datangnya musim panen puncak, harga gabah di tingkat petani mulai mengalami penurunan. Di Demak dan Kudus, harga gabah kering panen (GKP) turun dari Rp5.700 per kilogram (kg) menjadi Rp5.000 per kg. Begitu pun di beberapa daerah lainnya di Jawa Tengah.
"Harga sekarang sudah turun Rp400-Rp700 per kg. Biasanya kalau sudah mulai panen puncak, Februari, Maret, April, harga sudah turun, tidak akan naik sampai Juni," tuturnya.
Ia mengatakan turunnya harga gabah saat memasuki panen raya adalah suatu hal biasa hanya saja jangan sampai hal itu merugikan petani. "Harapan kita memang turun, tetapi kita harus menjaga harga tidak jatuh di bawah standar supaya petani tidak rugi," paparnya.
Turunnya harga gabah, sambung Amran, juga sudah seharusnya diiringi dengan turunnya harga beras di pasaran sehingga semua lapisan masyarakat bisa menikmati panen raya.
"Diharapkan, harga beras di tingkat konsumen pun segera menyusul turun," tandasnya.
Dalam kesempatan sama, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf mengatakan pihaknya bersama Satgas Pangan akan terus mengawal jalannya panen raya dan memastikan hasil produksi dari petani benar-benar sampai di konsumen tanpa ada intervensi dari pihak-pihak yang kerap memainkan stok dan mempengaruhi harga di pasar.
"Kami akan pastikan beras yang diproduksi di sentra bisa sampai ke konsumen dalam jumlah yang cukup dan harga yang stabil. Kami tidak ingin ada sekelompok orang yang mengganggu proses distribusi sehingga produk yang dihasilkan petani tidak sampai ke pasar dengan jumlah semestinya," tegasnya. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved