Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Susul Jejak Jasa Marga, PLN akan Terbitkan Global Bond Rupiah

Tesa Oktiana Surbakti
08/1/2018 15:15
Susul Jejak Jasa Marga, PLN akan Terbitkan Global Bond Rupiah
(Ist)

PT Jasa Marga (Persero) Tbk belum lama ini menerbitkan surat utang dengan nama Komodo Bond di Bursa Saham London. Menyusul keberhasilan BUMN konstruksi tersebut, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) juga berencana mengeluarkan obligasi (global bond) sebagai sumber alternatif pendanaan perseroan.

Direktur PLN Sofyan Basir mengatakan pihaknya belum menetapkan nama dari surat utang senilai US$1 miliar-US$2 miliar atau setara Rp13 triliun-Rp26 triliun. Adapun kebutuhan total mencapai US$5 miliar.

"Iya kita (mau terbitkan) cacing bond, biar namanya enggak komodo lagi. Atau nasi goreng, setrum bond mungkin," kelakar Sofyan.

"Mudah-mudahan sebelum bulan Juni ini atau semester I (sudah terbit)," sambungnya saat ditemui di Kementerian Keuangan, Senin (8/1).

Serupa Komodo Bond, obligasi global yang diterbitkan BUMN setrum itu juga mengacu pada denominasi mata uang rupiah. Menurut Sofyan, penerbitan obligasi global tersebut untuk mengantisipasi keterbatasan pendanaan dalam negeri terutama dari perbankan nasional.

Pihaknya ingin menggali penerimaan dari investor asing dalam bentuk mata uang rupiah dalam rangka memenuhi kebutuhan pendanaan perseroan, baik untuk investasi maupun operasional.

Penerbitan obligasi senilai itu, lanjut Sofyan, sejalan dengan aset PLN yang mencapai Rp 1.300 triliun. Juga dari sisi kebutuhan pendanaan perseoran yang disebutnya terbilang besar. Sebagai gambaran, nilai proyek ketenagalistrikan yang dikelola PLN dalam kurun waktu 5 tahun sebesar Rp2.000 triliun.

"Yang lain-lain komitmen dari luar kan sudah ada dalam bentuk dolar AS. Apalagi takut keterbatasan dalam negeri (rupiah) pasti ada. Walaupun kita punya plafon, kita mau coba bagaimana penerimaan dari pihak luar dalam rupiah karena size kita besar mungkin US$1-2 miliar," imbuhnya.

Disinggung soal laba bersih yang diraup perseroan sepanjang 2017, Sofyan mengisyaratkan nominalnya tidak melebihi perolehan 2016 sebesar Rp10,5 triliun. Kenaikan harga komponen energi primer seperti batubara dan minyak nyatanya menambah beban biaya pokok produksi.

Alhasil, perolehan laba bersih perseroan tidak terlalu menggembirakan meski penjualan 2017 diklaimnya lebih baik daripada 2016. Pihaknya, sambung dia, sudah berupaya melakukan efisiensi dari sisi operasional.

"Harga pokok produksi yang naik ini karena energi primer yang naik sangat drastis. Kita sedang minta DMO (Domestic Market Obligation) untuk batubara. Kami harus segera dapat dilaksanakan. Bukan volume ya, tapi harga. Karena kalau tidak kan kami enggak bisa tahan untuk ke depan. Tarif penyesuaiannya kan belum jalan. Jadi mau tidak mau dari sisi harga pokok produksi tidak boleh naik," tukas Sofyan. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya