Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) punya sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang perlu dibereskan untuk memacu pertumbuhan industri, khususnya industri pengolahan (manufaktur) nonmigas. Apalagi, Kemenperin menargetkan industri pengolahan nonmigas tahun depan tumbuh 5,67% pada 2018, atau lebih tinggi daripada sasaran tahun ini, yaitu 5,4%.
Sepanjang tahun ini berjalan, pertumbuhan industri manufaktur nonmigas tercatat 4,84%.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pihaknya terus berupaya merampungkan sejumlah PR hingga akhir tahun ini. Umpama, perihal kebijakan pemberian insentif fiskal bagi industri.
"Misalnya untuk sektor otomotif, kami sedang mendorong pengembangan kendaraan zero emission carbon, termasuk di dalamnya ialah mobil berbasis listrik dan hibrida. Program ini dijalankan agar Indonesia ikut berperan dalam pengembangan industri yang ramah lingkungan," paparnya dalam Seminar Nasional Outlook Industri 2018 di Jakarta, Senin (11/12), seperti dilansir pada situs resmi Kemenperin.
Pihaknya juga tengah menjajaki pengadaan fasilitas pengurangan pajak bagi industri padat karya berorientasi ekspor, serta yang berkomitmen membangun pendidikan vokasi dan pusat vokasi. Pembahasan dengan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan kini sedang berlangsung.
"Kemenperin juga mendorong konsep link and match yang dapat mengimprove kontribusi industri terhadap pengembangan pendidikan vokasi sehingga siswa terdidik nantinya akan sesuai dengan kebutuhan industri," imbuhnya.
Lebih lanjut, pengembangan sektor manufaktur nasional pun ia harapkan dapat terfokus pada jaringan rantai produksi global (global value chain/GVC). Keterlibatan saat ini dinilainya masih rendah mengingat mayoritas produk ekspor Indonesia masih berupa materi mentah yang kurang punya nilai tambah (value added). Rendahnya peranan Indonesia dalam GVC, antara lain terlihat dari industri otomotif nasional yang masih bergantung pada komponen impor.
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menilai pengembangan sektor industri hulu saat ini belum optimal, padahal dapat berdampak besar terhadap keberlangsungan industri hilir. Tidak hanya memperkuat sektor hulu, aspek penghiliran pun juga harus dikembangkan, termasuk pemanfaatan sumber daya alam (SDA). Pun sektor penghiliran harus memiliki standardisasi global agar produk yang dihasilkan tidak hanya diserap pasar domestik.
"Industri petrokimia, misalnya, sayang sekali kurang dimanfaatkan sejak dulu. Padahal, hasil petrokimia itu dampaknya sampai ke hilir seperti pipa plastik, farmasi, poliester, hingga terkait pipa plastik. Lalu sektor farmasi yang merupakan basic capital, itu juga harus didorong. Bayangkan kita keluarkan banyak sekali uang untuk BPJS Kesehatan. Aneh kalau kita biarkan uangnya bocor keluar (obat impor). Memang di hulu ini kita perlu banyak pemain," terang Darmin dalam forum serupa.
Terbesar
Kendati pemerintah belum bisa berpuas diri, industri manufaktur nonmigas secara konsisten terus menjadi kontributor terbesar dalam struktur perekonomian nasional dengan pangsa di kisaran 20%. Besarnya peranan tersebut membawa kapabilitas manufaktur Indonesia masuk 10 negara dengan kontribusi industri terbesar pada struktur PDB.
"Kita berada di urutan ke-4, di bawah Korea Selatan, Tiongkok, dan Jerman," ungkap Airlangga.
Pada triwulan III lalu pun, industri manufaktur tumbuh 5,49% dimotori industri logam dasar, industri makanan dan minuman, industri mesin dan perlengkapan, dan industri alat angkutan. Performa itu jauh lebih baik ketimbang triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,89%.
"Peningkatan pertumbuhan industri pada triwulan III 2017 merupakan momentum yang baik untuk mengakselerasi pertumbuhan industri. Karena di saat bersamaan, pemerintah tengah membangun berbagai sarana infrastruktur dan desain regulasi yang tentunya akan berdampak positif terhadap perkembangan dunia usaha dan masyarakat secara umum," papar Airlangga.
Tahun depan, Kemenperin memproyeksikan sumbangsih dari sejumlah subindustri tersebut, juga industri bahan kimia dan barang dari kimia, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, serta industri barang dari logam akan turut memacu pertumbuhan ke sasaran 5,6%.
Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Johnny Darmawan meminta pemerintah konsisten menjalankan regulasi yang sudah ditetapkan. Jika itu dilakukan, plus kondisi politik stabil, pihaknya optimistis kontribusi sektor industri di 2018 semakin besar. Ia pun berharap pemerintah mampu memancing gairah investor agar tidak terjebak dalam sikap wait and see pada tahun politik. (Tes/S-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved