Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Liberalisasi Ancam Industri Perunggasan?

Haryanto
23/11/2017 14:07
Liberalisasi Ancam Industri Perunggasan?
(ANTARA/Risky Andrianto)
INDUSTRI perunggasan di Tanah Air memiliki prospek yang sangat cerah di masa yang akan datang. Kendati demikian adanya liberalisasi ekonomi, yang juga akan berlaku pada bidang perunggasan makan sekaligus merupakan ancaman bagi industri perunggasan nasional bila daya saingnya rendah.

Hal itu dikemukakan Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Tjiu Thomas Effendy dalam pidato ilmiahnya yang berjudul Pengembangan Pola Kemitraan Usaha Peternakan Ayam Pedaging Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Produksi Unggas Nasional, Kamis (23/11).

Pada kesempatan yang sama Thomas dianugerahi gelar doktor honoris causa (HC) di bidang ilmu sosial ekonomi peternakan oleh Universitas Diponegoro Semarang. Dalam sidang senat terbuka yang dipimpin Rektor Undip Prof. Yos Johan Utama itu juga disaksikan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dan Honorary Consul Kerajaan Thailand.

"Pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk Imdenesia merupakan faktor utama penggerak pertumbuhan industri perunggasan," kata Tjiu. Menurut dia, di samping potensi yang terbuka lebar bagi pelaku usaha perunggasan nasional, industri ini juga menarik minat kelangan pelaku usaha luar negeri.

"Liberalisasi perdagangan dan berbagai bentuk kesepakatan perdagangan regional merupakan peluang bagi usaha multinasional untuk mengembangkan penjualan produknya ke Indonesia," ujar Tjiu.

Untuk itu dia menegaskan bahwa liberalisasi merupakan ancaman bagi industri perunggasan nasional bila daya saing rendah. "Dengan berlakunya liberalisasi perdagangan , daya saing produksi unggas nasional harus ditingkatkan," lanjutnya.

Oleh karena itu, salah satu upaya yang dilakukan agar peternak mendapat keuntungan dengan melakukan pola kemitraan usaha. "Peternak plasma dapat mengalami kerugian hanya bila kinerja budidaya ayam di bawah standar yang disepakati, karena kelalaian dalam penerapan prosedur standar operasi," katanya.

Disebutkan, bahwa pola kemitraan memungkinkan resiko usaha plasma diminimalkan, baik karena penyakit atau faktor lain ataupun fluktuasi harga ayam. "Bila SOP telah dijalankan dengan benar, namun masih menderita kerugian , maka atas kerugian tersebut diperhitungkan sebagai potongan penjualan sarana produksi ternak dari Inti kepada Plasma," kata Thomas.

Sementara terbatasnya lahan peternakan dan ancaman penyakit hewani menuntut dikembangkanya pola kemitraan dengan kandang tertutup, yang memungkinkan budidaya dilakukan secara lebih efesien , aman dan produktif.

"Kemitraan merupakan usaha yang saling menguntungkan dan menguatkan untuk mendorong terciptakanya peningkatan daya saing produksi unggas nasional menyongsong era perdagangan bebas," lanjut Thomas, kelahiran Pontianak 30 Januari 1958 itu.

Oleh karena itu, paparnya, dalam kemitraan harus diimbangi dengan pemberdayaan peternak melalui terciptanya akses pengetahuan dan ketrampilan bididaya ayam, pembiayaan sarana produksi ternak dan jaminan pembelian produksi hasil budidaya dengan harga yang menguntungkan sehingga kesejahteraan peternak meningkat.

Sebelumnya Rektor Undip Prof Yos Johan Utama mengatakan selama ini Thomas sudah dikenal secara keilmuannya bidang peternakan dengan berbagai inovasi di industri pakan ternak dan pengolahan daging ayam itu sehingga sudah tidak perlu diragukan lagi.

"Berbagai inovasi di bidang peternakan itu pun sudah dituangkannya dalam semacam karya ilmiah yang diuji oleh tim dari Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Undip yang berkompetensi di bidangnya," pungkas Yos.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya