Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Tekfin Bantu Keuangan Inklusif

Fetry Wuryasti
11/10/2017 09:42
Tekfin Bantu Keuangan Inklusif
()

BANK Indonesia (BI) memandang perkembangan industri financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin) dapat memudahkan akses masyarakat terhadap industri jasa keuangan sehingga mempercepat pencapaian target keuangan ­inklusif pemerintah sebesar 75% pada 2019.

“Ada kecenderungan baru bahwa fintech akan menjadi pemain besar. Positifnya, kita memiliki finansial inklusif 2011 baru 20%, kita naikkan dengan lintas sektor meningkat menjadi 36%. Pemerintahan Presiden Jokowi menargetkan keuangan inklusif 75% pada 2019,” ujar Direktur Kepala Program ­Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif Bank Indonesia (BI) Pungky P Wibowo dalam diskusi bertema Transformasi layanan perbankan menembus era digital, di Jakarta, kemarin.

Menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada ­akhir 2016, indeks keuangan inklusif di Indonesia sudah mencapai 67,82%.

Para pelaku industri tekfin, menurut Pungky, cukup jeli melihat peluang pasar untuk merambah produk dan jasa keuangan yang selama ini belum terakses oleh masyarakat. Dengan kontribusi akses keuangan tersebut, industri tekfin juga dinilai telah memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, Pungky mengakui industri tekfin juga tidak terhindar dari risiko, seperti ketidakcocokan ketersediaan dana, ketidakcocokan jangka waktu pinjaman, serta serangan siber dan ancaman peretas.

Karena itu, menurut dia, perkembangan tekfin harus dibarengi dengan regulasi yang kuat tapi juga tetap bersahabat. “Kami sebagai regulator berusaha menjadi penengah yang bisa memberikan fair play ke semua industri sehingga bisa bersaing dengan sehat, tidak mematikan. Tujuan akhirnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Senada dengan dia, Wakil Ketua Asosiasi Fintech Indonesia Adrian A Gunadi menyampaikan kehadiran industri tekfin dalam peta bisnis industri jasa keuangan sangat membantu pemerintah dalam meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.

Jika selama ini perbankan sulit menjangkau daerah pelosok karena ke­terbatasan jaringan mereka, dengan kemampuan teknologi, industri tekfin mampu mengatasi persoalan tersebut.

“Di Indonesia akses keuangan terbatas. Namun, dari keterbatasan itu kita lihat peluang bagaimana teknologi ini bisa membantu mengakselerasi,” pungkas Co-Founder dan CEO Investree itu.

Bertransformasi
Rektor Universitas Atma Jaya Jakarta A Prasetyantoko menambahkan transformasi teknologi yang begitu cepat saat ini dapat meningkatkan produktivitas. Itu misalnya sudah dibuktikan banyak korporasi di negara maju.

Karena itu, dalam menghadapi tantangan bisnis yang semakin ketat dan makin bergantung pada teknologi, industri perbankan harus bertransformasi. Bank-bank mesti bisa adaptif dan berkolaborasi dengan industri fintech. “Atau, jika punya kemampuan, bank bisa membangun fintech-nya sendiri,” tukas dia. (Ant/E-3)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya