Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Akhiri Stagnasi Pertumbuhan

Jessica Sihite
07/10/2017 16:03
Akhiri Stagnasi Pertumbuhan
(ANTARA/IRWANSYAH PUTRA)

INDONESIA dipandang perlu mempercepat pertumbuhan ekonomi. Dalam dua tahun terakhir, ekonomi Tanah Air stagnan di angka sekitar 5%.

Ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro meminta pemerintah untuk berhati-hati terhadap angka pertumbuhan tersebut. Jangan sampai ekonomi Indonesia melambat dan akhirnya malah tertinggal dari negara-negara lain. “Pertumbuhan kita sekarang tidak ada dinamikanya. Padahal, dinamika dibutuhkan untuk menarik investasi dan mendorong ekspor dan impor,” ucap Ari dalam diskusi di UI, Depok, kemarin.

Menurutnya, pemerintah harus bisa mencari sektor pendorong pertumbuhan di luar manufaktur. Sektor manufaktur dipandang sudah tidak cukup untuk menyumbang pertumbuhan ekonomi, apalagi laju pertumbuhannya pada tahun ini di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan sektor manufaktur pada kuartal II 2017 ialah 3,54% (year-on-year). Angka itu lebih lambat daripada pertumbuhan kuartal sebelumnya, 4,24%. “Manufaktur yang skala besar sudah kepayahan. Kita harus mencari alternatif dari sumber lain. Di sini, perdagangan dan jasa modern akan mendominasi ekonomi Indonesia. Jangan malu kalau kita makin ke arah jasa dan memang manufaktur sedang kesulitan,” tukasnya.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI tersebut menyarankan pemerintah untuk berfokus pada sektor jasa modern. Ia mencontohkan jasa kuliner dan pariwisata yang bisa dikembangkan dengan serius agar ekonomi nasional bertumbuh cepat. “Lihat saja dulu kebijakan pelarangan rapat di hotel membuat pertumbuhan ekonomi kita langsung anjlok 4,79%. Jadi, memang jasa modern ini harapan kita. Jangan lagi berharap pada sumber daya alam,” ujar Ari.

Pilihan Industri
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Hendri Saparini meminta pemerintah fokus pada sektor yang menghasilkan efek berganda (multiplier effect) bagi industri dan masyarakat. Mengutamakan sektor pariwisata juga dinilai bisa turut mengembangkan industri manufaktur yang saat ini sedang lesu. “Manufaktur itu tetap penting buat kita, tapi manufaktur yang membantu industri prioritas. Misalnya, pariwisata menjadi lokomotif dan manufaktur yang memproduksi oleh-oleh dan makanan pendukung. Jepang saja sudah berani bilang beralih ke jasa karena manufaktur sudah sulit bersaing dengan Tiongkok dan Korea Selatan,” paparnya.

Ia berharap pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla mau membuat perencanaan pembangunan yang lebih fokus sehingga pertumbuhan ekonomi bisa maksimal. “Kita butuh percepatan pertumbuhan ekonomi. Tidak boleh kita flat seolah 5% itu takdir kita,” imbuh Hendri.

Pemerintah juga harus membagi secara tepat porsi antara BUMN, swasta, dan UMKM guna mempercepat pertumbuhan. Pemerintah juga bisa memperhatikan momentum yang ada untuk mendongkrak sektor UMKM. Seperti pelaksanaan Asia Games tahun depan, UMKM Indonesia bisa memanfaatkannya untuk meraih peluang pasar. “Jepang untuk Olimpiade 2020 sudah menyiapkan jalur bagi UMKM sejak 2013. Mereka bisa menjajakan makanan dengan logo-logo Olimpiade,” tandasnya. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya