Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Nilai Tukar Petani Nasional Naik 0,61%

Tesa Oktiana Surbakti
03/10/2017 09:03
Nilai Tukar Petani Nasional Naik 0,61%
(ANTARA/SAIFUL BAHRI)

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Nasional pada September 2017 naik sebesar 0,61% menjadi 102,22. Kenaikan NTP Nasional ini dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang naik 0,49% sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) turun 0,12%.

“NTP Nasional pada September 2017 sebesar 102,22, artinya NTP ini lebih baik dibandingkan dengan 2016. Semua subsektor naik kecuali hortikultura dan peternakan,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi serta biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Suhariyanto menerangkan kenaikan NTP September 2017 dipengaruhi oleh naiknya NTP pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,60%, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,18% dan subsektor perikanan sebesar 0,18%. Sementara untuk subsektor hortikultura turun 0,37% dan peternakan juga turun 0,40%.

Tercatat, dari 33 provinsi, sebanyak 24 provinsi mengalami kenaikan NTP dan sembilan lainnya mengalami penurunan. NTP Sumatera Selatan mengalami kenaikan tertinggi hingga 2,16%, sementara penurunan terbesar adalah NTP Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,95%.

Dia menjelaskan naik­nya NTP subsektor tanaman pangan dipicu oleh kenaikan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sepanjang September 2017 hingga Rp4.655 per kg atau naik 3,22% ketimbang Agustus 2017. “Kenaikan harga GKP di tingkat petani ini yang memicu NTP subsektor tanaman pangan bisa naik,” ujarnya.

Ia menyebutkan rata-rata harga GKP di tingkat penggilingan naik 3,31% menjadi Rp4.744 per kg. Sedangkan rata-rata harga gabah keling giring (GKG) di tingkat petani tercatat Rp 5.502 per kg atau naik 0,21% dan harga GKG di penggilingan mengalami kenaikan 0,21% menjadi Rp 5.590 per kg.

Selanjutnya harga gabah kualitas rendah di tingkat petani sebesar Rp4.276 per kg atau naik 6,57% dan di tingkat penggilingan naik 6,43% menjadi Rp 4.368 per kg.

“Dari 1.252 transaksi penjualan gabah di 23 provinsi selama September 2017, tercatat transaksi komposisi GKP sebanyak 76,52%, gabah kualitas rendah 14,62% dan GKG sebesar 8,86%,” imbuhnya.

BPS juga mencatat, pada September 2017 terjadi deflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,27% yang disebabkan oleh turunnya kelompok bahan makanan.

Terus memantau
Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan pemerintah akan terus memantau pelaksanaan penerapan harga eceran tertinggi (HET) untuk komoditas beras.

Enggartiasto menegaskan saat ini harga beras cenderung turun, terutama untuk jenis premium yang tidak lebih dari Rp12.800 per kg. “Dulu harga rata-rata beras Rp13.100 per kg. Sekarang dibandingkan dengan premium saja sudah turun Rp300 per kg. Semua sudah turun bahkan kemungkinan besar sumbang deflasi,” tutur Enggar.

Ia pun meminta kepada seluruh pihak terkait untuk turut mengawasi kebijakan pemerintah yang diterapkan demi kesejahteraan masyarakat itu. “Kalau ada yang tidak mengikuti, tolong kasih tau saya,” tegasnya. (Pra/Ant/E-3)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya