Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Jangan Cekik Start-up dengan Regulasi

Ghani Nurcahyadi
02/10/2017 09:45
Jangan Cekik Start-up dengan Regulasi
(ANTARA/ALOYSIUS JAROT NUGROHO)

Pemerintah mendorong eksperimentasi dalam pengembangan start-up demi melahirkan inovasi. Untuk itu, pemerintah memastikan aturan yang mendukung start-up belajar dari kegagalan.

“Eksperimen pasti ada gagalnya. Kita perlu menoleransi kegagalan. Dunia digital jatuh tak apa-apa asalkan bisa bangkit kembali,” kata Presiden Joko Widodo saat membuka Konferensi Indonesia Byte (Idbyte) 2017 di Jakarta, Kamis (28/9).

Kebebasan bereksperimentasi itu dijamin pemerintah dengan memberikan kelonggar­an regulasi kepada start-up lokal untuk berkembang dan menghasilkan inovasi. Presiden memastikan regulasi yang ada tidak akan mencekik dan membatasi ruang gerak start-up lokal untuk menghasilkan inovasi.

Faktor regulasi, imbuh pendiri dan CEO Bubu.com Shinta Witoyo Dhanuwardoyo, menjadi salah satu yang dilihat investor, khususnya investor asing dalam menanamkan modal di Indonesia untuk pengembangan ekosistem ekonomi digital. Karena itu, ia berharap pemerintah menghasilkan aturan yang memudahkan investasi masuk ke sektor ekonomi digital.

“Dari sejumlah rekanan saya di Sillicon Valley, Amerika Serikat, minat berinvestasi di Indonesia cukup besar karena kondisi pasar yang bagus. Tapi, masih banyak yang masih belajar mengenai pasar di Indonesia,” kata Shinta.

Aturan yang diharapkan, lanjut Shinta, juga bukan hanya menguntungkan investor, melainkan juga menciptakan solusi kemenangan bersama (win-win solution) antara investor dan start-up lokal. Salah satunya dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam dunia digital sehingga lebih mudah bersaing di tingkat global.

Rangsang kreativitas
Pengembangan kualitas SDM dapat dilakukan dengan belajar langsung kepada industri digital, baik nasional maupun internasional. Itu dilakukan Bubu Awards 2017 yang memfasilitasi para pemenang untuk mengikuti bootcamp di Silicon Valley dan Swedia selama seminggu pada Februari 2018.

“Kami ingin merangsang para pemain dunia digital secara kreatif mengembangkan kemampuan yang berpengaruh pada pola pikir setiap konsumen konten secara menyeluruh,” kata Shinta.

Penelitian yang dilakukan Bubu mengungkap peran Gen C dalam pengembangan industri digital di Indonesia. Gen C merupakan kelompok psikografis dengan pola konsumsi konten mereka yang berkarakteristik creation, curation, connection, dan community.

Presiden Direktur Indosat Ooredoo Alex­ander Rusli mengaku pihaknya selalu mendukung Gen C yang punya gaya hidup baru berupa selalu ingin tahu dan kreatif serta melahirkan berbagai ide terkait dengan teknologi dan digital.

Karena itu, IM3 Ooredoo membidik segmen milenial sekaligus Gen C, yakni mahasiswa Binus University International, akhir September lalu. Dengan aktivasi Digital Personal Branding Workshop yang kedua kali, General Manager Go to Market Java at Indosat Ooredoo Fidesia Noor berharap mereka dapat meningkatkan wawasan digital, baik secara pribadi maupun profesional, dan siap berkompetisi secara positif.

Pihaknya menyadari milenial merupakan salah satu generasi yang paling banyak me­ngonsumsi digital di berbagai belahan dunia dan mampu menciptakan berbagai peluang lebih baik berbasis inovasi. (S-4)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya