Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Bank Jateng tidak Mau Tergesa Melantai di Bursa

22/9/2017 08:05
Bank Jateng tidak Mau Tergesa Melantai di Bursa
(MI/AKHMAD SAFUAN)

BANK BPD Jawa Tengah (Bank Jateng) siap mencatatkan sahamnya di bursa. Apalagi mereka telah masuk listed setelah menerbitkan obligasi.

“Artinya kami sudah menjadi bagian dari publik. Dinilai secara langsung publik. Memang kami belum IPO (menawarkan saham ke publik), tetapi sudah listed karena sudah mengeluarkan obligasi subordinasi. Ini menjadi tanggung jawab kepada masyarakat,” ujar Direktur Utama Bank Jateng Supriyatno seusai menerima penghargaan laporan keuangan tahunan atau Annual Report Award 2017 untuk kategori BUMD listed, beberapa waktu lalu.

Di acara tersebut, Bank Jateng meraih juara kedua, di bawah PT BPD Jawa Barat dan Banten. Tahun lalu, mereka hanya menjadi juara ketiga.

Supriyatno mengatakan kemenangan tersebut menunjukkan keberhasilan bank atas upaya perbaikan, baik dalam hal kinerja finansial maupun tata kelola perusahaan.

Terkait dengan rencana untuk melantai di bursa, kata Supriyatno, pihaknya tidak mau terburu-buru.

“Pertimbangan exercise dari sisi manajemen, manusia, teknologi, dan proses bisnis harus kami tingkatkan. Selain itu, yang tak kalah penting dengan siapa, apakah kami IPO terbuka atau terbatas, sebelum IPO kami bersinergi bisnis dengan korporasi lainnya. Itu juga bisa. Sedang kami pertimbangkan,” ujarnya.

Langkah itu, kata dia, sebagai antisipasi bila setelah IPO penawaran saham tidak banyak peminat.

Menurut Supriyatno, banyaknya pemangku kepentingan dalam suatu BPD menjadi salah satu kendala mengapa rencana untuk melantai di bursa selalu tertunda.

Saat ini, kata dia, kepemilikan saham pemerintah provinsi sebesar 56%. Padahal syarat untuk menjadi BUMN harus 51%.

“Artinya ruang untuk publik memiliki saham hanya 5% dan itu tidak cukup memberi arti,” tegasnya.

Pertimbangan lainnya, kata Supriyatno, ialah kondisi ekonomi yang melambat.

“Ini juga menjadi pertimbangan. Jangan sampai setelah ikut IPO, masyarakat tidak begitu bergairah. Hal ini masuk corporate plan sampai 2020. Salah satu indikator corporate governance yang baik kan bila perusahaan terbuka,” tukas Supriyatno. (Try/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya