Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PENDANAAN infrastruktur melalui sekuritisasi aset terus berlanjut. Setelah Jasa Marga melakukan sekuritisasi aset jalan tol, giliran Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui anak usahanya, PT Indonesia Power, melakukan sekuritisasi aset guna membiayai pembangunan proyek kelistrikan.
Direktur Utama Indonesia Power Sripeni Inten Cahyani menyebutkan bahwa meraup pendanaan Rp4 triliun dari sekuritisasi efek beragun aset (EBA) dengan nama EBA Dana-reksa Indonesia Power PLN 1-Piutang Usaha (EBA DIPP1).0 Penerbitan EBA DIPP1 sebagai salah satu rencana strategis korporasi dalam melakukan sekuritisasi EBA hingga Rp10 triliun. Dana yang terkumpul nantinya turut menjadi modal pembangunan PLTU Suralaya unit 9 dan 10 masing-masing berkapasitas 1.000 Mw.
“Penawaran telah berlangsung mulai 4 hingga 11 September 2017. Hasil bookbuilding EBA DIPP1 mendapat sambut-an positif dari investor,” ujar Sripeni dalam pencatatan perdana EBA DIPP1 di Bursa Efek Jakarta, Rabu (20/9).
Permintaan yang masuk mengalami kelebihan (oversubscribed) sampai 2,7 kali dengan nilai mencapai Rp10,05 triliun. Keberhasilan itu, lanjutnya, tidak lepas dari dukungan PLN sebagai induk usaha, dan sinergi lndonesia Power dengan berbagai pihak seperti Danareksa Investment Management sebagai manajer investasi, Bank BRI sebagai bank kustodian, Danareksa Sekuritas sebagai lead arranger dan selling agent, serta selling agents Iainnya yakni Bahana Sekuritas, BNI Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan BCA Sekuritas.
“Dukungan OJK, BEI, dan para investor dari perusahaan perbankan BUMN maupun nasional, dana pensiun, asuransi, dan aset manajemen juga menjadikan EBA DIPP1 sebagai salah satu produk investasi yang diminati,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution menuturkan sekuritisasi aset bukanlah kebijakan baru. Ia mengapresiasi keberanian PLN melalui anak usahanya untuk melakukan sekuritisasi aset.
“Memang perlu keberanian dan kerelaan. Bayangkan ada aset sudah hasilkan banyak tiap bulan, tapi disekuritisasi sehingga harus berbagi dengan pihak lain, bukan kepemilikan, tapi uangnya. Namun, dari situ akan dapat uang di awal sehingga (Indonesia Power) bisa bangun pembangkit lagi,” ucap Darmin.
Ia berpandangan instrumen yang berada dalam ekosistem pasar modal masih perlu dikembangkan. Dengan instrumen dan aturan yang jelas, pihaknya optimistis kian banyak investor yang berminat terhadap sekuritisasi aset. Pihaknya juga mencermati limited concession scheme (LCS) sebagai skema pendanaan yang bisa digunakan untuk pembangunan proyek infrastruktur.
Kembangkan DIRE
Menteri BUMN Rini Soemarno mengimbau BUMN untuk memperluas strategi pencarian dana setelah memanfaatkan instrumen EBA. Instrumen lain yang berpotensi digunakan ialah dana investasi real estate (DIRE).
Pemerintah disebutnya sedang menyiapkan skema penggunaan instrumen pencarian dana melalui DIRE dengan menggunakan jaminan berupa sumber pendapatan dari pro-perti milik BUMN. Bank Mandiri dinilai paling potensial memanfaatkan instrumen DIRE setidaknya tahun ini melalui jaminan aset gedung.
“Kita mempersiapkan DIRE yang selama ini didorong pemerintah. Kalau DIRE ini kan menggunakan pendapatan dari fixed asset, jadi kita sedang mencoba properti yang dimiliki BUMN. Kemungkinan besar Bank Mandiri tahun ini,” ujar Rini.
Ia memberi sinyalemen adanya beberapa BUMN yang akan melakukan sekuritisasi aset tahun depan. (E-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved