Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Luhut Imbau SP-JICT tidak Bertindak Aneh-Aneh

ANT/Cahya Mulyana
03/8/2017 15:43
Luhut Imbau SP-JICT tidak Bertindak Aneh-Aneh
(Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan . ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengimbau Serikat Pekerja PT Jakarta International Container Terminal (SP-JICT) tidak bertindak aneh-aneh terkait dengan aksi mogok kerja, yang direncanakan berlangsung selama 1 minggu, dari Kamis (3/8) hari ini hingga Kamis (10/8).

Luhut ditemui seusai penganugerahaan gelar Perekayasa Utama Kehormatan di Jakarta, Kamis, mengatakan jika serikat pekerja ingin menyampaikan komplain atas hal yang tidak sesuai seharusnya dapat dikomunikasikan dengan baik.

Hal itu demi menjaga produktivitas perusahaan dalam melakukan pelayanan. "Saya ingin imbau, jangan aneh-anehlah. Kalau ada hal-hal yang tak benar, ya, diberi tahu. Akan tetapi, jangan buat produktivitas enggak bagus," katanya.

Ia bahkan meminta aparat keamanan untuk melihat jika ada pelanggaran yang terjadi dalam aksi. "Kalau perlu diproses hukum, ya, kami proses hukum. Jangan demo-demo yang enggak jelas itu. Demo itu kalau memang ada hak dia yang enggak dilakukan (diberikan). Di luar, misalnya UMR atau lainnya, ini 'kan tidak," ujarnya.

Luhut pun mengaku bingung dengan aksi yang dilakukan SP JICT. Pasalnya, penghasilan pegawai JICT untuk bagian operator saja mencapai sekitar Rp 36 juta per bulan. "Saya juga bingung. Gajinya nomor dua tertinggi di dunia, sebesar Rp36 juta atau berapa untuk operator di situ. Saya saja menteri gajinya cuma Rp19 juta. Aneh tuh. Katanya bonusnya kurang, saya enggak tahu. Ini akan dicek," tuturnya.

Menurut Kuasa Hukum PT JICT Purbadi Hardjoprajitno, aksi mogok kerja disebabkan karena bonus karyawan yang diterima pada tahun 2016 yang menurun 42,5 persen dibandingkan bonus pada tahun sebelumnya. Penurunan terjadi karena PBT (profit before tax) JICT menurun dari US$66,3 juta pada 2015 menjadi US$44,2 juta pada 2016.

Terpisah, Dirjen Perhubungan Laut, A. Tonny Budiono membantah adanya isu yang beredar bahwa Pelabuhan Tanjung Priok sepi akibat aksi mogok tersebut.

"Kegiatan operasional di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, tetap berjalan normal kendati ada aksi mogok kerja yang dilakukan oleh Serikat Pekerja. Tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan karena pemerintah telah mengalihkan pelayanan jasa ke pelabuhanan JICT ke terminal internasional lain yang juga berada di Pelabuhan Tanjung Priok," ujar Tonny Budiono, Kamis (3/8).

Tonny juga menjelaskan selama ada aksi mogok kerja, pihaknya telah menyiapkan Terminal Peti Kemas Koja, Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, New Port Container Terminal 1 (NPCT-1), dan Terminal MAL untuk membantu pelayanan jasa kepelabuhanan sehingga pelayanan bongkar muat tidak terganggu,” katanya.

Adapun sejak Rabu, 2/8 hingga Kamis 3/8 siang sebanyak 20 kapal sudah dialihkan bongkar muatnya ke terminal lain di Pelabuhan Tanjung Priok, yaitu di Terminal Koja 7 kapal, Terminal NPCT-1 6 kapal, Terminal 3 5 kapal, dan Terminal MAL 2 kapal.

“Hingga siang ini, seluruh kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok dapat terlayani dengan baik. Misalnya saja di terminal MAL saat ini tengah dilakukan kegiatan bongkar muat MV. Sinar Sangir, ada juga MV. Sinar Sumba, KM. Tasik Mas, MV. Hongkong Bridge, MV. Oosoo Aden dan MV. Deva di Terminal Peti Kemas Koja, serta MV. Hammonia Berolina dan MV. Kota Hadiah di Terminal NPCT-1,” jelasnya.

Tonny menyebutkan bahwa pelayanan jasa kepelabuhanan di Pelabuhan Tanjung Priok tetap berjalan sebagaimana mestinya. “Tentu kami berharap permasalahan ini dapat diselesaikan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku dengan tetap memastikan tidak adanya gangguan dalam pelayanan jasa kepelabuhanan,” tutupnya.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya