Senin 04 Juni 2018, 07:58 WIB

Pluviophile

Ronald Surapdradja | celoteh
Pluviophile

MI/Rommy Pujianto
Ronald Surapdradja

 

SORE hari saat menunggu waktu berbuka, bersantai di rumah membaca buku lalu hujan turun, saya membuka jendela. Ah nikmat sekali. Saya pluviophile, sebutan penyuka hujan dan merasakan kedamaian serta kebahagiaan di kala hujan turun. Bagi seorang pluviophile hujan tidak hanya dilihat, tetapi  juga rela jika hujan membasahi mereka.

Setiap ada hujan ingatan saya selalu kembali ke masa kecil yang indah. Bermain sepak bola di bawah hujan di lapangan yang becek, menghanyutkan perahu yang terbuat dari sandal bekas di kali kecil dekat rumah, atau hanya bermain cipratan air dengan teman. Kebahagiaan zaman dulu memang murah hehe.

Lain dulu lain sekarang. Bermain (di saat) hujan sekarang bisa disebut sesuatu yang mahal. Berapa banyak orangtua zaman sekarang yang membolehkan anak hujan-hujanan? Istri saya termasuk yang tidak membolehkan anak-anak hujan-hujanan, sementara saya malah sering menantang mereka untuk hujan-hujanan hehe.

Jika kita mau mengesampingkan dulu kekhawatiran, sebetulnya banyak manfaat bagi si anak yang bermain hujan. Yang pertama tentu saja menstimulasi sensor mereka karena merasakan perubahan kondisi tubuhnya dari hangat menjadi dingin. Kedua, meningkatkan kemampuan fisik dan motorik mereka karena biasanya tidak ada anak yang menikmati hujan dan hanya diam, pasti mereka bergerak. Ketiga, merangsang kreativitas dan imajinasi mereka dengan bermain di bawah hujan.

Namu, sebelum bermain hujan, ada beberapa hal yang harus diingat. Pastikan anak dalam keadaan sehat, hujan tidak terlampau deras, dan tidak disertai angin atau petir. Sebelum anak bermain hujan, juga sebaiknya perut anak terisi dan cukup istirahat. Durasi bermain hujan tak lebih dari 30 menit dan segera keringkan.

Ada kisah dari sahabat nabi, Anas bin Malik RA. Kami bersama Rasulullah SAW saat hujan turun. Lalu Rasulullah SAW menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya “Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan ini?  Beliau menjawab, “Karena ia baru saja datang dari Tuhannya Taala (HR Muslim).” Maknanya bahwa hujan ialah rahmat yang diciptakan Allah. Maka kita ambil keberkahannya.

Berdasarkan kisah inilah banyak sahabat nabi mengikuti jejaknya untuk ‘menikmati’ hujan seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Abbas yang diceritakan dalam berbagai kitab.

Jadi, ketika hujan turun, janganlah kita membencinya. Hakikatnya hujan sama seperti kita, makhluk-Nya. Jika keadaan memungkinkan, ajaklah anak kita berkenalan dengan makhluk lain Allah. Hujan ialah keberkahan, hujan ialah kesucian, hujan ialah keindahan. Darinya kita bisa belajar tentang kehidupan. Life isn’t about waiting for the storm to pass. It’s about learning to dance in the rain. (H-5)

Baca Juga

MI/ROMMY PUJIANTO

Maaf, Meminta atau Memberi?

👤Ronal Surapradja 🕔Senin 03 Juni 2019, 23:40 WIB
IDUL Fitri baru dirayakan besok. Akan tetapi, kiriman kartu dan pesan via gawai berisi ucapan selamat sekaligus permintaan maaf sudah...
MI/Adam

Damai dengan Puasa

👤Ronal Surapradja 🕔Senin 03 Juni 2019, 07:55 WIB
MENJELANG Hari Raya Idul Fitri masih saja ada api dalam sekam yang mengancam persatuan...
MI/ADAM DWI

Adu Domba

👤Ronal Surapradja 🕔Minggu 02 Juni 2019, 03:00 WIB
PEKAN ujian, saya menemani anak belajar sejarah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya