Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam dinamika hubungan modern, istilah bahasa Inggris sering kali diserap untuk menggambarkan karakter seseorang, salah satunya adalah kata friendly. Secara harfiah, kata ini berarti ramah atau bersahabat. Namun, friendly artinya dalam percintaan memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks dan sering kali menjadi sumber perdebatan antara pasangan. Apakah sikap tersebut murni kebaikan hati, atau justru sebuah indikasi ketidakmampuan seseorang dalam menjaga batasan perasaan?
Memahami konsep ini menjadi krusial karena banyak konflik dalam hubungan bermula dari kesalahpahaman mengenai sikap ramah yang berlebihan. Bagi sebagian orang, memiliki pasangan yang mudah bergaul adalah kebanggaan. Namun, bagi yang lain, sikap terlalu terbuka kepada lawan jenis bisa memicu rasa cemburu, insecurity, hingga anggapan bahwa pasangan tersebut sedang menebar harapan palsu kepada orang lain.
Ketika seseorang disebut friendly dalam konteks sosial umum, itu adalah pujian. Mereka dianggap supel, mudah beradaptasi, dan menyenangkan. Namun, dalam konteks romansa, label ini bisa bermata dua. Seseorang yang dikategorikan friendly dalam percintaan biasanya memiliki kecenderungan untuk memperlakukan semua orang—termasuk lawan jenis—dengan tingkat kehangatan yang sama, yang terkadang menyerupai perlakuan khusus layaknya kepada pasangan.
Karakteristik ini sering kali membuat orang lain salah paham (baper) karena merasa diperlakukan istimewa, padahal bagi si pelaku, itu hanyalah standar perilaku sosial mereka sehari-hari. Inilah yang kemudian memunculkan istilah "korban cowok/cewek friendly", di mana seseorang merasa diberi harapan, padahal tidak ada intensi romantis sama sekali.
Agar tidak terjebak dalam kesalahpahaman atau rasa cemburu buta, penting untuk mengenali karakteristik spesifik dari sikap ini. Berikut adalah beberapa ciri utamanya:
Salah satu tantangan terbesar dalam hubungan adalah membedakan apakah seseorang hanya bersikap ramah atau sedang melakukan pendekatan (flirting). Berikut adalah perbedaannya:
Sikap friendly bersifat inklusif; mereka ramah kepada semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda. Sedangkan flirting bersifat eksklusif; perhatian dan perlakuan manis hanya ditujukan kepada satu orang yang menjadi target ketertarikan.
Orang yang ramah melakukannya karena itu adalah sifat dasar mereka atau ingin membangun jejaring sosial yang baik. Sebaliknya, flirting memiliki tujuan spesifik, yaitu untuk membangun koneksi romantis atau seksual.
Jika seseorang bersikap manis kepada Anda tetapi juga melakukan hal yang sama persis kepada lima orang lainnya di ruangan yang sama, itu adalah tanda dia orang yang friendly. Namun, jika dia mengubah bahasa tubuh dan nada bicaranya menjadi lebih intim hanya saat bersama Anda, itu adalah flirting.
Pertanyaan ini sering muncul di benak banyak orang. Jawabannya tidak selalu hitam di atas putih. Menjadi ramah pada dasarnya adalah sifat positif. Namun, dalam hubungan berkomitmen, sikap friendly bisa berubah menjadi red flag jika:
Jika Anda menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki karakter ini, komunikasi adalah kunci utama. Anda tidak bisa serta-merta meminta mereka mengubah kepribadiannya, namun Anda bisa mendiskusikan batasan.
Langkah pertama adalah menyampaikan perasaan Anda menggunakan pernyataan "aku" (I statements), misalnya, "Aku merasa tidak nyaman ketika kamu terlalu sering membalas chat lawan jenis di malam hari." Hindari menuduh. Fokuslah pada bagaimana perilaku tersebut memengaruhi rasa aman dalam hubungan.
Selanjutnya, buatlah kesepakatan mengenai batasan (boundaries). Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan lawan jenis. Pasangan yang baik dan dewasa secara emosional akan mengerti bahwa menjaga perasaan pasangan jauh lebih penting daripada mempertahankan citra "orang asyik" di mata teman-teman lawan jenisnya.
Kesimpulannya, friendly artinya dalam percintaan adalah pedang bermata dua. Di satu sisi menunjukkan kecerdasan sosial, namun di sisi lain memerlukan manajemen batasan yang ketat agar tidak melukai hati pasangan. Kuncinya adalah transparansi dan saling menghormati komitmen yang telah dibangun bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved