Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam dinamika percintaan remaja hingga dewasa muda di Indonesia, istilah backstreet adalah sesuatu yang sangat familier. Sering kali digambarkan sebagai hubungan yang penuh tantangan dan adrenalin, backstreet sebenarnya memiliki makna yang lebih kompleks daripada sekadar menyembunyikan status pacaran. Fenomena ini melibatkan komitmen emosional yang tinggi di tengah keterbatasan sosial atau restu yang belum didapat.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu backstreet, mengapa banyak pasangan memilih jalan ini, serta risiko dan tantangan nyata yang harus dihadapi oleh mereka yang menjalaninya. Jika Anda sedang berada dalam situasi ini atau sekadar ingin memahami fenomena sosial tersebut, simak ulasan lengkap berikut ini.
Secara harfiah, kata backstreet berasal dari Bahasa Inggris yang berarti "jalan belakang" atau "gang sempit". Namun, dalam konteks bahasa gaul (slang) di Indonesia, backstreet adalah istilah yang merujuk pada hubungan asmara yang dijalani secara diam-diam atau rahasia. Pasangan yang melakukan backstreet sengaja menyembunyikan hubungan mereka dari pihak-pihak tertentu, seperti orang tua, keluarga besar, teman, atau bahkan lingkungan kerja.
Berbeda dengan perselingkuhan yang menyiratkan adanya pengkhianatan terhadap pasangan sah, backstreet biasanya dilakukan oleh dua orang lajang yang saling mencintai namun terhalang oleh faktor eksternal. Tujuan utamanya adalah menghindari konflik atau penolakan, sembari menunggu waktu yang tepat untuk mempublikasikan hubungan tersebut (go public).
Memutuskan untuk menjalani hubungan rahasia tentu bukan tanpa alasan. Keputusan ini sering kali diambil sebagai solusi sementara atas hambatan yang ada. Berikut adalah beberapa alasan paling umum mengapa seseorang memilih jalan backstreet:
Meskipun terdengar romantis seperti di film-film, realitas menjalani backstreet adalah hal yang melelahkan secara mental dan emosional. Berikut adalah risiko nyata yang harus diwaspadai:
Ketakutan akan ketahuan selalu menghantui setiap saat. Anda harus selalu waspada saat mengangkat telepon, membalas pesan, atau pergi berkencan. Rasa cemas ini, jika berlangsung lama, dapat memicu stres dan mempengaruhi kesehatan mental kedua belah pihak.
Pasangan backstreet tidak memiliki kebebasan untuk mengekspresikan kasih sayang di depan umum atau mengunjungi tempat-tempat populer di mana kenalan mungkin berada. Kencan sering kali terbatas pada tempat yang jauh, sepi, atau bahkan hanya bertemu secara virtual. Hal ini bisa memicu rasa bosan dan frustrasi.
Karena hubungan tidak diketahui orang lain, status "lajang" di mata publik sering kali mengundang orang lain untuk mendekati pasangan Anda. Hal ini bisa memicu rasa cemburu yang berlebihan dan rasa tidak aman (insecurity), karena Anda tidak bisa secara terbuka mengklaim pasangan Anda di hadapan orang lain.
Ketika terjadi masalah atau pertengkaran dalam hubungan, Anda tidak bisa dengan mudah bercerita atau meminta saran kepada teman atau keluarga karena hubungan tersebut sendiri adalah rahasia. Isolasi ini membuat beban masalah terasa lebih berat karena harus ditanggung sendiri.
Jika keadaan memaksa Anda untuk menjalani hubungan diam-diam, ada beberapa strategi yang perlu diterapkan agar hubungan tetap sehat dan tidak toxic:
Pada akhirnya, backstreet adalah sebuah fase ujian dalam hubungan asmara yang menuntut kedewasaan dan kesabaran ekstra. Meskipun bisa menjadi solusi sementara untuk menghindari konflik, hubungan ini tidak disarankan untuk dijalani dalam jangka waktu yang sangat lama tanpa adanya rencana masa depan yang jelas.
Kejujuran dan keberanian untuk menghadapi rintangan—baik itu restu orang tua maupun norma sosial—tetaplah menjadi kunci utama kebahagiaan jangka panjang. Jika hubungan backstreet yang Anda jalani mulai menggerogoti kesehatan mental dan kebahagiaan diri, mungkin sudah saatnya untuk mengevaluasi kembali kelanjutan hubungan tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved