Sabtu 21 Januari 2023, 08:05 WIB

Sukidi, Pendekar dari Harvard

Nirwansyah | Weekend
Sukidi, Pendekar dari Harvard

MI/Duta
Ilustrasi MI

 

SUKIDI. Bagi yang kurang familier dengan namanya, ia populer dan dikenal sebagai kolumnis dan penulis prolifik di berbagai media nasional pada tahun ‘90-an dan awal 2000-an. Wacana-wacana pemikiran yang digulirkannya dinilai out of the box, khususnya berkenaan dengan tema kerukunan antarumat beragama dan spiritualitas lintas agama.

Sebagai seorang intelektual muda Muhammadiyah yang aktif meluncurkan ide-ide segar nan bernas lewat tulisan-tulisannya, Sukidi berhasil meninggalkan jejak keterpesonaan intelektual sekaligus memikat banyak orang yang mungkin tak pernah ia bayangkan dalam perjalanan hidupnya.

Rekam jejak intelektualnya tersimpan dan terkenang dalam memori berbagai kalangan, dari akademisi, aktivis-aktivis muda, bahkan hingga pejabat dan tokoh publik. Ia kemudian tiba-tiba menghilang dan menyepi untuk melakukan tirakat keilmuan di Amerika.

Setelah melewati jalan panjang penuh onak duri, bertungkus lumus, dan berliku-liku yang berbilang tahun lamanya, pada September 2020 Sukidi muncul kembali di Tanah Air dengan membawa dua gelar master, yakni master of the art (M.A) dari Ohio University (2004) dan master of theological studies (M.T.S) dari Harvard Divinity School, Harvard University, (2006) serta gelar doctor of philosophy (Ph.D.) dari The Graduate School of Arts and Sciences, Harvard University (2019).

Kepulangan Sukidi disambut poisitif oleh publik. Hal itu dapat dilihat dari sejumlah tokoh lintas kalangan yang menuliskan apresiasi dan pujian intelektual kepada Sukidi, tanpa pernah diminta oleh editor buku ini, Kamil Alfi Arifin. Buku Sukidi: Inspirasi dan Api Pembaruan Islam dari Harvard ini diterbitkan oleh Gramedia.

Menurut Kamil, “Buku kecil ini merekam sambutan publik yang luas, tulus, dan genuine atas Sukidi. Tulus dan genuine, karena ditulis oleh inisiatif dan kesadaran penuh setiap penulisnya sendiri.”

Lewat berbagai tulisan dalam buku ini, kita dapat menyelisik lebih jauh sosok Sukidi beserta kisah-kisahnya yang dianggap tak lazim, juga rekam jejak intelektual sekaligus tawaran pembaruan Islam melalui tradisi yang digelorakan oleh ‘Pendekar dari Harvard’ itu.

Buku ini dibuka dengan komentar sejumlah tokoh, pejabat pemerintah, akademisi, wartawan, hingga warganet tentang Sukidi. Untuk menyebut sejumlah nama, di antaranya Buya Ahmad Syafii Maarif, Amin Abdullah, Lukman Hakim Saifuddin, Sandiaga Uno, Susi Pudjiastuti, Omi Komaria Madjid, Hajriyanto Y Thohari, Budiman Tanuredjo, Mun’im Sirry, dan Nono Anwar Makarim. Di bawah tajuk ‘Mereka Bicara tentang Sukidi’, secara sukarela mereka menuliskan tentang kesan, pengalaman, hingga harapan-harapan kepada Sukidi sepulang dari Harvard.

Nama Sukidi mulai menyeruak lagi, utamanya di media sosial setelah Ulil Abshar-Abdalla membagikan kabar kelulusan sahabatnya itu dari kampus bergengsi di dunia, Universitas Harvard, di laman Facebook pada 15 Mei 2019. Postingan tersebut kemudian viral di jagat maya. Sukidi berhasil meraih gelar doktor di bidang kajian Islam dengan mempertahankan disertasi yang berjudul The Gradual Qur’an: Views of Early Muslim Commentators (2019).

Ada tiga sarjana besar, sosok yang menjulang dalam kajian Islam di Amerika yang menguji disertasi Sukidi, yaitu William A Graham, Roy Mottahedeh, dan Ali Asani. Gus Ulil menulis, ‘Kawan saya yang berasal dari Sragen ini mempunyai gaya yang sangat njawani, sangat low profile, ndak mau kelihatan menonjol. Dan, ini terjadi dalam ujian disertasi yang ia jalani hari ini. Saking tak mau satu orang pun mengetahui peristiwa ini, Sukidi tak memberi tahu siapa pun bahwa dia akan menghadapi peristiwa terpenting dalam karier kesarjanaan seorang mahasiswa PhD. Dia tak memberi tahu siapa pun tentang ujian ini, termasuk istrinya sendiri’ (hlm 3-4).

Di sisi lain, Sukidi juga tak mengabarkan kelulusan tersebut kepada keluarganya di kampung. Hasil liputan wawancara wartawan Solopos Tri Rahayu dengan Sulastri (kakak Sukidi) semakin membuat kita geleng-geleng kepala.

‘Ya, adik kami tidak mengabari kami kalau sudah lolos doktor. Kami tahunya setelah viral di media sosial. Bapak dan Ibu pun belum diberi tahu. Anak perempuan saya yang sempat berkomunikasi dengan adik saya itu dan menanyakan hal itu. “Belum dikabari kok sudah tahu,” kata Sukidi saat ditanya anak saya’ (hlm 27).

Kendati heran dengan prinsip yang dipegang adiknya, Sulastri merasa senang dan bangga atas pencapaian Sukidi. Dengan mata berkaca-kaca, ia melanjutkan kisah si bungsu dari lima bersaudara itu. ‘Setelah dari IAIN sempat ke Oslo, Norwegia, tetapi hanya sekitar setahun. Saat itu adik saya sudah dikenal Menteri Agama Tarmizi Taher dan Menteri Penerangan Harmoko’ (hlm 27).

Sebagai seorang anak petani kecil dari Tanon, Sragen, Jawa Tengah, asa Sukidi terus menyala dalam rangka menyelami samudra keilmuan yang sangat dalam dan luas. Kondisi finansial tak meruntuhkan semangatnya untuk terus melangkah maju. Semasa di IAIN Jakarta, Sukidi membiayai kuliah dan hidupnya sehari-hari dari honor sebagai penulis lepas di koran, lokal maupun nasional.

Ia hanya sekali meminta uang kepada orangtuanya untuk membeli komputer. Sukidi, ujar Sulastri, kalau ingat peristiwa itu ikut menangis. Akhirnya, pada 2005 lalu, Bapak dan Ibu diminta untuk ibadah haji ke Tanah Suci (hlm 28).

Tak berhenti sampai di situ, di tengah perlombaan untuk menonjolkan diri di media sosial, Sukidi justru tidak memiliki ketertarikan sedikit pun pada media sosial. Hingga saat ini, ia tak punya akun media sosial—FB, Instagram, TikTok, Twitter, dan sejenisnya—sama sekali. Ia hanya menggunakan WhatsApp tanpa pernah memosting status.

Alasannya, ‘Saya takut riya’ (hlm xxxii). ‘Sebenarnya bukan saya takut pada medsos, tapi hanya tidak tertarik pada kehidupan medsos saja’ (hlm 42).

Kehadiran buku ini bukan sebatas pendokumentasian kesan yang pusparagam terhadap seorang Sukidi. Buku ini pun sebagai catatan riwayat seorang ‘Pendekar dari Harvard’ yang tidak hanya cerdas, bernas, dan kritis, tetapi juga rendah hati, zuhud, asketis, dan bersahaja dengan segumpal harapan agar tampil sebagai muazin baru bangsa untuk mengisi pos-pos kosong yang telah ditinggalkan oleh dua ‘Pendekar Chicago’, yakni Nurcholish Madjid dan Buya Syafii Maarif. (M-2)

 

Nirwansyah adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Kader IMM Ciputat; Aktivis Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB).

 

Judul: Sukidi: Inspirasi dan Api Pembaruan Islam dari Harvard

Editor: Kamil Alfi Arifin

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: 14 September 2022

Tebal: 236 halaman

Ukuran: 13,5x20 cm

ISBN : 978-602-06-6503-0

Baca Juga

FILIPPO MONTEFORTE / AFP

Para Arkeolog Berupaya Merekonstruksi Sebuah Jalan di Era Kekaisaran Romawi

👤Adiyanto 🕔Jumat 27 Januari 2023, 11:39 WIB
Mereka berharap jalan beraspal lebih dari 500 kilometer (310 mil) yang pembangunannya dimulai pada 312 SM itu, bisa menjadi Situs Warisan...
AFP

Sepertiga Kawasan Hutan Amazon Rusak karena Aktivitas Manusia

👤Adiyanto 🕔Jumat 27 Januari 2023, 10:44 WIB
Studi tersebut menemukan bahwa kebakaran, ekstraksi kayu, dan efek tepi telah mendegradasi setidaknya 5,5% dari semua hutan Amazon yang...
Antara

Manusia Ternyata Memiliki Elemen Bahasa yang Sama dengan Kera

👤Devi Harahap 🕔Jumat 27 Januari 2023, 09:18 WIB
"Tim peneliti cukup yakin sekarang bahwa nenek moyang kita telah memberi isyarat, dan ini dikooptasi ke dalam kemampuan bahasa yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya