Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
ANAK yang unggul memang menjadi kebanggaan. Namun tidak sedikit orangtua kemudian memberi anak begitu banyak les agar unggul di banyak bidang. Padahal saat ini, jadwal belajar di sekolah pun kerap sudah berlangsung hingga sore hari.
Hal tersebut membuat jadwal anak masa kini, khususnya di kota-kota, begitu padat. Kondisi ini nyatanya bukan hanya membuat anak kelelahan dan stress. Ronald Stolberg, Ph.D., seorang psikolog klinis berlisensi dan profesor di California School of Professional Psychology di Alliant International University, Amerika Serikat, mengungkapkan adanya sederet dampak buruk jadwal terlalu padat pada kepribadian dan kemampuan berpikir anak.
Dilansir dari situs Psychology Today, Sabtu (7/1), Stolberg mengungkapkan, bahkan sebelum menjadi stress, anak menjadi tidak terlatih mandiri untuk mengisi waktu mereka sendiri. “Mereka mengharapkan orangtua mereka untuk terus menyusun jadwal mereka,” katanya.
Di hari saat anak memiliki waktu luang, mereka justru menjadi bingung. Mereka mengeluh bosan kepada orangtua namun tidak dapat mencari aktivitas yang dapat menyenangkan atau menghibur diri mereka sendiri. Di mata orangtua, anak pun terlihat menjadi butuh perhatian sepanjang waktu.
Hal tersebut tentu disayangkan dan dikhawatirkan. Sebab, semestinya anak-anak juga memiliki kemampuan untuk menghabiskan waktu sendiri, misalnya dengan bermain sendiri.
Tentu saja, ada beberapa anak yang tidak suka istirahat atau beraktivitas sendiri. Namun anak yang kebingunan dengan waktu sendiri atau selalu bergantung pada orang dewasa untuk menyusun waktu mereka dapat menjadi sumber masalah.
Lebih jauh lagi Stolberg mengemukakan jika anak yang selalu bergantung pada orang dewasa untuk mengisi waktu mereka akan membuat mereka kehilangan kesempatan belajar membuat keputusan. Meski terdengar sepele, nyatanya, membiarkan anak memiliki waktu luang atau hari-hari yang tidak selalu terjadwal justru menjadi cara belajar awal untuk anak membuat keputusan.
Sebab, pengalaman itu akan membuat anak belajar untuk mengisi waktu sendiri dan mencari kegiatan. Selanjutnya, mereka bahkan bisa belajar untuk membagi waktu sendiri untuk belajar, bermain, bersantai, dan sebagainya.
Hari-hari yang tidak selalu terjadwal atau terstuktur juga membuat anak belajar adaptif. Mereka akan belajar bahwa kehidupan tidak mesti selalu serba terjadwal dan bisa saja ada perubahan mendadak. Anak dapat belajar mentolerir perubahan tak terduga dalam rencana mereka, yang dapat menjadi pelajaran berharga.
"Orangtua mereka bertanya-tanya mengapa mereka tidak mengambil lebih banyak tanggung jawab dan menjadi lebih mandiri. Jawabannya sederhana: mereka jarang memiliki kesempatan untuk berlatih melakukannya sendiri sebagai seorang anak," jelas Stolberg.
Jika Anda mengalami permasalahan serupa pada anak maka sudah saatnya berkaca pada diri sendiri. Jika nyatanya Anda memang menjadi orangtua yang memberi anak beragam kegiatan terjadwal maka saatnya menjadi lebih santai. (M-1)
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Dialah Saparinah Sadli, perempuan berusia 99 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang ilmu psikologi dan gerakan perempuan di Indonesia.
Talentlytica bersama Unit Usaha Akademik Unpad akan menggelar Workshop Pauli Reimagined pada 4 Oktober mendatang di Bandung, Jawa Barat
Penggunaan pacar AI di platform seperti Character.AI makin populer, tetapi pakar memperingatkan risikonya.
Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga ilmiah. Pelajari efek hormon ini saat jatuh cinta dan patah hati.
Orang tua disarankan lebih cermat menyiasati pemenuhan gizi anak di rumah, terutama bagi anak yang lebih menyukai susu dibandingkan makanan utama.
PUTRI Sheila Marcia, Leticia Charlotte Agraciana Joseph, sukses menorehkan prestasi gemilang dengan meraih gelar Juara Gadis Sampul 2025.
Dikenal lewat bukunya yang populer Bicara Itu Ada Seninya, Oh Su Hyang ternyata punya masa kecil yang jauh dari kata mudah.
Kegiatan menulis sebagai cara mengenali diri merupakan gerakan sosial yang berfokus pada pendampingan dan pemberdayaan remaja melalui kegiatan edukatif dan reflektif.
Lebih dari seribu orang tua mengikuti kelas edukasi parenting bertajuk Smart Parents Class yang digelar PT Moell Indonesia Sukses di Inews Tower, Jakarta, Sabtu (12/10)
DATA Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa peran orangtua dalam pendidikan dan pengasuhan anak masih sangat memprihatinkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved