Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
Setelah sukses dengan serial monolog Di Tepi Sejarah pada musim pertama, Titimangsa Foundation kembali meluncurkan Di Tepi Sejarah musim kedua, dengan mengangkat lima tokoh sejarah yang sosoknya kerap terlupakan.
Salah satu tokoh yang diangkat di musim kedua seri monolog tersebut adalah perempuan pelukis Indonesia Emiria Soenassa. Emiria ialah pelukis yang hidup pada periode 1895-1964. Ia, tergabung di Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) yang kala itu didominasi oleh para laki-laki.
Di luar dunia kanvas, Emiria juga merupakan sosok yang menjadi delegasi dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, pada 1949.
Dalam seri monolog Di Tepi Sejarah musim kedua, sosoknya diinterpretasikan dalam lakon Yang Tertinggal di Jakarta. Dira Sugandi, memerankan tokoh pelukis asal Indonesia bagian Timur tersebut.
Dalam proses penulisan naskahnya yang dilakukan novelis Felix K. Nessi, ia mengungkapkan minimnya sumber informasi mengenai sosok Emiria sempat menyulitkannya.
“Bukan hanya minim (sumber informasi), tetapi juga dari satu sumber dan yang lainnya itu berbeda-beda. Dan dari beberapa sumber informan yang saya temui, mereka yang sempat menjadi saksi hidup Emiria saat aktif melukis dan kini mereka masih ada, ingatannya pun sudah kabur. Saya pikir itu kesulitan yang cukup besar,” kata Felix tentang proses riset yang dijalaninya dalam menggali informasi tentang Emiria, saat konferensi pers di Creative Hall M Bloc, Jakarta Selatan, Senin, (15/8).
Felix pun bersama sang sutradara Sri Qadariatin dan produser Happy Salma dan Yulia Evina Bhara kemudian sepakat untuk memilih sumber yang bisa dipercaya. Ia mengeliminasi informasi yang tersebar dari mulut ke mulut. Terlebih jika kredibilitasnya tidak jelas.
“Dia perempuan hebat, pelukis yang saat itu pada zamannya amsih sedikit. Selain itu, dia juga dekat dengan para tokoh revolusioner. Dan bagi saya, memang sudah saatnya para pekerja budaya juga bisa disebut sebagai pahlawan bagi bangsa ini. Pahlawan itu kan bukan yang hanya pegang senjata, tetapi yang juga membentuk identitas bangsa kita,” lanjut penulis novel Orang-Orang Oetimu itu.
Sementara, bagi Dira yang menjajal pengalaman monolog untuk pertama kalinya, dalam prosesnya ia selalu memiliki ritual meditasi di tiap latihan. Baginya, itu sangat membantunya dalam menemukan fokus saat berproses dan upayanya menginterpretasi sosok Emiria.
“Saat saya mulai menjalani proses latihan, saya selalu meditasi untuk menghadirkan sosok Emiria. Sampai di panggung, sebelum tampil, saya selalu minta waktu meditasi di atas ranjang yang menjadi bagian dari properti, untuk menghadirkan Emiria. Sisanya, saya membaca. Dan berpegang dari teks yang ditulis Felix. Bahasanya memudahkan bagi saya yang bermain. Sutradara juga sangat membantu saya seperti mencontohkan interpretasi gestur, dan benar-benar membuat teks dan Emiria jadi hidup,” kata Dira.
Bagi Sri Qadariatin, ia melakukan pendekatan yang bukan cuma mengejar tampilan fisik. Emiria yang sebenarnya berambut panjang, dimainkan oleh Dira yang berambut pendek. Sri lebih ingin menghadirkan spirit Emiria dari dalam.
“Saya ingin membawa spirit Emiria pada hari ini, pada kita yang masih hidup sekarang ini. Dia sosok perempuan yang decisive. Memiliki karakter yang kuat. Dalam potret-potret lukisannya juga memiliki sosok yang bisa kita jumpai dalam sehari-hari, ketika masa itu lebih banyak muncul potret mooi indie,” ungkap Sri.
Setelah dipentaskan secara terbatas, pentas virtual monolog Yang Tertinggal di Jakarta akan tayang di kanal Youtube Budaya Saya dan di saluran Indonesiana.TV pada 31 Agustus. (M-2)
PERAYAAN Imlek kini tidak lagi sembunyi-sembunyi. Imlek bahkan sudah menjadi bagian dari perayaan hari besar dan tradisi budaya masyarakat Indonesia yang multipluralis.
BPIP bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Indonesia (P3SI) menyelenggarakan Seminar Nasional Sejarah Pancasila
Bonnie Triyana meresmikan pameran revolusi di Jakarta yang menghadirkan narasi baru sejarah kemerdekaan lewat karya seni dan perspektif kemanusiaan.
DI tengah pesatnya transformasi digital saat ini, pergeseran juga terjadi di ruang narasi sejarah. Kondisi tersebut membuat narasi sejarah bertransformasi di ruang digital.
Sutradara Aldo Swastia menyebut tidak ada patokan pasti dalam menentukan batas antara fakta dan fiksi yang harus dikembangkan terutama dalam film bertema sejarah atau kepahlawanan.
Penilaian terhadap Pak Harto harus dilakukan dengan pendekatan akademik yang berimbang,
Lisa Blackpink terlihat di Jakarta! Simak 3 tempat viral yang jadi sorotan netizen, termasuk Senayan City, Pacific Place, dan Hotel St. Regis.
Ketegasan yang tidak konsisten dapat merusak iklim investasi dan menimbulkan ketidakpastian dunia usaha.
Danantara menargetkan negosiasi utang proyek KCIC Whoosh dengan China selesai kuartal I-2026. Skema restrukturisasi disebut masih 50:50.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa segel tiga toko Tiffany & Co di Jakarta terkait dugaan penyelundupan dan praktik underinvoicing impor barang mewah.
EKOSISTEM olahraga di Jakarta disebut memiliki potensi untuk mendukung DKI sebagai salah satu destinasi sport tourism global. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan sinergi dan kolaborasi.
Pemprov DKI Jakarta memprediksi lonjakan kebutuhan pangan jelang Ramadan dan Idulfitri 2026, terutama telur ayam, daging, bawang merah, dan minyak goreng.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved