Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
MESKI berbeda, tidak sedikit orang yang menyamakan hiperaktif dengan autisme. Ini bisa terjadi karena memang penderita kedua gangguan itu sekilas tampak sama-sama sulit fokus atau sulit diajak berinteraksi.
Namun austisme dan hiperaktif sesungguhnya berbeda. Autism Spectrum Disorder (ASD) ialah gangguan pada perkembangan otak dan saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, bersosialisasi, berperilaku, dan belajar.
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan perkembangan pada anak sehingga membuat anak menjadi hiperaktif, kurang fokus, dan impulsif. Gejala-gejala tersebut dapat berpengaruh pada proses belajar anak hingga bersosialisasi.
Dokter spesialis anak dan konsultan saraf anak, dokter Arifianto, Sp.A (K) mengatakan bahwa ia cukup sering menjumpai anak-anak dengan ASD yang baru terdiagnosis pada usia cukup besar. Sebenarnya ASD dapat didiagnosis pada usia 12-18 bulan.
"Padahal, makin cepat diagnosis dipastikan, makin segera intervensi/terapi dapat dilakukan, dengan harapan makin baik hasilnya nanti," kata dokter Apin, demikian sapaannya, lewat akun instagram pribadinya @dokterapin.
Dokter Apin mengingatkan semua orangtua harus mampu untuk memantau perkembangan anaknya agar dapat segera mencari penanganan terbaik jika ditemukan gangguan perkembangan. Ia mengungkapkan bahwa ASD memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut.
1. Ganggungan komunikasi
Anak dapat mengalami kesulitan atau hilangnya minat berkomunikasi.
2. Gangguan interaksi sosial
Minat untuk berinteraksi sosial pun juga hilang atau alami kesulitan saat berinteraksi sosial.
3. Perilaku, minat, dan aktivitas terbatas, berulang dan stereotipik
Gerakan stereotipik ditandai dengan adanya suatu pola perilaku atau kebiasaan tertentu yang khas dan menjadi rutinitas. Contohnya seperti menjilat tangan, membenturkan kepala, dan lain sebagainya.
"Gejala awal dapat beragam, salah satu yang tersering adalah tidak adanya kontak mata ketika berbicara dengan orangtuanya, dan tidak terlihat "ngeh" ketika diajak bicara orang lain," kata dokter Apin.
Ia juga menambahkan bahwa sekitar 30% anak dengan ASD ternyata mengalami disabilitas intelektual. Terkait faktor risiko, dokter Apin menuturkan faktor risiko terbesar adalah faktor genetik. Faktor genetik tidak selalu diturunkan (inherited), jika tidak ada anggota keluarga mengalami hal yang sama, bisa saja terjadi mutasi/perubahan spontan pada genetik seseorang.
Berikut ringkasan perbedaan ASD dan ADHD:
1. ASD
- Sulit fokus karena kurang kepekaan terhadap lingkungan
- Hiperkativitas atau gerakannya bersifat rutin, ritmis, stereotipik
- Biasanya didapatlan gangguan keterlambatan bicara/bahasa.
2. ADHD
- Sulit fokus karena hiperkativitasnya.
- Gerakan penerita hiperkativitas tidak bersifat rutin, ritmis, maupun stereotipik.
- Tidak didapatkan gangguan keterlambatan bicara/bahasa.
Dokter Apin mengatakan apabila terdapat kecurigaan pada anak ke arah ASD, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis anak untuk dilakukan konsultasi, skrining, dan diagnosis. Selain itu, orangtua juga harus memberikan dukungan, mendampingi, dan stimulasi anak sesuai tahapan perkembangannya. (M-1)
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Selain AI, gim daring populer seperti Roblox dan Minecraft juga dinilai menghadirkan risiko karena anak-anak sering kali sulit membedakan antara dunia gim dan realitas.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Mengalihkan kebiasaan anak dari ketergantungan gawai ke aktivitas yang lebih produktif memerlukan pendekatan yang bersifat mengarahkan dan menginspirasi, bukan sekadar pelarangan.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024, sekitar 20,1% anak Indonesia berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah.
Bagi orangtua yang sibuk bekerja, meluangkan waktu singkat namun intensif jauh lebih bermanfaat bagi keterikatan emosional (emotional attachment) anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved