Minggu 16 Januari 2022, 05:15 WIB

Jufri : Korban Membantu Korban

NIKE AMELIA SARI | Weekend
Jufri  : Korban Membantu Korban

MI/SUMARYANTO BRONTO
Jufri salah seorang penyintas bencana

 

GEMPA Mamuju, Sulawesi Barat, dan sekitarnya yang terjadi pada 14 Januari 2021 masih meninggalkan pilu hingga kini. Dari gempa yang berkekuatan magnitudo (M) 5,9 itu terjadi gempa susulan yang lebih besar, yakni berkekuatan M 6,2 pada 15 Januari.

Korban meninggal akibat gempa dua hari itu mencapai 16 orang di Kabupaten Mamuju dan Majene. Gempa susulan pun terus terjadi hingga 18 Januari dan tercatat mencapai 31 kali gempa di dua kabupaten tersebut.

Jufri salah seorang penyintas bencana itu. Meski selamat, kesedihan terus membekas di dirinya dan istrinya karena mereka harus kehilangan satu dari lima anak.

Anak kedua mereka, Septia Arfani yang berusia 19 tahun, meninggal sebagai pahlawan keluarga. Gadis belia itu ditemukan dalam posisi memeluk sang bungsu, melindunginya dari reruntuhan bangunan.

Ketika hadir sebagai bintang tamu Kick Andy bertajuk Makna di Balik Cerita Duka yang tayang malam ini, Jufri membagi kisah pilu itu kepada Andy F Noya. Pria kelahiran Limbeng, 27 Januari 1977 itu masih ingat benar kejadian gempa tersebut.

Ia menuturkan, sebenarnya pada sore hari, ia sekeluarga sudah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena hujan luar biasa deras. Namun, menjelang magrib ia memutuskan mengajak keluarga kembali ke rumah.

Setelah salat berjemaah, mereka tetap berkumpul di ruang tamu bahkan tidur bersama di ruang itu. Jufri pun masih ingat jika almarhumah anaknya sempat mengingatkan kedua orangtuanya untuk kembali berdoa sebelum tidur karena ajal bisa menjemput kapan saja. Pukul dua dini hari, Jufri terbangun karena gempa dahsyat dan saat itulah ia melihat anak keduanya telah tertimbun reruntuhan.

"Perkiraan saya karena saya dalam keadaan tertidur pulas, mungkin pada saat guncangan itu almarhumah sempat bangun. Di samping adiknya itu dia peluk dalam posisi tengkurap saat dia tertimpa reruntuhan bangunan," tutur Jufri.

Kehilangan anak tercinta dan rumah sempat membuat Jufri dan istri patah arang. Namun, ia juga bersyukur dapat memiliki kekuatan bangkit dengan cepat. Hatinya pun terhibur karena anak sulungnya yang bersekolah pesantren di Nusa Tenggara Barat ikut memberi kekuatan. Melalui sambungan telepon, si sulung mengatakan Tuhan pasti sangat menyayangi adiknya hingga dipanggil terlebih dulu.

 

Menjadi relawan bencana

Jufri mengatakan, sekitar tiga hari berikutnya, ia telah memiliki tekad kuat untuk bangkit dan menolong sesama. "Dalam hati saya yang paling dalam, 'Ya, Allah, jika saya masih diberikan kesempatan, saya akan dengan sekuat tenaga dan hati yang ikhlas bagaimana bisa memberikan bantuan kepada saudara-saudara saya yang terdampak walaupun itu dengan tenaga atau pikiran yang bisa saya bantu'," ujarnya.

Ia tanpa pikir panjang menyambut tawaran menjadi relawan dari seorang anggota tim relawan Adventist Development & Relief Agency (ADRA) Indonesia, sebuah organisasi kemanusiaan global Gereja Masehi Advent Ketujuh. Jufri bersyukur karena kedua orangtuanya dan istrinya memberi restu saat dirinya pamit untuk menjadi relawan menolong korban di tempat lainnya.

Meskipun ADRA berafiliasi dengan gereja, Jufri mengaku tidak ada permasalahan terkait dengan agama yang dianutnya. Hal itu disebabkan organisasi tersebut bergerak murni pada misi kemanusiaan.

Dengan menjadi relawan, Jufri mengaku makin melihat kasih sayang Tuhan dan merasa bahagia dengan memberikan manfaat kepada orang lain. "Waktu kami menyalurkan shelter kit, terpal itu, saya sempat menangis terharu karena melihat ada ibu-ibu hamil, ada punya anak kecil yang tidur di bawah pohon cokelat yang kondisi waktu itu hujan terus. Dia menangis luar biasa terharu setelah diberi bantuan itu. Di situlah saya merasakan sesuatu rahmat Allah SWT, merasakan kebahagiaan yang luar biasa artinya saya masih bisa bermanfaat kepada sesama," tuturnya.

Dalam penghujung sesi perbincangan bersama Andy, Jufri menyemangati orang-orang yang masih berduka akan peristiwa buruk untuk tidak menyerah. Menurutnya, peristiwa buruk yang terjadi di dalam hidup diberikan Tuhan sesuai dengan kemampuan kita. Ia yakin, di balik cobaan akan ada hikmah yang luar biasa. (M-1)

Baca Juga

Dok. Penerbit Banana

Mereka-reka Lakon Hidup Ken Dedes

👤Pro/M-2 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 07:55 WIB
NAMA Ken Dedes mungkin sudah tak asing di telinga masyarakat...
Dok. Penerbit Baca

Perangkap di Toko Buku Kuno

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 07:50 WIB
Dalam novel ini, penulis juga menyelipkan beberapa pandangan kritis tentang hal yang ada di...
MI/Nike Amelia Sari

Ragam Kopi Nusantara di Lapangan Banteng

👤Nike Amelia Sari 🕔Jumat 24 Juni 2022, 23:15 WIB
Ajang Indonesia premium coffee expo ini akan berlangsung hingga Minggu...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya