Minggu 07 November 2021, 05:05 WIB

Ritual Siraman Kiai Bonto

HENRI NURCAHYO | Weekend
Ritual Siraman Kiai Bonto

DOK HENRI NURCAHYO/Berebut tumpeng robyong

 

RITUAL Siraman Kiai Bonto ialah sebuah upacara tradisional di Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Ritual itu berupa memandikan (siraman) tiga wayang kerucil yang salah satunya dinamakan Mbah Bonto atau Kiai Bonto.

Tradisi itu terbilang unik karena siraman (kadang disebut jamasan) biasanya dilakukan terhadap pusaka berupa keris, tombak, atau benda-benda pusaka lainnya. Atau bisa juga memandikan sebuah gong sebagaimana Siraman Kiai Pradah di Lodaya, yang juga di Blitar.

Konon Siraman Kiai Bonto dilakukan karena sekian ratus tahun yang lalu salah seorang raja dari Mataram bernama Sunan Prabu Amangkurat III atau Raden Mas Sutikna meninggalkan sekotak wayang kerucil di sebuah tempat yang kemudian dinamakan Dusun Pakel. Di situlah Sunan Prabu kehilangan putri terkasihnya yang meninggal dunia hanya beberapa saat setelah dilahirkan. Maka, ziarah ke makam Raden Ayu Suwartiningsih itulah yang kemudian juga menjadi bagian dari tradisi Siraman Kiai Bonto yang hingga sekarang masih dilestarikan masyarakat setempat. Meskipun ada jeda puluhan tahun lantaran sejak 1948 hingga 1984, ritual ini sempat vakum.

Pada awalnya prosesi siraman tidaklah sebesar seperti sekarang. Semula hanya menggunakan kembang boreh yang ditempatkan di dalam tempurung kelapa dengan diikuti pergelaran jidor yang dipimpin salah satu abdi Sunan Prabu. Ritual diselenggarakan di sebuah oro-oro di dekat makam Raden Ayu Suwartiningsih dan cukup dilakukan di atas selembar tikar yang dihamparkan di tanah.

Kembang boreh ialah kembang telon yang diberi boreh (semacam param). Kembang telon terdiri atas tiga (telu, Jw) jenis kembang, yaitu kenongo, melati, dan mawar.

Sekarang ritual siraman itu dikemas dua hari dua malam, dimeriahkan pasar rakyat, tarian anak, campursari, kesenian jidor, jaranan, wayang kulit, serta dilakukan prosesi (arak-arakan) dari rumah penyimpanan wayang kerucil menuju lokasi siraman.

Pada malam yang sama, di rumah mantan kamituwo (kepala dusun), Musiman di perkampungan Dusun Pakel, dilakukan tirakatan (tidak tidur) semalam suntuk.

 

Hari kedua, pagi hari, pria berusia 77 tahun itu mempersiapkan perlengkapan khusus di rumahnya, yaitu ambengan (seperangkat nasi beserta lauk pauk yang menyerupai gunungan). Ambengan ini disebut hajat dalem diwujudkan salah satu rangkaian wilujengan atau selametan.

Ambengan terdiri atas jenang sepuh dan jenang abang, jenang sengkolo, golong, bucengan, ambeng besar, lauk pauk, lodo sego gureh, panggang, mule metri, dan pisang raja. Ambengan yang dipersiapkan untuk upacara siraman ini terdiri atas dua, yaitu ambengan yang dibuat panitia dan yang dibuat masyarakat Desa Kebonsari yang dikoordinasi tiap-tiap kepala dusun. Dua ambengan ini dijadikan satu digunakan untuk selametan pada saat upacara penutupan.

Setelah semua ubarampe siap, juru kunci Musiman mengeluarkan kotak wayang kerucil dari almari, dilakukan ritual membakar dupa, kemudian kotak itu digendong dengan selendang, lalu diarak menuju tempat siraman sejauh kurang lebih satu kilometer. Prosesi itu dimulai sekitar pukul 09.00, berjalan perlahan dengan pengawalan petugas kepolisian.

Rombongan langsung memasuki bangunan makam Raden Ayu Suwartiningsih. Kemudian, dilakukan berbagai ritual, seperti ziarah, pembakaran dupa, dan pembacaan doa-doa. Beberapa orang menyebar bunga tabur ke makam. Ritual (sesuguh) di permakaman ini dikandung maksud untuk memohon restu kepada almarhumah bahwa akan dilakukan siraman Mbah Bonto.

Tahapan berikutnya, rombongan keluar dari permakaman menuju lokasi siraman. Musiman yang menggendong kotak berisi wayang kerucil tetap berada di barisan paling depan, dilindungi dengan payung songsong (payung yang bertongkat panjang). Mereka lantas menaiki tangga menuju peringgitan, tempat dilakukannya ritual siraman. Sementara itu, masyarakat menyemut di bawah mengerumuni peringgitan menunggu air bekas siraman.

Setelah dikomando pembawa acara, tumpeng besar yang berada di bawah dijadikan rebutan oleh masyarakat. Mereka berebut aneka sayuran dan makanan yang ditempelkan di tumpeng tersebut. Gunungan hasil bumi yang dibagikan, habis sekejap oleh ribuan pengunjung.

Setelah dilakukan pembacaan sejarah terjadinya Ritual Siraman Mbah Bonto, acara diawali dengan lantunan doa, membuka kotak, mengeluarkan Kiai Bonto dan membuka bungkusnya berupa kain putih, dan mencampurkan bunga tabur dengan tepung sehingga menjadi kembang boreh. Upacara siraman wayang kerucil Kiai Bonto menggunakan tiga buah bokor yang diisi dengan kembang boreh. Satu bokor khusus untuk nyirami Kiai Bonto dan dua bokor yang lain dimasukkan ke gentong yang sudah diisi air.

Satu persatu wayang kerucil dikeluarkan, ditaburi dengan kembang boreh tanpa air oleh Mbah Musiman, kepala desa, dan beberapa anggota rombongan. Hanya saja, pada waktu penyebaran bunga kepada pengunjung menggunakan air yang sudah disediakan.

 

Proses siraman 

 

Proses menyirami wayang ini dimulai dengan membuka kotak hitam oleh Kepala Desa Kebonsari. Yang disiram pertama kali ialah wayang kerucil Kiai Bonto, kemudian diikuti dua wayang yang lain. Menurut Musiman, dua wayang tersebut tidak diberi nama karena hanya untuk menemani wayang kerucil Kiai Bonto di alam gaib. Setelah dicuci, kemudian diangkat agar diketahui penonton di bawah.

Setelah selesai siraman, bunga bekas siraman Kiai Bonto tadi dijadikan satu dimasukkan ke gentong yang sudah bercampur dengan air. Bunga yang sudah dicampur air tadi dibagi-bagikan kepada seluruh pengunjung dengan cara sirat-siratan.

Puncak acara yang ditunggu-tunggu ialah mengguyurkan air bekas siraman itu ke arah penonton di bawah yang dengan sukaria menyambutnya dengan badan basah kuyup. Sebagian menitipkan botol-botol plastik untuk diisi dengan air tersebut, dibawa pulang, dan dipergunakan untuk berbagai keperluan. Mereka yang ngalap berkah dari air bekas siraman itu percaya dapat menyembuhkan penyakit, bisa mendatangkan rezeki, bisa awet muda, atau segera mendapatkan jodoh bagi yang masih bujangan. Bahkan, ada juga yang percaya dapat menyuburkan tanaman serta mencegah tanaman dari penyakit atau hama.

Acara ritual siraman secara formal sudah selesai, tapi keramaian masih terus berlangsung hingga dipungkasi pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Ada banyak sakralitas yang melekat di dalamnya, mulai keberadaan wayang kerucil, tata cara penyimpanannya, perlengkapan ritualnya, prosesinya, khasiat kembang boreh, hingga air bekas siramannya. Meskipun bisa jadi dianggap tidak masuk akal, tidak akan berani ada orang yang terang-terangan melanggarnya.

 

 

 

Baca Juga

Dok. Instagram @festivaldecannes/ M.Parey

Sutradara Park Chan-wook Bawa Kisah Romansa Detektif di Festival Cannes 2022

👤Fathurrozak 🕔Selasa 24 Mei 2022, 22:20 WIB
Chan-wook yang pernah menang di Cannes 2004, kali ini membawa film Decision to...
MI/Retno Hemawati

Modena Kitchen Solutions Tawarkan Solusi Satu Pintu Wujudkan Dapur Impian

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 24 Mei 2022, 20:51 WIB
Selain Modena Kitchen Solutions yang terletak di MEC Kemang, terdapat juga Prive, sister brand dari Modena untuk menyempurnakan ide...
123RF/belchonock

Ilmuwan Temukan Cara Perkaya Vitamin D Pada Tomat

👤Putri Rosmalia 🕔Selasa 24 Mei 2022, 16:03 WIB
Hal itu dilakukan karena tidak banyak bahan makanan yang mengandung Vitamin D. Yang adapun kadarnya relatif...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya