Minggu 04 Juli 2021, 04:25 WIB

Bertahan Hidup

Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend
Bertahan Hidup

MI.Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

Jakarta lengang. Tapi kali ini bukan ditinggal penghuninya liburan atau mudik Lebaran, melainkan ada penyekatan di sejumlah ruas jalan. Dengan diterapkannya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Jawa-Bali mulai kemarin, setidaknya kita tidak lagi melihat banyak kendaraan, baik yang dibeli tunai maupun kredit, terjebak antrean di jalan-jalan utama Ibu Kota, kecuali angsurannya yang mungkin agak sedikit tersendat. Kurir dan pengemudi ojek online sesekali memang masih berseliweran mengantar jemput orderan. Begitu juga ambulans yang wira-wiri seperti mengabarkan kematian.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bilang Jakarta dalam keadaan gawat. Pandemi covid-19, terutama dengan batalion khusus Delta Force-nya alias varian delta yang dalam dua bulan terakhir mengamuk, telah membuat sejumlah rumah sakit kewalahan. Pada Jumat (2/7), DKI Jakarta menyumbang 9.399 orang dari total mereka yang terpapar pada hari itu yang sebanyak 25.830 dengan tambahan jumlah kematian sebanyak 539 orang. Jika lengah, bukan tidak mungkin berikutnya kita yang jadi korban. Makanya, lebih baik diam di rumah dan bergabunglah dengan kaum rebahan. Jangan bikin repot tenaga kesehatan yang sedang bergerilya kewalahan.

Tentu saja tidak semua orang mampu terus berdiam di rumah memanfaatkan pembatasan sementara ini untuk bersantai. Ada sebagian yang masih harus bekerja di luar rumah, sedangkan banyak lainnya bekerja dari rumah, mencoba melakukan pekerjaan rutin mereka di bawah kondisi krisis finansial dan tekanan psikologis. Ini juga harus dipikirkan pemerintah dan para pemilik perusahaan, selain tentunya memberikan bantuan sosial kepada mereka yang terdampak. Pastikan pula bantuan itu tepat sasaran, jangan lagi dikorupsi.

Selain harus tegas dan konsisten, penerapan kebijakan PPKM darurat juga harus terukur. Terukur artinya tetap mempertimbangkan orang-orang yang terpaksa harus berjuang mencari nafkah di jalan seperti kurir dan pengemudi ojek atau taksi online. Penerapan protokol kesehatan tentu wajib, tapi janganlah pekerjaan mereka dipersulit, misalnya dengan disuruh mencari jalan berputar-putar, apalagi sampai dimintai orang rokok. Keterlaluan itu namanya.

Pandemi yang telah berlangsung lebih dari setahun ini, tidak hanya menggerogoti kesehatan, tapi juga membuat rapuh ekonomi. Pengusaha kecil dan menengah (UMKM) banyak yang bertumbangan. Nasib mereka tentu juga harus dipikirkan, misalnya dengan memberi keringanan pajak atau kelonggaran angsuran pinjaman. Untuk mereka yang mampu secara finansial dan akses mungkin bisa membantu membeli atau memasarkan produk para pengusaha kecil ini.

Dalam memerangi pandemi ini yang paling dibutuhkan ialah solidaritas. Tahun lalu kita melihat bagaimana warga New York, Roma, dan Madrid, memberi semangat kepada pekerja medis meski dengan hanya bertepuk tangan. Solidaritas dan kesetiakawanan sosial bisa diwujudkan lewat berbagai cara, baik di dunia maya maupun nyata. Di lingkup rukun tetangga, misalnya, sesama warga harus memastikan bahwa yang paling rentan, lansia, dan yang kurang mampu mendapat dukungan dan perawatan.

Jakarta bukan Moskow, Kopenhagen, atau London. Biarlah mereka kini pesta pora dengan hajatan Piala Eropa dan bersiap menghadapi ancaman gelombang pandemi ketiga. Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia, jangan sampai seperti mereka. Negara ini harus belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Jangan lagi meng­ulang kesalahan dan kelalaian yang sama. Di kota yang kini sunyi dan banyak penyekatan di sana-sini, yang kita butuhkan hanya satu, yakni peta bertahan hidup dan selanjutnya mengarahkan kompas kita ke arah yang lebih baik. Semoga!

Baca Juga

Dok. Buku Mojok

Susah Senang Jadi Katolik

👤Pro/M-2 🕔Sabtu 18 September 2021, 06:35 WIB
TERLAHIR sebagai bagian kelompok minoritas amat mungkin menghadirkan kesan tersendiri bagi yang...
Dok. Bentang Pustaka

Meraih Bahagia tanpa Melakukan Apa-Apa

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 18 September 2021, 06:30 WIB
Menurut si penulis, mempraktikkan niksen bukan berarti kita egois, bermalas-malasan. Sebaliknya, kita mungkin saja justru memberikan...
123RF

Dari Sayembara Cerpen sampai Lelang Puisi, Media Indonesia Gelar Festival Bahasa dan Sastra

👤Fathurrozak 🕔Jumat 17 September 2021, 22:54 WIB
Festival ini diharapkan jadi medium untuk merefleksikan penggunaan bahasa...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Ramai-Ramai Abai Laporkan Kekayaan

KPK mengungkap kepatuhan para pejabat membuat LHKPN tahun ini bermasalah. Akurasinya juga diduga meragukan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya