Minggu 16 Mei 2021, 05:25 WIB

Maengket Makamberu antara Tradisi dan Religi

Jultje Aneke Rattu | Weekend
Maengket Makamberu antara Tradisi dan Religi

Pentas tari Maengket di Gedung Kesenian Jakarta, beberapa waktu lalu./ANTARA/FANNY OCTAVIANUS

SELAIN sebagai nama etnik, Minahasa juga dikenal sebagai nama kabupaten yang sekarang merupakan salah satu wilayah di Provinsi Sulawesi Utara. Walaupun wilayahnya kian menyusut, lingkup tradisi etnik ini tetap bertahan. Saat ini, orang beretnik Minahasa sering menyebut diri mereka Tou Minahasa. Walaupun sudah tersebar dan tinggal di berbagai wilayah, mereka tetap menjaga dan merawat tradisinya.

Tradisi etnik Minahasa yang diwa­riskan secara lisan sangat beragam, termasuk yang berbentuk kegiatan yang sengaja/tidak sengaja untuk ditonton. Ada yang berbentuk sastra, baik puisi maupun prosa; tari, baik tradisional maupun imbasan; dan musik, baik vokal maupun instrumental. Ada juga yang menggabungkan bentuk sastra, tari, dan musik secara bersamaan, yang selanjutnya disebut pergelaran.

Dari bentuk pergelaran yang menggabungkan ketiga bentuk kegiatan itu, masih banyak yang mengandung musik yang beratmosfer khas etnik Minahasa. Beberapa di antaranya pergelaran yang berisi syair yang dilantunkan sambil menari, seperti Maengket, Mahambak, Selendang Biru, dan Tari Jajar. Namun, pergelaran Maengket dianggap yang paling kuat menggambarkan budaya etnik Minahasa.

Maengket terdiri atas tiga babak, yaitu Makamberu tentang pemetikan padi, Marambak tentang pengujian rumah, dan Lalaya’en tentang pencarian pasangan. Pergelarannya sering ditampilkan untuk memperkenalkan etnik Minahasa. Walaupun bentuknya berubah, kekhasan etniknya tetap terasa. Dari ketiga babak tersebut, Maengket Makamberu yang paling sering dipergelarkan. Maengket Makamberu umumnya dipergelarkan dalam beberapa kelompok, khususnya kelompok masyarakat, pemerintah, dan jemaat.

Komunitas religi


Kelompok masyarakat terbentuk dengan komunitas dari subetnik sama, yaitu Tombulu, Tontemboan, Tondano, dan Tonsea sebagai subetnik besar. Dalam kelompok itu, pergelaran Maengket Makamberu ditampilkan seorang pemimpin (biasanya perempuan), satu sampai lima pemusik, dan 12 pasang penyanyi/penari. Pergelaran tersebut dijadikan sebagai hiburan sosial pada acara ulang tahun, peringatan pernikahan, pertemuan warga, dan lainnya.

Kelompok pemerintah terbentuk dengan komunitas dari daerah yang sama, yaitu Minahasa, Tomohon, Manado, dan Bitung sebagai daerah otonom besar. Sementara itu, pada kelompok jemaat terbentuk dengan komunitas religi/agama yang sama, yaitu Kristen dan Katolik sebagai religi/agama yang besar dari etnik Minahasa. Dalam kelompok jemaat Kristen, pergelaran Maengket Makamberu yang ditampilkan sama dengan yang dalam kelompok masyarakat dan pemerintah. Dalam kelompok jemaat Katolik, pergelaran ditampilkan seorang pemimpin, tiga pembawa persembahan, tiga pemusik, dan enam pasang penyanyi/penari.

Pergelaran Maengket Makamberu yang ditampilkan pada kesempatan umum dalam kelompok masyarakat, pemerintah, dan jemaat Kristen terlihat sama. Pergelaran tersebut terdiri atas unsur verbal (lantunan), unsur nonverbal (tarian), dan unsur material (perlengkapan). Bentuk pergelaran yang ditampilkan sebagai doa pembukaan tersebut disesuaikan dengan konteksnya, yaitu budaya, sosial, situasi, dan ideologi religi Kristen

Pergelaran Maengket Makamberu yang ditampilkan pada kesempatan khusus dalam kelompok jemaat religi Katolik memiliki bentuk yang cukup berbeda. Pergelaran tersebut terdiri atas unsur verbal (lantunan), unsur nonverbal (tari­an), dan unsur material (perlengkapan) yang sering kali ditampilkan secara khusus. Bentuk pergelaran yang ditampilkan sebagai pengiring persembahan disesuaikan dengan konteksnya, yaitu budaya, sosial, situasi, dan ideologi religi Katolik.

Pergelaran Maengket Imbasan pada kesempatan khusus ditampilkan sebagai upacara religi pada kelompok pemerintah dengan konteks religi Kristen. Pergelaran tersebut terdiri atas unsur verbal (lantun­an), unsur nonverbal (tarian), dan unsur material (perlengkapan) yang sering kali ditampilkan secara khusus. Bentuk pergelaran yang ditampilkan sebagai pelengkap Firman Tuhan disesuaikan dengan konteksnya, yaitu budaya, sosial, situasi, dan ideologi religi Kristen.

Dari pengamatan pada kedua kesempatan dalam kelompok rohaniwan, terlihat bahwa ada unsur yang sama dalam pergelaran Maengket Makamberu. Pertama, pergelaran tersebut ditampilkan kembali sebagai bentuk upacara religi, baik yang berkonteks religi Kristen maupun yang berkonteks religi Katolik. Kedua, pergelaran tersebut tetap dilakukan dengan pimpinan seorang perempuan, baik dalam keseluruhan pergelarannya maupun hanya dalam lantunannya. Bentuk yang bertahan itu merupakan kekhasan Minahasa dalam pergelarannya.

Peran perempuan


Dalam periode sejarah, Maengket dipergelarkan sebagai tradisi yang diturunkan secara lisan dalam masyarakat. Pergelaran tersebut dijadikan sebagai bagian dari upacara religi sehingga nilai keagamaan sangat kuat. Pada periode abad ke-11 sampai abad ke-20, Maengket masih tetap dipergelarkan sebagai bagian dari upacara religi suku. Walaupun demikian, bentuk upacara religi tersebut sempat tertekan beberapa faktor pada akhir abad ke-19 yang memuncak pada abad ke-20.

Namun, pada periode awal abad ke-21 ini di Minahasa, Maengket Makamberu sebagai bagian dari upacara religi dipergelarkan kembali. Pergelarannya dijadikan sebagai upacara religi dalam ibadah Kristen dan Katolik yang dianut mayoritas masyarakat etnik Minahasa. Selain sebagai bentuk upacara religi, bentuk pertunjukan seni (tradisional dan imbasan) masih tetap dipergelarkan juga. Namun, bentuk pergelarannya berbeda sesuai dengan konteks yang melatarinya.

Sesuai dengan perkembangan yang dipaparkan tersebut, terlihat bahwa nilai religi dan kepemimpinan perempuan tetap bertahan sampai saat ini. (M-4)

Baca Juga

AFP

Duh, Habitat dan Populasi Gajah Afrika kian Terancam

👤Galih Agus Saputra 🕔Senin 21 Juni 2021, 07:10 WIB
Para ilmuwan sementara ini menduga gajah-gajah itu mati karena pemanasan global, yang kemudian membuat ganggang beracun bermekaran di...
 Adem ALTAN / AFP

Turki Bakal Luncurkan Misi ke Bulan

👤Galih Agus Saputra 🕔Senin 21 Juni 2021, 06:20 WIB
Jika uji coba berhasil, sebuah wahana penjelajah bulan (Lunar Rover) selanjutnya akan dikirim pada 2028 atau...
Dok. Pribadi

Belum Potensial

👤Meirisa Isnaeni Staf Bahasa Media Indonesia 🕔Minggu 20 Juni 2021, 06:30 WIB
Hendaknya kita cermat dalam pemilihan diksi. Dengan diksi, pesan yang disampaikan akan mudah dipahami dan tidak akan terjadi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Jangan Gagap Lindungi Nasabah di Era Digital

ERA pandemi covid-19 berdampak pada berpindahnya aktivitas masyarakat di area digital.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya