Selasa 02 Maret 2021, 10:05 WIB

Deretan Bangunan Kuno ini Disulap jadi Hotel Butik yang Cantik

Adiyanto | Weekend
Deretan Bangunan Kuno ini Disulap jadi Hotel Butik yang Cantik

MOHAMMED MAHJOUB / AFP
Turis berswafoto di kawasan wisata desa Misfat al-Abriyeen, Oman.

Di sebuah desa di Oman, tepatnya Desa Misfat al-Abriyeen, sebagian penduduknya sejak berabad-abad silam biasa membangun rumah dari batu bata bercampur lumpur dengan atap pelepah daun lontar. Namun, rumah-rumah yang terletak di atas bukit itu, telah lama terbengkalai ditinggal penghuninya lantaran takut roboh.

Namun, pada 2010, pemukiman itu disulap jadi kawasan wisata dengan deretan hotel butik yang dibangun di bekas rumah-rumah kuno  tersebut.

Kondisi jalan sempit di desa dengan 800 penduduk yang terletak di lereng gunung itu, telah direnovasi agar orang asing dan penduduk lokal bisa menikmati mencari petualangan di gurun dan sudut hijau negara kesultanan itu.

Penduduk desa Yacoub al-Abri mengatakan semuanya dimulai pada 2010 ketika pamannya menyarankan agar mereka melihat lagi rumah-rumah lumpur yang telah terbengkalai selama bertahun-tahun di pemukiman kuno, sekitar tiga jam perjalanan dari ibu kota Muscat.

“Idenya adalah untuk menggabungkan lingkungan sederhana dan alami dari kehidupan kuno Oman dengan sentuhan modern yang memberikan kenyamanan dan keamanan," kata Abri kepada AFP.

Rumah berdinding krem, terbuat dari batu bata lumpur dengan atap pelepah lontar itu, diubah menjadi penginapan sederhana namun elegan dilengkapi dengan kayu dan tekstil tradisional.

Lima tahun setelah ide itu dilontarkan, hotel butik pertama keluarga itu mulai berdiri dan menginspirasi penduduk lainnya di desa itu untuk mengikuti jejak mereka.

“Kami mulai dengan lima kamar saja, lalu kami tambah jumlahnya dan beli rumah-rumah tua lainnya. Saat ini kami punya 15 kamar dan ada rencana menambah hingga mencapai 50 kamar,” kata Abri.

Cerita jin

Desa Misfat al-Abriyeen memiliki faktor yang bagus untuk jadi area wisata. Berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter (3.300 kaki), desa kecil yang merupakan rumah bagi suku Abri ini, memiliki sejumlah rumah tradisional yang menawan. Rumah-rumah itu terletak di sepanjang puluhan gang kecil yang menghadap ke daratan yang dipenuhi tanaman pisang dan pohon jeruk serta palem.

Desa ini adalah bagian dari wilayah yang dikenal sebagai ‘Grand Canyon of Oman’, di mana wisatawan dapat mendaki gunung dan lembah berbatu, serta menjelajahi budaya masyarakat setempat.

Selama berabad-abad, wilayah ini juga terkenal dengan cerita tentang jin atau roh dalam bentuk manusia, yang menjadi urban legend di negara ini. “Tinggal di sini seperti perjalanan menuju dunia yang tenang dan damai. Bahkan, makanan yang disediakan di sini dimasak di rumah-rumah oleh penduduk desa,” tutur Abri.

Menurut salah seorang pemilik hotel, pada 2019 lalu, sekitar 5 ribu turis dari Jerman, Prancis, dan negara dari kawasan teluk lainnya, tinggal di butiknya. Menurutnya, selama periode itu tingkat hunian tahunan rata-rata mencapai 90%, meningkat jika dibandngkan pada 2015 yang rata-rata mencapai dibandingkan dengan hanya 800 orang.

Tarif menginap di rumah tua yang berusia berabad-abad itu bervariasi antara US$90 dan US$180 (sekitar Rp1,2 juta hingga Rp2,5 juta) per malam, tergantung jenis ruangan dan musim.

Diversifikasi ekonomi

Oman, negara berpenduduk lima juta orang itu telah mencoba mendiversifikasi ekonominya yang bergantung pada minyak sejak harga minyak mentah anjlok tujuh tahun lalu. Pariwisata telah lama menjadi sumber pendapatan kedua yang memanfaatkan kekayaan warisan bangsa,  garis pantai yang indah, dan medan yang menakjubkan.

Mengembangkan industri (pariwisata) ini dipandang sebagai penyelamat paling potensial, setelah pembatasan virus korona  berdampak buruk pada perekonomian negeri itu.

Sekitar 3,5 juta turis mengunjungi Oman pada 2019, dan mereka menargetkan menarik 11 juta wisatawan pada 2040.

Renoda, turis Belanda yang menginap di Muscat bersama tiga temannya, mengatakan desa itu menjadi tempat wisata favoritnya. "Mungkin ini ke-10 kalinya saya mengunjungi hotel ini sejak tahun lalu. Inilah yang kami butuhkan sekarang untuk  menyepi. Saya datang ke sini untuk satu atau dua malam setiap bulan mencari ketenangan, relaksasi, dan kenyamanan," ujarnya. (AFP/M-4)

Baca Juga

Yuri KADOBNOV / AFP

Nasib Seniman Rusia dan Wajah Kota yang Berubah

👤Adiyanto 🕔Kamis 15 April 2021, 07:10 WIB
Beberapa pihak khawatir Moskow akan kehilangan bagian penting dari karakternya dengan modernisasi yang tumpul...
 Boris HORVAT / AFP

Anak Berusia 9 Tahun Beri Nama Spesies Baru Spons Laut di Inggris

👤Bagus Pradana 🕔Kamis 15 April 2021, 06:05 WIB
Karena ejaan 'parpal' (ungu) yang khas Norflok, membuat para ahli bersepakat secara bulat dengan usulan anak sembilan tahun...
Sajjad HUSSAIN / AFP)

Kebiasaan Mengonsumsi Madu Ternyata Sudah Dimulai 3.500 Tahun Lalu

👤Galih Agus Saputra 🕔Kamis 15 April 2021, 04:10 WIB
Wilayah ekskavasi Breunig bersama Dunne di Nok kini dianggap sebagai situs perburuan madu tertua yang pernah...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Tajamnya Lancang Kuning di Lapangan

 Polda Riau meluncurkan aplikasi Lancang Kuning untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Berhasil di lapangan, dipuji banyak kalangan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya