Minggu 20 Desember 2020, 05:40 WIB

Pasar Berprinsip Ekonomi Solidaritas

Fathurrozak | Weekend
Pasar Berprinsip Ekonomi Solidaritas

M TAUFAN SP BUSTAN
LIAN GOGALI

 

SALAH satu pendekatan yang diterapkan Sekolah Perempuan ialah ekonomi solidaritas. Ini ditujukannya sebagai tawaran kritik atas konsep ekonomi kreatif, yang menurutnya hanya menciptakan peluang ekonomi, tapi mengorbankan alam.

“Prinsip ekonomi solidaritas adalah apa yang diambil dari alam harus dikembalikan lagi ke alam. Prinsipnya adalah agar uang tidak keluar dari desa, seperti membeli produk-produk yang dihasilkan dari warga desa,” kata Lian dalam wawancara bersama Media Indonesia melalui konferensi video, Rabu (16/12).

Dari pendekatan tersebut, kemudian juga lahir dari para lulusan Sekolah Perempuan, para ibu yang membangun Pasar Organik di Desa Salukaia, Pamona Barat, Sulawesi Tengah. Pasar itu telah ada sejak 2017 dan menyediakan kebutuhan masyarakat berdasar dari hobi sang penjual.

“Karena ada juga yang menjual pakis dan pakis itu tidak bisa ditanam, tapi adanya di hutan, ibu-ibu ini pun jadi ikut menjaga hutan. Pasar ini dibangun atas kerja sama. Banyak menyediakan sayuran organik. Sekarang menjadi salah satu pemasok sayuran dan pangan di Kecamatan Pamona Barat sampai Selatan,” kata Lian mengenai pasar yang buka sejak pukul 04.00 dan tutup pukul 07.00 itu.

Lian menyebut, investasi tidak perlu dilakukan jika masyarakat diajak untuk menciptakan ekonomi solidaritas. Dampaknya pun cukup luas, bukan hanya masyarakat diberi kesempatan untuk mengidentifi kasi kemampuan secara pribadi, melainkan juga kemampuan pengelolaan alam. Menurutnya, ini juga bisa ditingkatkan pada skala yang lebih luas dan besar.

“Ini juga menjadi salah satu kritik kami pada BUM-Des (Badan Usaha Milik Desa) yang banyak menjual barang-barang dari toko. Padahal, punya produk lokal. Menginisiasi pasar ini, mudah. Saya mendata hobi para warga. Ada yang hobinya menjahit, menanam, memancing, dari situlah mulai ada percakapan bagaimana membuat pasar.”

Permintaan dan persediaan di pasar yang didasari ekonomi solidaritas itu orientasi yang diutamakan ialah kebutuhan masyarakat. Bukan pada kuantitas. “Sebenarnya sudah seperti supermarket alami.

Kami mengkritik ekonomi kreatif, yang orientasinya adalah kuantitas pasar.” Bentuk ekonomi solidaritas lain yang Lian dan Institut Mosintuwu siapkan ialah penggunaan pembalut yang bisa dicuci dan pakai ulang. Menurutnya, pembalut sekali pakai telah menjadi satu dari lima jenis sampah plastik rumah tangga terbanyak.

“Kalau ekonomi solidaritas juga memikirkan apa yang kita konsumsi, harusnya juga pada lingkungan. Nantinya kampanye itu juga sejalan dengan diskusi tentang kesehatan seksual dan reproduksi perempuan muda,” tuturnya.

Dengan kampanye tersebut, pihaknya berharap kalangan anak dan remaja kelak tidak hanya sadar tubuh dan upaya menghindari kekerasan, tapi juga bisa ikut melindungi lingkungan. (Jek/M-2)

Baca Juga

Dok. IDN Pictures.

Inang, Film Thriller Horor Terbaru garapan Fajar Nugros

👤Fathurozak 🕔Rabu 26 Januari 2022, 16:22 WIB
Film Inang merupakan satu dari tiga film yang diproduksi IDN Pictures selama pandemi. Dua lainnya adalah Balada si Roy dan Srimulat: Hil...
Dok. Perona

Band Perona Daur Ulang Lagu Curam Kehidupan

👤Fathurrozak 🕔Rabu 26 Januari 2022, 13:40 WIB
Lagu Curam Kehidupan ciptaan Yockie Soeryoprayogo pertama dirilis pada...
Instagram @metabirkins

Hermes Gugat Seniman NFT Tas MetaBirkins

👤Putri Rosmalia 🕔Rabu 26 Januari 2022, 13:20 WIB
Sudah lebih dari 10 Metabirkins dijual oleh Mason...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya