Minggu 20 Desember 2020, 00:10 WIB

Menghidu Aroma Kenangan

Triana Rahayu | Weekend
Menghidu Aroma Kenangan

MI

 

LANGIT hitam, terang. Kuning bulan sepenuh bunga matahari di pukul dua belas siang. Di sisinya, ada Orion yang siap menembak, sementara Seven Sisters berkumpul, dan Crux bergantung di selatan angkasa. Inilah saatnya aku menengadah. Begitu dulu seseorang mengajariku. Lelaki pertama yang mengenalkanku pada astronomi.

Di bawah temaram sinar lampu taman, dengan bugenvil bermekaran, di tempat itu, dulu, Bapak biasa melakukannya. Bapak akan senang sekali begitu melihat tubuh kecilku menyusup keluar dari balik pintu rumah. Menemaninya menikmati malam. Hanya berdua.

Sorot mata Bapak bagai gas helium, menatap langit malam. Ditemani sebatang cerutu yang diisapnya dengan hikmat, Bapak menjelaskan padaku  pengembaraan pikirnya melintasi sudut-sudut kosmik di jagat yang maha luas. Mengarungi samudera bintang gemintang, gugusan planet, bahkan mitos klasik tentang bintang jatuh. Penjelasannya akan berakhir bersama hilangnya asap tipis pelan dari cangklong cerutunya. Menutup kekagumannya akan jagat raya dengan kalimat-kalimat yang tidak pernah berubah. “Karena itu kamu Bapak namakan Bintang, karena kamu adalah cahaya paling terang yang bersinar di hati Bapak.”

Bagiku, menikmati pancaran wajah Bapak saat mengembuskan asap cerutu dari mulutnya lebih menarik daripada ceritanya tentang bintang gemintang. Pancaran kebahagiaan yang melampaui batas verbal. Cahaya kekagumanku.

“Huft...” kuembuskan nafas. Bagaimana kabar Bapak sekarang? Apa jantungnya yang dulu suka dikhawatirkan Ibu baik-baik saja? Semoga saja ia tetap sehat seperti dulu. Saat tubuh besarnya menggendongku di punggungnya sambil mengawasi para pekerja di areal pembibitan, atau mengajakku berkeliling perkebunan dengan mobil off-road kesayangannya. Saat itu adalah masa terindah dalam hidupku. Saat kebersamaan tidak mengaburkan esensi cinta yang sesungguhnya.

Tanpa terasa, sudah hampir lima tahun, aku tidak pernah bertemu Bapak. Pulang, kata itu seperti hilang dari keinginanku. Bukan, bukan hilang, tapi tersaput emosi yang belum juga surut. Ah... Alangkah nikmatnya menjadi kecil lagi. Saat Ibu memarahiku karena merebut boneka dan mainan Luna, adikku, biasanya aku akan menangis. Namun, tidak perlu waktu lama mengembalikan keceriaan di wajahku, tanpa dendam yang tertinggal menjadi sampah di hati.

Ya... Ibu memang selalu bersikap dingin padaku. Aku sering bertanya dalam hati, apa yang salah dengan diriku? Apa karena kulitku lebih putih dari kulit ibu yang sawo matang, atau rambutku yang lurus, bukan keriting seperti Ibu dan Luna.

Aku memang berbeda. Luna adalah duplikat Ibu. Begitu yang sering kudengar dari para kerabat. Mungkin aku lebih banyak mewarisi genetik Bapak, hidung mancung dan tubuh tinggi, aku yakin itu turunan Bapak. Tapi, harusnya Ibu tidak membenciku hanya karena aku berbeda darinya. Aku selalu berusaha menjadi anak manis, berusaha membuatnya bangga dengan prestasiku di sekolah. Tapi, semakin aku menunjukkan prestasi, semakin jelas ketidaksukaan Ibu.

Apa benar, gosip yang tak sengaja kudengar, kalau aku adalah hasil hubungan gelap Bapak dengan seorang buruh di perkebunan yang merupakan cinta pertamanya bapak, namun terhalang restu keluarga Bapak. Perempuan itu konon meninggal saat melahirkanku. Ibu yang saat itu belum juga mengandung setelah dua tahun menikah, terpaksa menerimaku.

Ah… aku tak peduli gosip murahan itu. Yang terpenting, Bapak bangga padaku. Kebanggaan yang selalu ditunjukkan Bapak sembunyi-sembunyi dari pandangan Ibu. Saat kami menatap langit malam dan di kesempatankesempatan langka saat kami berdua. Hanya aku dan Bapak.

Namun, itu dulu. Bapak berubah, saat aku memperkenalkan Brava, lelaki yang kukenal di sebuah pameran fotografi , sebagai kekasihku, di suatu malam saat Crux bersinar lebih cerah dari beberapa malam sebelumnya.

Aku mulai lelah dengan semuanya. Dimulai dari sikap ibu, dan akhirnya menular ke Bapak. Membuatku berani mengambil keputusan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Di balik rasa cintaku terhadap Brava, pemberontakan itu kulakukan demi mendapatkan sebuah pengakuan. Aku ingin dihargai!

Bahkan, di saat musim berganti setiap tahunnya dan tunas-tunas baru bermunculan, aku tidak akan pernah melupakan warna kuning pucat lampu jalan yang kulewati sepanjang malam itu.

“Kamu berani, Bi?” tanya Brava waktu itu.

“Apapun, asal bersamamu.” Aku menjawab dengan penuh keyakinan. Hanya satu yang terpikir di otakku. Aku tidak siap jika tali yang menyimpul hati kami terburai karena sebuah kata perbedaan.

Itulah hari terakhir aku melintasi jalanan perkebunan dan tak pernah kembali. Tepatnya, Bapak melarangku menginjakkan kakiku lagi di sana selama aku masih berhubungan dengan Brava. Setelah melewati pertentangan yang melelahkan dengan keluarga, kuputuskan memilih jalan hidupku sendiri. Pindah ke Ibukota. Hidup bersama Brava yang seorang fotografer dan aku membuka salon kecil di sebuah jalan arteri.

Kuusap wajah. Malam ini mendadak aku begitu melankolis. Semua berawal dari sebuah telepon yang kuterima pagi tadi.

PUKUL sembilan pagi. ponselku berbunyi. Aku mengernyitkan kening. Jarang ada yang menghubungiku pagi-pagi begini.
 
“Bintang!?” Suara di seberang sana menyengatku bagai tawon.

“Ibu!” teriakku tertahan. Kaget setengah mati. Ini sulit dipercaya. Ibu meneleponku? Aku kehilangan suara. Tak tahu harus berkata apa.

 “Pulanglah, Nak… Pulang.”

“Apa?” Nafasku tercekat di kerongkongan. Untuk pertamakali setelah hampir lima tahun, kata itu menggema begitu kuat menggetarkan  nadiku. 

Tap. Kututup telepon tanpa memberikan jawaban.

PERCAKAPAN singkat di telepon seminggu lalu membuat aku berada di sini. Di dalam taksi yang membawaku dari bandara menuju ke perkebunan. Masih teringat bagaimana kebingungan melandaku sebelum memutuskan untuk kembali.
 
“Pulanglah. Mungkin amarah itu sudah hilang,” ujar Brava saat kuceritakan mengenai telepon singkat ibu pagi itu.

“Tapi, kenapa Ibu yang memintaku pulang?”

“Apa bedanya Bi, keduanya orangtuamu!”

Aku menggeleng lemah. “Itu bukan sikap Ibu yang kukenal selama ini.”

“Kamu takut?” Brava menatapku.

“Bukan, aku cuma…”

“Belum siap?” Tatapan Brava semakin tajam. Namun, ia lantas merengkuh bahuku. “Kalau jalannya sudah terbuka, cepat melangkah sebelum jalan itu tertutup kembali.”

“Kamu?”

“Jangan pikirkan aku. Yang terpenting hubunganmu dan keluarga bisa kembali membaik.”

“Tapi… aku mau mereka bisa menerima kita, bukan hanya aku.”

”Isyarat itu hanya tertuju untukmu, Bi. Biarlah begitu dulu. Siapa tahu nanti kamu bisa membuka jalan untuk kita kembali ke sana berdua. Selalu ada kemungkinan, bukan?”

Maka, aku akhirnya pulang setelah melewati sepuluh musim. Rindu di hati ini terbit laksana jingga di awal hari. Menggenggam utuh sebuah keyakinan akan revolusi baru dalam hidupku menjelang pergantian tahun ini. Aku mengalihkan pandangan, melihat kiri-kanan jalan dari balik kaca taksi. Mengamati lalu-lalang orang. Membaca hampir semua plang nama toko yang terlewati. Aku terkesima. Tidak ada yang berubah dari wajah kota kecilku ini. Oramenornamen Natal mulai ramai menghiasi sudut-sudut kota. Memasuki Desember, kota ini memang terlihat lebih meriah. Natal dan tahun baru selalu disambut dengan penuh sukacita di kota kecilku ini.

Dua puluh menit meninggalkan pusat kota, jembatan itu mulai terlihat, melintasi sungai dangkal penanda batas areal perkebunan Bapak. Jalanan sedikit menanjak sebelum muncul hamparan pohon karet di kiri kanan jalan. Aku menurunkan kaca taksi setengah. Menarik nafas dalam-dalam. Ada wangi dedaunan bercampur aroma getah karet yang tercerap ke dalam indera penciumanku. Sudah lama sekali harum ini hilang dari memoriku.

Di bawah keteduhan pohonpohon Hevea brasiliensis itu, terlihat beberapa pekerja sedang membersihkan gulma di areal pertanaman. Sementara itu, para pekerja lain terlihat serius membuat alur-alur melingkar pada batang pohon. Cairan putih yang menyengat itu mengalir setetes demi setetes memenuhi wadah mangkuk plastik yang diikat kuat melingkari pohon. Aku masih ingat, dulu Bapak pernah berkata, tetesan getah putih itu seperti darah, jika ia berhenti menetes, matilah semua harapannya.

Ah Bapak… begitu besar cintamu pada perkebunan ini, Maaf, aku tidak bisa membantumu mengurusi harapan itu agar terus menetes. Jalan hidup kita berbeda. Tapi, bukan berarti aku tidak peduli.

Di depan aku melihat jalan berbelok. Mendadak jantungku berdegup kencang.. Berbagai kenangan pahit tiba tiba berseliweran. Bapak yang mengusirku… Omelan Ibu... seketika keberanianku lenyap.

“Berhenti, Pak!”

Supir mengerem mobil secara mendadak, dipalingkannya wajah, menatapku dengan rona kebingungan. Aku balas menatap.

Sudah sedekat ini, haruskah kuakhiri sampai di sini? Rumah besar di ujung belokan sana kenapa terasa menyeramkan? Kupejamkan mata. Mencerna sekali lagi kalimat Ibu di telepon seminggu yang lalu. Perlahan kepalaku tegak kembali. Mungkin, tahun baru ini bisa menjadi awal baru yang baik.

Sepuluh menit kemudian. Aku berdiri di depan pintu kayu besar dengan kopor kecil di tangan. Memencet bel dengan harap-harap cemas. Menebak-nebak, siapa yang akan kulihat pertama dari balik pintu ini. Bapak… mungkinkah? Pukul segini biasanya Bapak pulang untuk minum teh. Apa yang sebaiknya kulakukan jika benar Bapak? Langsung memeluknya? Atau….

Tak sempat berpikir lama, seraut wajah ayu dengan rambut tercepol menyembul dari balik pintu. Saat melihatku, matanya membulat,  wajahnya menegang. Ekspresi tak percaya yang terlihat jelas.

“Bintang!” pekiknya. Dengan cepat dia menghampiriku, menarikku ke dalam pelukannya. Sayup-sayup kudengar isaknya mengempit di telingaku.

Ibu menangis? Aku benar-benar tak menyangka akan disambut seperti ini. Tubuhku membeku dalam pelukan Ibu.

Beberapa menit kemudian pelukan ibu mengendur. Ibu menatapku tak berkedip dengan pandangan rindu yang baru pertama kulihat.  Jemarinya mengusap airmata yang entah sejak kapan meleleh di pipiku.

Aku terkesima. Perempuan di hadapanku ini bukan lagi orang yang sama.

“Ayo masuk, kamu pasti lelah.” Ibu menggamit lenganku.

Harum anyelir langsung tercium samar. Wangi khas rumah ini yang selalu kurindukan. Sofa, kristalkristal koleksi Ibu, sampai foto-foto di dinding, semua masih rapi di posisi yang sama. Tidak ada satu pun yang berubah, kecuali, suasana apa ini? Atmosfer asing yang kutangkap samar saat memasuki rumah.

Semuanya terungkap begitu kulihat Luna, adikku, termangu di pojok ruang sambil memandangi foto lelaki yang sangat kukenal, lelaki yang sekilas mirip diriku.

Begitu menyadari kehadiranku, seperti Ibu, Luna langsung berlari memelukku.

“Bang Bintang! Bapak… Bapak sudah berpulang, seminggu lalu.” Isaknya pecah di dadaku.

Seluruh persendianku langsung melunglai, lemas. (M-2)
 

Baca Juga

Dok GoSend

GoSend Rilis Buku Kiat UMKM jadi Best Seller di Era Digital

👤Irana 🕔Kamis 26 Mei 2022, 12:56 WIB
Dalam penulisan buku ini, pihaknya melibatkan sejumlah pakar bisnis dan UMKM yaitu Rhenald Kasali, Yudo Anggoro, Yuswohady, Wulan Ayodya,...
MI/HO

Ohaiaho Rilis Serum untuk Atasi Jerawat

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 26 Mei 2022, 07:15 WIB
Riset dari  The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology menunjukkan 22% perempuan dewasa terkena jerawat, dibanding laki-laki...
MI/adiyanto

FIB UI Gelar Seminar dan Pameran Foto Keberagaman dan Toleransi Masyarakat Singkawang

👤Adiyanto 🕔Rabu 25 Mei 2022, 20:31 WIB
Seminar ini kelanjutan penerbitan buku “Memoar Orang-Orang Singkawang” yang diterbitkan pada 15 Februari 2022 , bertepatan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya