Selasa 01 Desember 2020, 13:15 WIB

Pameran 'Hujan yang salah Membaca Musim' digelar di Semarang

Galih Agus Saputra | Weekend
Pameran

Dok. Galeri Nasional
Mural di Kampung Jatiwayang

GALERI Nasional (Galnas) Indonesia kembali menyenggarakan salah satu agenda tahunannya yakni 'Pameran Keliling'. Tahun ini,  event tersebut diadakan di Semarang, Jawa Tengah.

Kurator Pameran, Adin dan Ko-Kuratornya, Pujo Nugroho memilih 'Udan Salah Mongso (Rain in The Wrong Season)' sebagai tajuk utama dalam pameran keliling Galnas ke-21 ini. 

Mereka juga didukung Kolektif Hysteria, komunitas yang berusaha membangun ekosistem seni dan kreativitas dengan melibatkan kampus, masyarakat kampung, maupun publik secara umum.

Adapun 'Udan Salah Mongso' yang ditetapkan sebagai tema pameran kali ini, diambil dari frasa masyarakat pedesaan di Jawa Tengah, yang biasanya diutarakan untuk menyikapi perubahan musim tanam dan panen akibat musim yang tidak menentu.

Masyarakat Jawa Tengah sendiri selama ini membagi musim menjadi dua yakni rendheng (hujan) dan ketigo (kemarau). Biasanya, musim hujan terjadi mulai Oktober hingga April, dan  kemarau mulai April hingga Oktober. Akan tetapi patokan tersebut menurut mereka sudah tidak berlaku lagi.

“Tema tersebut dipilih untuk merespons situasi kekinian terkait dengan perubahan iklim yang mempunyai dampak luar biasa terhadap ekosistem kehidupan, tidak terkecuali kondisi pandemi saat ini,” kata Adin, melalui siaran pers yang diterima Media Indonesia, Selasa, (1/12).

Delapan lokasi di Semarang telah dipilih untuk menampilkan karya dalam pameran ini. Lokasi tersebut, lebih tepatnya berada di Kampung Bandarharjo, Bustaman, Jatiwayang-Ngemplak Simongan, Kemijen, Petemesan, Randusari-Nongkosawit, dan Sendangguwo, serta Subali-Krapyak.

Selain itu, pameran juga akan menampilkan arsip proyek seni yang telah dibuat dan diinisiasi Kolektif Hysteria. Seluruh karya tersebut kemudian disajikan dalam format daring, yang dapat diakses melalui laman galnasonline.id mulai hari ini.

Adapun sejumlah perupa dan karya yang tampil dalam pameran kali ini ada Arief Hadinata & Stokemaki dengan mural 'Salah Wanda, Ora Gambar Tambah Salah', Rezto SAM kru dengan mural 'Akad', serta Poharin dan Alodia dengan cat semprot berjudul Wayang Sambit. Selain itu, ada juga mural 'Bukit's Heart' dari Valeriana Grajales, lalu mural 'Ingon' dari Kolektif Hysteria, serta instalasi 'Untitled' dari Uptown Crew.

Kepala Galnas, Pustanto mengatakan Kolektif Hysteria dan Semarang dipilih karena memiliki keterikatan dan catatan penting untuk melengkapi khazanah seni kolektif. Kapabilitasnya diharap dapat memperkuat ekosistem seni rupa nasional yang telah ada. Ia juga berharap sajian karya kali ini dapat memberikan referensi dan rekomendasi terhadap seni rupa Indonesia dan perkembangannya.

 “Pameran ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengokohkan semangat berkarya, kebersamaan, serta identitas seni rupa Indonesia,” pungkasnya. (M-4)

Baca Juga

AFP/QUEENSLAND POLICE SERVICE

Pria ini Bertahan Hidup di Hutan Hanya dengan Memakan Jamur

👤Adiyanto 🕔Minggu 24 Januari 2021, 17:00 WIB
Dia terakhir terlihat pada 6 Januari meninggalkan sebuah hotel di Kilkivan, sekitar 200 kilometer sebelah utara...
MI/Tiyok

Jon Bodo: Ramalan

👤Tiyok 🕔Minggu 24 Januari 2021, 11:25 WIB
Jon katanya tahun ini diramalkan akan terjadi kerusuhan dan krisis ekonomi dahsyat...
Butet.K/Widiyatno

Bung Sentil: Belang Bonteng

👤Butet.K/Widiyatno 🕔Minggu 24 Januari 2021, 11:25 WIB
Gimana? Keren...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya