Minggu 29 November 2020, 00:30 WIB

Menguak Karya Affandi

MI | Weekend
Menguak Karya Affandi

Dok. Galeri Nasional Indonesia
Pameran karya maestro seni rupa Indonesia, Affandi Koesoema

KONSERVASI bukan sekadar upaya menjaga kelestarian suatu objek atau benda. Konservasi, dalam seni rupa, dapat menjadi sebuah usaha memahami teknik maupun materi yang digunakan seniman dalam melahirkan karya.

Hal itu diungkapkan konservator independen, Lia Sumichan. Lia ialah salah satu orang yang mengamati karya maestro seni rupa Indonesia, Affandi Koesoema. Upaya itu beberapa waktu lalu juga sempat ia paparkan dalam sesi bincang daring yang diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia dengan tajuk Konservator Bicara: Studi Lukisan Affandi.

Perempuan yang meraih gelar pascasarjana dari University of Melbourne ini memaparkan temuannya dengan presentasi berjudul Affandi Material and Techniques: A Preliminary a Technical Art Study of Painting From the 1950s. Menurutnya, Affandi ialah seorang seniman yang memiliki teknik melukis nonkonvensional.

“Contohnya bisa dilihat dari impastonya yang memang itu adalah gayanya. Jadi ini memang mengandung aspek yang harus kita  pertimbangkan,” jelasnya, Selasa (24/11).

Dalam proses penelitiannya, Lia mengamati tiga lukisan Affandi. Akan tetapi, dalam kesempatan ini ia hanya membahas dua karya, yakni Affandi, Raka, dan Iwan (ARI) yang dibuat pada 1957-1958, dan Barong Mekiis yang dilukis pada 1959.

Penanggalan ARI cukup menarik bagi Lia karena lukisan ini dibuat pada akhir 1957. Namun, jika dilihat lebih lanjut, Affandi menuliskan tanggal dalam karya itu pada 31 Desember 1957, tapi baru membubuhkan tanda tangan pada awal 1958, yang oleh karena itulah penulisan tanggal dibuat 1957-1958.

“Ini cat minyak di atas kanvas. Yang kedua itu, Barong Mekiis, juga minyak di atas kanvas. Ini menarik karena kita sudah lumayan mengerti kalau Affandi ini melukisnya live. Nah, lukisan ARI ini dilukisnya ketika indoor, sedangkan Barong Mekiis ini dilukisnya outdoor atau di luar, ketika upacara mekiis ini terjadi,” imbuhnya.

Lia selanjutnya juga menjelaskan, dalam mengamati karya Affandi, ia menggunakan dua pendekatan, yakni invasif dan non-invasif. Pendekatan non-invasif digunakan untuk melihat karya Affandi dari segi teknik fotografi, sedangkan invasif lebih mengedepankan analisis ilmiah (saintifik), yang dalam hal ini berfokus pada materi yang terdapat pada lukisan tersebut.

Dari hasil amatan invasif, Lia menemukan jenis dan lapisan dasar (ground layer) kanvas serta jenis cat pada lukisan Affandi. Menurutnya, dua lukisan Affandi ini dibuat di atas kanvas berbahan katun, atau sejalan dengan penelitian terdahulu yang menjelaskan bahwa pada masanya kanvas katun memang banyak digunakan di Asia Tenggara karena lebih murah dan mudah didapatkan ketimbang kanvas linen.

“Awalnya saya sudah berhipotesis kalau kanvas yang digunakan ialah linen. Tetapi ketika dilakukan pengamatan secara mikroskopis, yang saya temukan itu bukan cuma linen, tetapi ternyata ada karak teristik dari katun,” kata Lia. (Gas/M-4)

Baca Juga

Unsplash/ Kevin Jarrett

Pemerintah Lokal India Resmikan Wisata Penjara di Hari Republik

👤Galih Agus Saputra 🕔Rabu 27 Januari 2021, 15:35 WIB
Tiket wisata penjara yang dibangun tahun 1871 itu tidak sampai Rp10...
Mirko Vitali/123RF

Ada Penyusup, Apple Instruksikan Pengguna Perbarui iOS

👤Putri Rosmalia 🕔Rabu 27 Januari 2021, 15:16 WIB
Ada tiga celah keamanan yang telah...
Unsplash/ Melissa Jeanty

Epidemiolog Terus Ingatkan Pentingnya 3M

👤Putri Rosmalia 🕔Rabu 27 Januari 2021, 13:05 WIB
Meski sederhana, kebiasaan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak terbukti paling efektif  menangkal...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya