Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Pudarnya Kritisisme Film di Media Arus Utama

MI
15/11/2020 06:10
Pudarnya Kritisisme Film di Media Arus Utama
(Ilustrasi)

KETIKA jurnalisme memudar di tengah hiruk-pikuk media sosial, kritik film teralihkan ke dalam format polemik. Dalam format ini, terjadi proses uji silang argumentasi kritis. Hal itu disampaikan budayawan Seno Gumira Ajidarma (SGA) dalam diskusi panel dalam rangkaian Forum Festival 2020 yang diselenggarakan Arkipel, Minggu (8/11).

“Ketika surat kabar yang disebut mainstream itu menjadi minoritas dalam dominasi media sosial, kritik film itu ikut mengerdil sehingga harus melakukan ekspansi. Bagi saya, tidak cukup berlindung di balik tembok-tembok galeri,” kata pengajar cultural studies di Universitas Indonesia tersebut.

Seno yang juga lama menjadi wartawan ini menyebutkan, pada mulanya jurnalisme film hanya mengulas mengenai halhal di luar kajian kritis. Lebih menekankan pada elemen hiburan, seperti cerita di balik layar, faktor kesuksesan suatu film hingga yang lebih spesifik, soal teknis pembuatan.

Kehadiran kritik film di media, menurut Seno, muncul secara tiba-tiba. Ia pun membagi tiga karakteristik kritik film dewasa ini. Kritik film dalam jurnalistik, film dalam kajian sinema, dan kritik film/kajian sinema dalam media sosial.

“Kritik film sama dengan kajian sinema. Berdasarkan perbincangan kritis suatu film, bisa membongkar segala sesuatu yang telah menjadi kebudayaan kita saat ini. Itu sekarang tidak lagi terletak di media mainstream, tetapi ada di media sosial. Dengan bentuknya yang sangat liar. Namun, ternyata bisa berfungsi,” kata Seno.

Saat ini, ungkapnya, situasi kritik film Indonesia dalam media arus utama menyurut. Digantikan dengan sirkuit media baru yang menawarkan samping tawaran media sosial yangmenyediakan frekuensi tinggi dan bersifat interaktif. Menurutnya, hal tersebut mampu menggoyang formasi diskursif media. Sementara itu, posisi kalangan akademisi dalam menyajikan kajian kritisnya juga masih berjarak.

“Meski dari kalangan akademisi ini muncul aktivisme yang berusaha melawan hegemoni industri, seperti dengan hadirnya festival alternatif, itu masih berada dalam lingkup komunitas yang eksklusif. Dan kalau saya perhatikan masih berjaya pendekatan estetisme dalam film,” kata Seno.

Pandangannya itu lalu disanggah Intan Paramaditha. Saat ini juga banyak kalangan akademisi yang juga masuk sirkuit media baru tersebut. Seperti halnya yang dilakukan pengajar di Department of Media, Music, Communication and Cultural Studies di Macquarie University, Sydney, tersebut. Intan kerap kali mendaraskan narasi-narasi kritisnya tentang film lewat saluran media sosialnya, seperti di Twitter.

Ia menyoroti mengenai kajian film seperti apa yang dibutuhkan saat ini. Gagasan Intan ialah dekolonisasi kajian film. Menurutnya, dalam melakukan kajian film saat ini tidak bisa abai dari konteks politik yang berkembang di dunia.

“Dari percakapan soal dekolonisasi, dilihat isu tentang ras, penindasan kelas, gender, dan pentingnya pembongkaran pada situasi-situasi kolonial yang bertumpu pada sistem kapitalisme, dan mengeruk keuntungan dari penindasan tersebut,” buka Intan.

Wacana dekolonisasi itu tidak sert-merta muncul begitu saja. Namun, sebagai antitesis pada kajian film yang sampai saat ini masih didominasi kajian yang bersifat erosentrisme. Barat dipandang sebagai sumber segala validitas keilmuan. Kajian sinema yang masih bersifat erosentris ini merujuk pada teori image, editing, atau auteur pada film-film produksi Hollywood, baik yang sifatnya arus utama, klasik, maupun alternatif.

“Erosentrisme itu masih terjadi. Sementara itu, teoriteori atau perspektif yang mendorong dekolonisasi lumayan terpinggirkan. Memang sudah ada ruang yang membicarakan film secara beragam. Yang bisa diajukan sebagai kemungkinan-kemungkinan upaya dekolonisasi kajian film di Indonesia ialah pembangkangan epistemik. Bagaimana kita membongkar kolonialitas dari pengetahuan yang membentuk diri kita, yang kita produksi. Di masa pandemi ini semuanya berhenti, dan juga bisa untuk mempertanyakan apa yang selama ini sudah membentuk pemahaman kita atas film?” (Jek/M-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya