Sabtu 24 Oktober 2020, 03:35 WIB

Pandemi, Kegagapan yang Berulang

Abdillah Marzuki | Weekend
Pandemi, Kegagapan yang Berulang

Dok. Pribadi
Judul: Perang Melawan Pandemi Infl uenza-Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial, 1918-1919

Masa lalu tidak berarti boleh dilupakan sebab itu adalah guru terbaik. Ia seolah menjadi masa depan yang datang lebih dahulu. Artinya, mempelajari masa lalu menjadi pintu untuk sikap lebih awas di masa depan.

Itulah yang menjadikan buku karya Ravando, Perang Melawan Pandemi Influenza-Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial, 1918-1919, menjadi menarik. Buku ini layak dibaca karena banyak yang bisa dipelajari dari pandemi saat itu.

Covid-19 sejatinya bukanlah pandemi pertama yang dialami Indonesia. Pada 1997, 2003, dan 2009, Indonesia berturut-turut menghadapi serangan pandemi flu burung (avian influenza), SARS, hingga flu babi (swine flu). Serangkaian kasus tersebut menunjukkan bahwa pandemi sebenarnya bukanlah peristiwa baru di Indonesia. Namun, kegagapan dalam penanganan wabah atau pandemi ternyata masih kerap terjadi di Indonesia, yang menunjukkan bahwa pemerintah tidak memiliki desain besar yang jelas dalam proses mitigasi pandemi.

Jauh sebelum merebaknya pandemi covid-19, dunia sudah diguncang oleh berbagai jenis pandemi dan wabah. Salah satu yang paling mematikan ialah flu spanyol yang terjadi pada 1918-1919 dan diperkirakan membunuh 50 juta hingga 100 juta penduduk kala itu. Wilayah Indonesia pada masa kolonial juga tidak luput dari serangan tersebut. Sebanyak 1,5 juta hingga 4,37 juta jiwa penduduk diperkirakan menjadi korban keganasan pandemi flu spanyol, menjadikan rerata kematian di Indonesia pada masa kolonial sebagai yang tertinggi di Asia.

Sejarah menunjukkan, tingginya mortalitas dan morbiditas tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kegagalan pemerintah kolonial dalam melakukan mitigasi dan pencegahan awal, buruknya koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, menjamurnya berbagai berita bohong (hoaks) di masyarakat, hingga sekumpulan orang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi.

Ironisnya, sekalipun lebih dari seabad berlalu, fenomena serupa juga masih terjadi dalam kasus covid-19 di Indonesia, yang menunjukkan bahwa aspek historis memang belum menjadi pembelajaran penting dalam rancangan kesehatan pemerintah terkait pandemi dan wabah.

Ironisnya, berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa pandemi flu spanyol yang terjadi lebih dari seabad tersebut ternyata banyak kemiripan dengan covid-19 yang terjadi saat ini, dari respons dan mitigasi pemerintah yang lambat, pengambilan kebijakan kesehatan yang tidak efektif, buruknya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, hingga sekumpulan orang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi.

Semua itu tercatat turut mewarnai penyebaran flu spanyol di wilayah Indonesia kolonial kala itu. Akibatnya, masyarakat yang dilanda kebingungan pun memutuskan bergerak sendiri-sendiri guna mencari solusi terkait permasalahan tersebut. Solusi yang ditawarkan pun beragam, dari tindakan klinis sampai ritual-ritual yang berbau magis.

Sebelum virus flu spanyol menjangkiti wilayah Hindia, pemerintah kolonial Belanda sejatinya sempat menerima telegram peringatan dari konsulat Belanda di Singapura dan Hong Kong mengenai kemungkinan serangan virus tersebut akan masuk ke wilayah Hindia Belanda. Namun, pemerintah kolonial seperti abai dengan peringatan tersebut dan tidak segera melakukan tindak pencegahan.

Saat itu juga banyak obat-obatan anti-influenza tidak berlisensi yang beredar. Para dokter yang belum pernah menangani penyakit seperti itu sebelumnya pun dilanda kebingungan sehingga berujung pada maraknya kesalahan diagnosis. Saran dari beberapa dokter di Batavia untuk menerapkan lockdown-pun tidak diindahkan oleh Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (Dinas Kesehatan Hindia Belanda/BGD) dengan alasan akan memicu kekacauan dan mengganggu stabilitas ekonomi pemerintah kolonial. Belum lagi lontaran pernyataan dari politikus dan praktisi kesehatan yang berulang kali menyebut flu spanyol sebagai penyakit atau influenza biasa sehingga tidak perlu dicemaskan.

Dalam satu bagian, penulis menyebutkan flu spanyol juga dipandang sebelah mata saat itu. Banyak pihak menganggap enteng keberadaan virus tersebut. Namun, ternyata daya serang dan daya sebar berbanding terbalik. Tiba-tiba saja sudah menyebar ke seluruh penjuru.

'Lantaran daya serangnya yang masih tergolong ringan (mild), tidak mengherankan bila banyak pihak yang menganggap pandemi influenza tersebut tidaklah mengkhawatirkan' (hlm 52).

Penulis juga mencatat pemberitaan terkait flu spanyol juga termasuk masif di Indonesia kolonial. Sedari pertengahan Juli 1918, seluruh media di berbagai daerah seperti berlomba-lomba melaporkan segala macam peristiwa yang berkaitan dengan pandemi tersebut. Media melabeli pandemi itu dengan bermacam sebutan.

'Menariknya, muncul berbagai istilah untuk menyebut penyakit tersebut, dari 'Penjakit Baroe', 'Penjakit Resia', 'Penjakit Aneh', Penjakit Hari Ini', dan lain sebagainya. Munculnya beragam julukan tersebut tentu tidak lepas dari minimnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit tersebut' (hlm 141).

Pemerintah kolonial semakin kalang kabut saat gelombang kedua flu spanyol menyerang. Bahkan, korbannya menjadi semakin banyak. Media menulis saat itu penggali kubur harus bekerja dari pagi sampai malam. Persediaan kain kafan pun mendadak menjadi langka di pasaran. Mengingat belum ada vaksin atau obat-obatan paten yang dapat digunakan untuk melawan penyakit itu, ada begitu banyak orang yang meninggal karena tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan. Rata-rata mereka meninggal karena komplikasi dengan pneumonia.

Berbincang soal ekonomi, Indonesia kolonial juga babak belur. Pada 1916, pengimpor teh di Belanda hanya diizinkan menjual teh ke perusahaan dalam limit tertentu. Sementara itu, perusahaan pelayaran di wilayah Indonesia kolonial tidak lagi diperkenankan mengekspor teh ke Belanda. Belum lagi memasuki 1917, situasi di Indonesia kolonial berubah dalam sekejap. Berbagai industri di Belanda dihantam dengan kelangkaan batu bara dan bahan baku lainnya. Hal itu memaksa beberapa perusahaan gulung tikar. Pemerintah kolonial juga harus menghadapi kenyataan pahit saat jatuhnya harga pasaran kopi, gula, dan teh. Namun, situasi di Indonesia masa kolonial berangsur-angsur membaik pascapencabutan kebijakan larangan ekspor di tahun 1919.

'Pada bulan Juni 1919, kapuk, kayu, tembakau, gula, dan karet sudah bisa kembali diekspor. Menyusul kemudian timah, teh, kopi, dan kopra di bulan Agustus 1919, hingga lada dan pewarna sintetis berturut-turut di bulan September dan Oktober 1919' (hlm 408).

Selain membeberkan sejarah flu spanyol yang menjangkiti wilayah Hindia diikuti dengan respons pemerintah kolonial dan masyarakat kala itu, penulis juga menyajikan dampak dari pandemi. Akhirnya, buku itu dipungkasi dengan refleksi penulis mengenai hal-hal yang bisa dipelajari dari flu spanyol guna menghadapi covid-19 ataupun pandemi lain di masa depan. (M-4)

Baca Juga

Screenshot Twitter NHK

Penampakan Meteor Hebohkan Media Sosial Jepang

👤Adiyanto 🕔Senin 30 November 2020, 20:02 WIB
Media lokal mengatakan bola api itu diyakini sebagai bolide, meteor yang sangat terang yang meledak di...
Behrouz MEHRI / AFP

Taman Hiburan Super Mario di Jepang Dibuka Februari Tahun Depan

👤Adiyanto 🕔Senin 30 November 2020, 17:00 WIB
Awalnya, taman ini direncanakan dibuka di Osaka pada Juli 2020 menjelang Olimpiade...
TANG CHHIN Sothy / AFP)

Kaavan, Gajah Paling Kesepian di Dunia ini tidak Lagi Sendirian

👤Adiyanto 🕔Senin 30 November 2020, 16:11 WIB
Kampanye penyelamatan gajah ini dilakukan melalui media sosial yang digagas penyanyi Amerika,...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya