Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Hitam Putih Waiting for the Barbarians

MI
23/8/2020 02:20
Hitam Putih Waiting for the Barbarians
Film Waiting for the Barbarians(Dok. WWW.IMDB.COM)

BERTEBARAN aktor-aktor terkenal, film Waiting for the Barbarians yang berlatar kolonialisme sekilas tampak menjanjikan. 

Apalagi, film ini dialihwahanakan dari novel lawas berjudul serupa karya penulis Afrika, JM Coetzee, yang juga penerima Nobel bidang sastra.

Sang Hakim (Mark Rylance) dan Kolonel Joll (Johnny Depp) adalah representasi polaritas dalam film ini. Itu cukup menilik unsur visual lewat busana yang dikenakan, juga tindakan kedua tokoh ini. 

Hakim dengan busana serbakhaki dan Kolonel Joll dengan biru navynya. Pilihan warna ini menjadi penanda simbolisme sosok mana yang lebih berkuasa dan punya kekuatan.

Hakim dengan segala tindakannya yang serba lemah lembut, sedangkan kolonel dengan auranya yang dingin. Depp tampak lebih meyakinkan perannya ketimbang Rylance. Dengan tampilan karakternya yang karikatural, Depp cukup meyakinkan menampilkan sosok kejam tanpa ampun, juga lewat aksesori kacamata bulat hitam dengan frame segitiga dan postur wajah yang menonjolkan tulang pipi.

Waiting for the Barbarians memilih untuk menyajikan filmnya lewat pembabakan cerita. Dimulai dengan babak Kolonel Joll, ditengahi babak si Perempuan, dan babak Pengembalian.

Pembabakan ini sekaligus ditujukan sebagai cara jalan masuk memperkenalkan tokoh-tokoh dalam cerita. Meski sebenarnya cara ini berpotensi menunjukkan kedalaman masing-masing dari peran si tokoh, sayangnya tempo film yang lambat membuat sulit untuk mengikat penonton mengikuti alurnya. Terlebih, fragmentasi seperti ini malah mengaburkan plot yang dituju.

Ide dasar film ini ialah ingin menunjukkan siapa sebenarnya yang disebut kaum barbar. Apakah kaum nomaden yang disebut oleh kerajaan sebagai kaum barbar, atau justru para petugas kerajaan, yang menciptakan sematan itu.

Dengan latar kota yang berada di dalam benteng dan daerah gurun yang meliputi kota, sinematografi yang ditangani Chris Menges lebih terlihat efektif saat berada di latar padang gurun. Komposisi wide shot-nya mampu membangun suasana yang lebih hidup ketimbang di dalam kota yang serba terbatas. 

Sesekali penggunaan extreme close up adalah untuk memperlihatkan langkah-langkah kaki kuda di atas gurun. Repetisi wide shot ini semakin intens saat babak Pengembalian ketika Hakim dan pengawalnya mengantar sang Gadis (Gana Bayarsaikhan) bertemu dengan kaum nomadennya.

Ide film ini terdengar baik, tetapi secara eksekusi Waiting for the Barbarians justru terjebak pada polaritas yang kering. Dimensi-dimensi ketokohannya hanya diperlihatkan lewat penokohan yang kontras. Si baik dan si jahat di sini seolah sudah menjadi suatu kemutlakan.

Sebenarnya, dimensi lain Hakim sempat muncul pada bagian-bagian awal saat ia mengunjungi salah seorang perempuan yang lalu dirujuk sang kolonel dalam dialognya sebagai selir. Akan tetapi, itu terasa masih belum mewakili secara kuat. Begitu juga kolonel yang hanya
ditampakkan satu warna.

Salah satu karakter yang memiliki jangkauan dimensi penokohan yang lebih luas ialah sang Gadis. Karakter ini menunjukkan perkembangan sejak awal kemunculannya sampai titik keluar frame. Sebagai korban kekejaman pasukan kolonel, tokoh yang diperankan Gana memiliki kompleksitasnya. 

Dari yang dingin di permulaan, lalu menunjukkan sikap yang lebih terbuka, dan menemukan titik keraguan, Gana mengambil peran yang paling dinamis di antara Depp dan Rylance.

Sebaliknya, kemunculan Robert Pattinson di film ini malah tidak begitu penting. Tokoh yang ia perankan bisa saja dilakoni siapa pun sebagai algojo merangkap asisten Joll. Keberadaannya tidak memberikan kesan mendalam dan tidak memiliki urgensi.

Film Waiting for the Barbarians yang premier di ajang Festival Film Venesia tahun lalu, saat ini sedang tayang di Mola TV. (Jek/M-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya