Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
AWAL tahun ini, Irama Nusantara menjalani proyek dengan terseok. Semenjak Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dilebur ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, napas mereka menjadi labil.
Pasalnya, belum ada kepastian perihal aliran dana untuk menyokong kegiatan mereka dalam mengarsipkan dan mendigitalisasi karya musik di Nusantara. Selama ini, Irama Nusantara memang melakukan kegiatan secara swadaya dan bersandar pada donatur.
Berjalan sejak 2013, Irama Nusantara baru mendapat bantuan dari pemerintah tiga tahun setelahnya melalui Bekraf. Akan tetapi, dileburnya Bekraf ke Kemenpar jadi ikut mengecilkan upaya konservasi musik.
“Dari 2013 saat mulai berdiri, para pendiri membiayai operasional secara swadaya. Lalu 2014 mulai masuk donatur dari beberapa NGO asing walaupun tidak besar. Tahun 2016 kami cukup leluasa untuk mendapat sumber rilisan,” cerita Manajer Program Irama Nusantara Gerry Apriryan kepada Media Indonesia melalui sambungan telepon, Selasa (4/8) lalu.
Ia menambahkan, selama periode 2016-2019, pihaknya mendapat sekitar 2.000 rilisan dari berbagai tempat dari tempat-tempat yang semula aksesnya tertutup. “Kami sempat ‘gedor’ sendiri ke stasiun-stasiun RRI. Tapi ketika itu mereka melihat kami siapa sih. Lalu kami minta bantuan Bekraf untuk ketokin pintu ke stasiun-stasiun RRI itu,” tuturnya.
Seiring terbentuknya kabinet pemerintahan baru jelang akhir tahun lalu, Irama Nusantara ambil ancang-ancang. Mereka bergerak cepat untuk mencari investor atau donatur lain. Sayangnya hingga kuartal awal 2020, tidak ada kejelasan. Di sisi lain, dana yang ada terus menipis.
“Bensin kita cuma bisa dipakai sampai Juni saat itu.”
Untuk memperpanjang sementara napas mereka, digelarlah urunan publik yang mendatangkan dana Rp50 juta. Sekadar cukup untuk mengurus 100 rilisan dalam sebulan. Bulan ini, mereka mendapat pencerahan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru.
Pada 6 Agustus lalu dihadirkan sokongan lewat program Digitalisasi Musik, dengan proyeksi bakal mendigitalisasi 1.000 rilisan di sisa tahun ini. Sokongan itu sejalan dengan Irama Nusantara yang punya proyeksi pengarsipan 1.200 rilisan dalam setahun kendati untuk tahun ini dirasa sulit.
Selain itu, mereka ingin mengakses format kaset setelah tiga tahun ke belakang lebih berfokus pada piringan hitam. Tiga tahun dari sekarang, mereka juga punya proyeksi jangka menengah, yakni ingin memonetisasi aset yang dimiliki.
“Pengin bisa mencoba memanfaatkan aset yang kami punya pada 2022 nanti. Rencananya bisa mendapat revenue dari para penikmat website dan aset kami. Tahun ini, bangun infrastrukturnya. Tapi kami tetap menghargai kaidah hak cipta,” jelas Gerry.
Data per Mei, sudah ada 4.065 jumlah rilisan yang sudah diarsipkan. Adapun yang sudah terunggah di web Irama Nusantara berjumlah 2.935 rilisan. Didirikan oleh tujuh orang, kini Irama Nusantara digawangi secara aktif oleh sekitar 10 personel.
Enam dari pendiri, dan empat orang bekerja purnawaktu di posisi manajerial, termasuk Gerry. Dalam menentukan rilisan mana yang akan didigitalisasi, ia mengatakan tidak ada kategori spesifi k, asalkan populer.
“Paling yang jadi perhatian ialah kondisi dan kualitas mediumnya. Di piringan hitam kan ada goresan-goresan. Nah, kalau sudah terlalu dalam, malah jadi memengaruhi lagunya, musiknya jadi ke-skip-skip. Misalkan dirasa itu enggak terlalu langka, kami lewatkan dulu. Kecuali kalau itu adalah rilisan langka, walaupun kondisinya kurang baik, harus diselamatkan,” tambah Gerry.
Jaga spirit
Di samping Irama Nusantara, Museum Musik Indonesia (MMI) di Malang juga merupakan salah satu pegiat konservasi musik. Dikepalai Hengki Herwanto, tahun ini MMI tengah berfokus mendigitalisasi majalah musik Aktuil medio 1967-1978.
Juli lalu, mereka mendapat dukungan internasional melalui program Memory of the World Committee for Asia-Pacific (MOCWAP) UNESCO. MMI mendapat hibah US$3.500 (Rp51 juta lebih). MMI menjadi satu-satunya asal Indonesia dari delapan penerima grants.
Sisanya berasal dari Malaysia, Myanmar, Sri Lanka, Mongolia, dan Kepulauan Cook. “Pekerjaan sudah dimulai dan target selesai akhir November tahun ini. Ada 200 majalah, masing-masing bervariasi sekitar 40-80 halaman. Hasil digitalisasi akan diunggah di website MMI sehingga bisa diakses masyarakat. Dilengkapi pula dengan daftar isi untuk tiap-tiap nomor penerbitan,” ungkap Hengki kepada Media Indonesia, Selasa (18/8).
Menurutnya, pemberian hibah dari UNESCO itu sangat berarti, bukan hanya dari sisi materiel. “Ini memelihara spirit kami, yang kami lakukan dipandang memiliki nilai manfaat dalam mendokumentasikan sejarah musik di Indonesia,” tambah Hengki.
MMI diresmikan oleh Bekraf pada 2016. Tidak jauh berbeda dengan Irama Nusantara, mereka pun menghidupi upaya konservasi musik secara swadaya dan bertumpu pada dukungan donatur.
“Kami coba mendekati Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan juga Pemerintah Kota Malang. Semuanya masih harus diperjuangkan. Donasi dari sumber lain masih minimal. Pendapatan dari pengunjung juga drop di masa pandemi ini.”
Awalnya, upaya konservasi musik yang dilakukan MMI sebatas pada koleksi fisik, kemudian berkembang dengan mendigitalisasi format karya. Namun, itu masih terbatas pada koleksi lagu populer. Terakhir ialah koleksi majalah.
Dipilihnya Aktuil, majalah asal Bandung, karena arsip tersebut menjadi rangkuman sejarah musik populer di Indonesia. Aktuil terbit di Bandung pada 1967 dan tutup pada 1978.
Ke depan, MMI punya proyeksi untuk fokus pada lagu daerah di Indonesia. Meliputi rekaman audio, notasi balok, bahasa daerah yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, serta pemaknaan (storytelling) tiap-tiap lagu.
Ia menyatakan perlu mengajak tenagatenaga ahli yang relevan dalam mewujudkan proyeksi tersebut. “Serta yang penting menemukan lembaga yang peduli untuk mendanai kegiatan konservasi ini,” imbuhnya.
Lestari
Setiap entitas tentu memiliki sensibilitas mereka dalam melaksanakan kegiatan konservasi musik ini. Irama Nusantara menganggap yang mereka lakukan ialah untuk merawat akses pada pengetahuan dan karya yang tidak pernah diketahui sebelumnya oleh publik luas.
“Ketika tidak pernah terdokumentasikan, enggak pernah tahu apa yang terjadi di belakangnya. Banyak hal yang bisa dijalani ke depan. Entah digunakan secara langsung atau dipelajari lagi sebagai riset. Banyak lagi hal penting yang bisa didapatkan dari pengarsipan musik. Sesederhana rights. Siapa yang memilikinya, enggak dari setiap karya kita tahu. Di manajemen kolektif seperti Asiri mungkin bisa terlacak, tetapi enggak semua mencatatnya,” terang Gerry.
Di sisi lain, Hengki memandang kegiatan Yayasan MMI ialah ikhtiar melestarikan sejarah musik di Indonesia. “Fisik majalah yang terbuat dari kertas bisa rusak, robek, dimakan rayap, atau musnah terbakar. Dengan digitalisasi, konten dari majalah masih bisa diselamatkan. Sejarah tidak hilang.” (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved