Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SINEAS Christina Picchi seharusnya melakukan syuting nya di Gunung Merapi, Yogyakarta, pada Agustus ini. Produksi itu merupakan bagian dari dokumenter terbarunya, About the End. Film itu mengambil lokasi di Eropa, Kanada, dan Gunung Merapi di Indonesia.
“Risetnya sudah dari tahun lalu. Dan harusnya summer ini saya memproduksi dokumenter ini di Merapi. Tapi semua rencana harus dijadwal ulang. Semoga tahun depan kami bisa melanjutkan produksi,” ungkap Christina dalam diskusi Contemporary Cinema in Response to the Pandemic: A Comparison, Italy and Indonesia, yang digelar pusat kebudayaan Italia di Indonesia Istituto Italiano di Cultura Jakarta bersama european studies study program Universitas Indonesia, Kamis, (23/7).
Christina merupakan sutradara Italia yang mendapat fasilitas Torino Film Lab untuk dokumenternya tersebut. Sebagai sutradara yang kerap bekerja sama secara internasional, ia merasakan kesulitannya dalam situasi pandemi saat ini.
Mengingat banyak batasan perjalanan yang tidak mungkin dilakukan ke berbagai negara, ia pun kini tengah memikirkan cara untuk produksi yang lebih melibatkan konten lokal, baik dari cerita maupun latar tempat.
Hal serupa juga dirasakan aktor Indonesia Asmara Abigail, yang juga beberapa kali terlibat produksi dengan beberapa negara. Saat ini, yang juga menjadi perhatiannya ialah keterbatasan kerja sama dengan internasional.
“Saya selalu ingin tahu, kemungkinan untuk bekerja sama dengan kolaborator dari luar. Namun, sekarang tentunya susah karena semua tidak bisa diprediksi,” papar Asmara yang sempat merasakan lockdown di Milan sejak Februari dan kini sudah kembali ke Indonesia sejak sebulan lalu. Saat itu, kehadirannya di Milan ialah dalam rangkaian promosi film terbarunya, Mudik, dan pemutaran film bisu yang diperankannya, Setan Jawa.
Situasi saat ini dilihat sutradara Wregas Bhanuteja tidak ubahnya sebagai pengulangan momen yang pernah terjadi bagi industri film sebelumnya. Dalam periode tertentu, selalu ada batasan yang muncul bagi para sineas.
Ia mencontohkan saat terjadi perang dunia, Roberto Rossellini juga tetap memproduksi filmnya, Rome, Open City. Ia mencontohkan pengalaman yang dekat dengannya. Medio 2014 ketika Gunung Kelud di Jawa Timur erupsi dan hujan abunya sampai Yogyakarta, Wregas memproduksi film pendeknya, Lembusura (2015).
Film itu menjadi nomine Golden Berlin Bear di Berlin International Film Festival dan nomine Golden Firebird Award di Hong Kong International Film Festival.
“Saya membuat film Lembusura di tengah karantina dari hujan abu vulkanik. Kami warga Yogyakarta saat itu tidak bisa pergi ke mana-mana karena terbatas jarak pandang. Di tengah situasi itu, saya memutuskan membuat fi lm yang menggabungkan antara dokumenter dan fiksi. Bisa disebut sebagai eksperimental. Saya merekam setiap kejadian saat hujan abu turun, apa yang terjadi di sekitar, tetangga saya, tanpa naskah. Namun, kemudian setelah sehari merekam, saya memutuskan untuk membuat naskah berdasar rekaman yang saya miliki,” ceritanya.
Ia menuturkan, setelah memiliki naskah yang didasarkan dari rekaman miliknya, kemudian Wregas merekam seorang aktor untuk berperan menjadi Lembusura, tokoh dalam pewayangan, seorang yang memiliki tanduk kerbau. Dengan gabungan rekaman dokumenter sebelumnya dan rekaman yang diarahkan Wregas ke sang aktor, film itu menjadi bentuk eksperimental baru.
“Ini juga untuk membagikan mengenai pandangan orang Jawa yang menganggap bencana bukanlah sesuatu yang harus ditangisi. Bencana juga menjadi bagian dari lingkaran kehidupan. Setelahnya, akan ada kehidupan baru.”
Semangat yang digunakan Wregas itu, juga mengacu pada Dogme 95, gerakan pembuatan film yang diinisiasi sutradara Denmark pada 1995, Lars von Trier dan Thomas Vinterberg. Suatu gerakan sinema yang membatasi pemakaian banyak peralatan untuk disertakan dalam produksi.
Metode tersebut, lanjut Wregas, bisa digunakan di situasi seperti ini atau bisa jadi film-film yang muncul ke depan akan berfokus di dialog dengan kru dan cast yang terbatas. Ia mencontohkan Tokyo Story (Yasujiro Ozu-1953) yang setnya di dalam rumah atau bahkan film Marriage Story (Noah Baumbach-2019), yang secara sinematografi dan set sangat simpel, cast relatif minim, tapi berfokus pada emosi akting dan konten dialog.
“Kreativitas kita saat ini harus lebih banyak digunakan dan saya kira akan ada bentuk baru dari estetika sinema kita,” kata Wregas yang kini juga tengah mempersiapkan film fitur pertamanya.
Meski demikian, Christina, yang akan tetap mempertahankan komposisi krunya di produksi terdekatnya, menyatakan tidak akan mengubah konsep apa pun. Ia lebih memilih untuk menunda sampai situasi kembali benar-benar memungkinkan untuk produksi. Di samping itu, ia juga tengah berjuang untuk kembali menciptakan kolaborasi baru.
“Apa yang dikatakan Wregas, mungkin itu bisa dilakukan untuk film saya juga ke depan. Tapi untuk produksi terdekat tidak akan mengubah kru saya. Untuk jangka menengah, saya memang harus memikirkan model yang lebih memungkinkan untuk melibatkan skala lokal. Untuk saat ini yang bisa dilakukan memang fokus menulis atau riset.”
Kepercayaan
Kepercayaan investor dan produksi juga menjadi fokusnya saat ini. Melihat industri sinema yang saat ini tengah mengalami chaos, baginya agak sulit untuk mendapatkan kepercayaan para pemberi modal.
“Mungkin memang bisa didistribusikan ke OTT atau platform online, tetapi itu tidak menjadi jaminan uang mereka akan kembali, mengingat OTT belum begitu populer di Indonesia. Saya pikir, ini harus dilakukan bersama-sama seluruh film maker. Tidak bisa sendiri-sendiri atau per grup, tetapi bersama untuk menjaga kepercayaan, sinema juga masih menjadi bagian dari industri dan bisnis, dan ini akan tetap berjalan.”
Saat ini, baru Guru-Guru Gokil yang tercatat sebagai film baru nasional yang siap tayang lewat OTT. Film yang diproduseri Dian Sastrowardoyo itu semula diproyeksikan tayang di bioskop pada April. Namun, karena efek pandemi, rencana itu batal.
Dus, pekan lalu, Netflix mengumumkan film tersebut akan menjadi film Netflix original Indonesia. Yang kedua setelah film The Nights Comes for Us (TNCFU) besutan Timo Tjahjanto. Namun, Netflix belum mengumumkan kapan fi lm itu bisa disaksikan.
Adapun pembukaan bioskop di Indonesia yang semula dijadwalkan pada akhir Juli kembali mundur. Sementara itu, di Italia, bioskop sudah kembali buka sejak 15 Juni. “Meski film yang ditayangkan adalah re-run dari film-film winter (DesemberFebruari), tetapi setidaknya itu memberikan peluang distribusi,” kata Christina. (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved