Minggu 26 Juli 2020, 00:55 WIB

Merayakan Hari Anak dengan Bergembira di Rumah

Galih Agus Saputra | Weekend
Merayakan Hari Anak dengan Bergembira di Rumah

MI/Seno

 

SOBAT Medi, apakah kalian juga merasa bosan ketika banyak menghabiskan waktu di rumah? Bagaimana sih cara kalian mengusir kebosanan itu?

Nah, di momen peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh 23 Juli, beberapa teman kita berbagi kisah bermain dengan cara kreatif di rumah. Ya, HAN memang bukan sekadar nama, melainkan sebagai pengingat untuk seluruh masyarakat agar menghormati hak-hak anak, tentunya termasuk bermain.

Namun, memang sobat Medi, saat ini banyak permainan yang kurang mendidik dan menyehatkan. Sebab itu, kita juga harus pintar memilih permainan, ya!

Salah satu contohnya ditunjukkan Virginia Ayu Budi Wiguna. Teman kita yang sekarang duduk di bangku kelas 6 ini punya cara bermain yang sangat kreatif, yakni dengan mengubah kardus bekas menjadi beragam pernak-pernik dan barang yang bermanfaat.

‘Dari kardus bekas, bisa juga digunakan untuk tempat obat-obatan. Cara membuatnya adalah dengan memotong kardus sesuai pola dan menempelnya dengan lem hingga membentuk rak kecil,’ tutur Virginia dalam wawancara tertulis dengan Medi, Kamis (23/7).

Teman kita ini memang sudah terlihat bakatnya dalam kerajinan tangan sejak kecil. Ia sangat senang jika bisa membuat barang yang tidak lagi terpakai menjadi sesuatu yang cantik dan memiliki fungsi baru.

Virginia mengaku ia pun kelak ingin menjadi arsitektur. Selain Virginia, ada juga teman kita yang namanya Muhammad Bilal. Siswa kelas 3 Sekolah Cikal, Serpong, Tangerang Selatan, itu senang sekali bermain wayang kulit.

Seperti kebanyakan anak seusianya, Bilal juga suka bermain lego, gim, dan lain-lain. Namun, teman kita yang satu ini sangat gemar dengan wayang kulit, bahkan sudah tertarik dengan segala hal berbau tradisional sejak kecil.

“Kalau aku bermain wayang itu senang banget soalnya aku bisa buat cerita baru, cerita buatan yang seru saat bermain wayang. Aku senang bisa menggerakkan tokoh-tokoh yang aku suka. Tokoh yang paling aku suka itu Gatotkoco, itu karakter yang paling terkenal, dan the hero di wayang kulit,” tutur teman kita yang senang memakai belangkon itu.

Setiap bermain wayang, Bilal juga menggunakan pengatur waktu (timer). Di usianya saat ini, Bilal belum bermain wayang kulit seperti dalang pada umumnya, ya, sobat Medi. Bilal baru bermain dalam durasi 1 hingga 3 jam.

“Waktu dulu sebelum pandemi, bermain wayang itu setiap Jumat sama Minggu. Jumat itu yang privat, kalau yang Minggu itu dulu ramairamai di sanggar. Sekarang, aku bisa main saat Minggu. Aku les privat lagi, ditemani sama Mbah Kung,” kata Bilal.


Manfaat

Bermain yang baik dan benar memang banyak manfaatnya, dari mengasah kreativitas, memecahkan masalah (problem solving), hingga mengurangi kebosanan.

Ibu Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Jakarta, Anna Surti Ariani, mengatakan bermain tak hanya penting bagi tumbuh kembang kalian, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri untuk berhasil, mengasah koordinasi motorik, dan mengasah kemampuan sosial.

Pada Rabu (22/7), Ibu Anna menjadi pembicara di seminar daring #Mainyuk dari Rumah Bareng Paddle Pop. Dalam acara yang juga diadakan untuk memperingati Hari Anak Nasional 2020 itu, Ibu Anna mengatakan kalau tantangan yang akan dihadapi anak-anak seusia kalian di masa depan itu tidak sama dengan yang dihadapi remaja atau orang tua di masa kini.

Maka dari itu, kalian perlu mendapat bekal yang tidak hanya mengedepankan sisi akademis. “Anak-anak juga perlu dibekali dari segi kreativitas, karakter, dan kemampuan bersosialisasi yang bisa didapat dari bermain,” kata Ibu Anna.

Ibu Ana memahami jika selama ini bahkan banyak ayah dan bunda yang bingung untuk memilihkan permainan yang baik bagi anak. Untuk mengatasi itu, Ibu Anna sempat berbagi cerita tentang tiga konsep penting seputar dunia bermain, yakni meliputi sisi mainan, permainan, dan bermain.

Mainan ialah alat yang digunakan. Mainan menjadi sisi pertama yang dapat membantu sobat Medi ataupun ayah-bunda dalam menentukan dua bermain yang baik. Mainan ini tidak harus dibeli, tetapi dapat dibuat sendiri.

Sisi kedua, permainan, yaitu aktivitas yang diciptakan. Permainan sebenarnya bisa dilakukan tanpa keharusan adanya mainan. Permainan yang mengutamakan aktivitas bisa sangat memacu kreativitas. Sisi ketiga, bermain, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh kesenangan dan memberikan banyak manfaat bagi anak.

“Yang betul-betul memberikan manfaat buat anak sebenarnya bukanlah mainan atau permainan, melainkan proses bermain yang dilakukan anak. Orangtua bisa membantu anak untuk menciptakan mainan, mengusulkan permainan yang akan dilakukan, dan bermain bersama anak. Dengan demikian, anak bisa mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya,” tutur Ibu Anna.

Nah, penjelasan Ibu Anna ini bisa pula sobat Medi sampaikan ke ayah-bunda agar dapat sama-sama memilih permainan yang baik dan menyenangkan. Selamat bermain! (M-1)
 

Baca Juga

Instagram @__youngbae__

Taeyang Jadi Duta Merek Givenchy

👤Basuki Eka Purnama 🕔Minggu 29 Januari 2023, 09:45 WIB
"Saya sungguh bersyukur dapat memulai bagian dari hidup saya ini bersama Givenchy. Ini sungguh sangat berarti untuk...
MI/Tiyok

Jon Bodo: Kesambet

👤Tiyok 🕔Minggu 29 Januari 2023, 05:55 WIB
JON katanya kalo orang kesambet itu kerasukan mahluk halus...
Butet K

Bung Sentil: Kesambet Iblis

👤Butet K 🕔Minggu 29 Januari 2023, 05:35 WIB
BUNG ati-ati lho...Kalau ngoceh di medsos. Bisa kena pasal pidana..trus nanti mewek-mewek pasang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya