Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Mode Survival Industri Pertunjukan

Fathurrozak
05/7/2020 00:10
Mode Survival Industri Pertunjukan
(MI/Duta)

AKAN hadirnya sinema kendara dan konser kendara menjadi bentuk konkret para pelaku industri kreatif dalam upaya mereka bertahan di tengah keterpurukan roda bisnis hiburan.

Hingga 21 April, setidaknya ada 234 hajat kesenian yang batal atau ditunda. Terbanyak berasal dari sektor musik, sebanyak 113 acara. Dari sektor film, sekurang-kurangnya ada 30 agenda yang batal, meliputi produksi, perilisan film baru, pemutaran, dan festival.

Data tersebut dihimpun oleh Koalisi Seni Indonesia, organisasi berbadan hukum yang memayungi para pelaku kesenian. Banyak kegiatan luar jaringan telah dialihkan ke dalam jaringan. Dengan hadirnya konser daring baik yang langsung seperti Mostly Jazz Indra Lesmana dan Dewa Budjana maupun secara prarekaman.

Seni pertunjukan agak repot untuk alih medium meski tercatat ada beberapa kelompok yang melakukannya. Semisal dengan mengunggah ulang rekaman pementasan seperti dilakukan Titimangsa Foundationnya Happy Salma.

Bentuk lain yang kini siap muncul ialah sinema kendara (drive-in cinema), yang akan berlangsung pada 16 sampai 19 Juli ini di kawasan Edutown 2 BSD, Serpong, Tangerang. Ergo & Co menjadi salah satu motor penggerak inisiatif ini. Ada 14 film yang akan diputar.

Mayoritas film impor lantaran susahnya mendapat izin dan hak penayangan film lokal. Pendiri Ergo & Co, Adam Hadziq, menyebutkan upaya pihaknya untuk mengejar perizinan dan hak tayang film dalam negeri banyak menemui kesulitan. Musababnya, banyak pemegang hak film berharap filmnya ditayangkan oleh ekshibitor besar - beredar di jaringan bioskop.

Sementara itu, ketika film sudah pernah ditayangkan di luar jaringan bioskop, biasanya ekshibitor besar enggan memberi slot sebab film yang diputar nantinya bukanlah film baru atau box office.

“Banyak aturan mainnya juga karena terkait ekshibitor besar di Indonesia. Sebenarnya, di dunia industri bioskop, kami bukan kompetitor, melainkan sebagai alternatif lain di Indonesia yang sudah lama hilang. Dan sekarang dimunculkan kembali, kebetulan pas di momen pandemi ini,” ungkapnya saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (30/6).

Dengan tiket sekitar Rp300 ribu untuk satu mobil yang maksimal berisi tiga penumpang, alternatif rekreasi yang dihadirkan ini juga menjadi upaya untuk memantik semangat para pelaku industri hiburan. Setiap pemasukan tiket yang terjual kelak akan dipotong Rp20 ribu untuk didonasikan kepada para pekerja film.

“Ini bentuk survival mode di era pandemi ini. Bisa dikatakan industri entertainment mati suri, jadi mesti melihat peluang, bisa hidupkan kayak ini (drive-in cinema). Mau tidak mau kita jalankan, gandeng banyak pihak. Bukan hanya sponsor, dari pemerin tah, juga kepolisian, bukan sekadar minta izin, tetapi kami ajak kerja sama,” lanjut Adam.

Saat ditanya mengenai perhitungan profit yang akan masuk, Adam mengatakan belum bisa memerinci. Namun, ia menegaskan batas bawahnya tentu saja balik modal. Jangan sampai justru semakin boncos di masa krisis. “Dari sisi buat cari cuan dan margin, tentu berusaha semaksimal mungkin. Pasti sangat kita kejar, masak lagi terpuruk gini jadi makin tambah,” tambahnya.

Dari total pengeluaran, paling banyak untuk urusan teknis ketimbang hak tayang film. Untuk audio film yang diputar, umpama, Ergo & Co bekerja sama dengan salah satu saluran radio yang akan ditransmisikan ke mobil para penonton. Pihak MD Pictures, yang filmnya akan ikut tayang di layar drive-In cinema, menganggap wahana itu sebagai alternatif di situasi sekarang bagi publik yang ingin mengakses
hiburan. “Drive-In cinema adalah inisiatif pilihan ‘hiburan’ yang menarik bagi masyarakat. MD Pictures tentunya mendukung inisiatif tersebut.

Masyarakat yang rindu untuk menonton kembali beberapa film produksi kami, dapat menikmatinya secara nyaman. Drive-In cinema akan memutar kembali (re-run) beberapa fi m produksi MD Pictures yang sudah tayang di bioskop,” jelas Head of Marketing MD Pictures Astrid Suryatenggara saat dihubungi pada Kamis (2/7).


Kultur baru

Upaya menghidupkan kembali industri hiburan juga diupayakan Berlian Entertainment, yang memprakarsai konser kendara bertajuk Drive-in Konser. Bisa jadi, konser ini menjadi pertunjukan offline perdana di Indonesia di masa pandemi setelah serentetan konser daring belakangan ini.

Konser kendara tersebut akan berlangsung pada Agustus, dengan edisi debut terdiri atas dua show dalam dua hari. Kahitna akan menjadi pengisi salah satunya, sekaligus merayakan 34 tahun usia mereka. Menggelar hajat musik yang mendatangkan banyak orang dan berada di tengah situasi pandemi, tentu ada hal yang harus diwanti-wanti.

Pertama, keamanan untuk seluruh pihak yang hadir di venue, dan kedua, risiko biaya yang dikeluarkan penyelenggara. “Kalau bicara business model sangat sulit. Dengan lahan yang akan kita pakai nanti (di situasi normal) harusnya bisa mendatangkan sekitar 15 ribu orang. Nanti dengan format penonton di mobil, kapasitas maksimal 300 mobil, secara potensi income sangat jauh. Makanya, kami menggunakan pendekatan kolektif dari sisi produksi. Kerja sama, urunan dengan teman-teman produksi, marketing, venue, untuk menekan cost. Kalau dengan pembiayaan seperti sebelumnya, pasti akan susah,” jelas Project & Creative Director Berlian Entertainment Dino Hamid saat berbicara dengan Media Indonesia melalui sambungan telepon, Rabu (1/7).

Untuk menghindari risiko rugi, Dino dan timnya menggandeng banyak sponsor. Perbedaan yang bisa dijelaskan secara gampangnya, ketika venue yang seharusnya bisa mendatangkan 15 ribu penonton, dan kini hanya dibatasi dengan kapasitas 300 mobil dikali maksimal
4 penumpang satu mobil, hanya akan mendatangkan 1.200-an penonton. Tentu ini berdampak ke pendapatan.

Selain penonton, personel tim di lapangan nantinya juga akan dibatasi. Maksimal 100 kru yang turun ke lapangan. Di sisi lain, berbeda dari konser dalam situasi normal, kali ini juga ada satuan tugas yang diberi nama Safety Planet untuk mengontrol pelaksanaan protokol kesehatan di venue. Pengadaan tim itu juga berimplikasi pada penambahan biaya produksi.

“Cost terbesar (masih) di sisi produksi. Untuk area sebesar itu dengan 300 mobil, panggung enggak mungkin seadanya. Harus bisa dilihat seluruh mobil yang hadir. Semuanya masif, baik panggung maupun layar. Investment di tim satuan tugas Safety Planet juga cukup besar, baik dari penempatan pekerjanya maupun penyediaan materi agar tetap sesuai standar dan protokol kesehatan,” lanjut Dino.

Meski secara profit sedikit sulit untuk mengejar seperti saat situasi normal, Dino menganggap konsep hiburan dengan roda empat ini menjadi salah satu cara aman agar orang bisa tetap menjaga jarak dan terhibur. Ekspektasi lain tentu ialah untuk menghidupkan industri. “Kalau
secara pelaksanaan dan komersial berjalan, ini akan jadi peluang dan kultur baru bagi industri pertunjukan. Ini bisa diadaptasi di titik-titik lain, dan tentunya bisa menghidupkan industri lagi. Enggak cuma promotor ya, ada banyak pihak, seperti vendor produksi, artis. Implikasinya, kalau ini berhasil berjalan, mereka bisa kembali hidup.”

Senada dengan Dino, Adam juga berharap kehadiran drive-in cinema bakal jadi suntikan semangat bagi pekerja industri film untuk melihat peluang baru.

“Saya pikir dengan menghadirkan drive-in cinema, jadi banyak celah pekerja kreatif untuk menghidupkan kembali. Bisa jadi peluang ke sana nantinya besar, ada festival untuk film-film indie, ada komunitas, ini bisa kita garap. Kalau pekerja di industri film mau berpikir dan menggali lebih dalam, ini bisa jadi batu loncatan besar.” (M-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya