Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA kasus coronavirus melonjak, masih saja banyak masyarakat yang menolak untuk memakai masker dan keras kepala untuk hidup selayaknya normal. Padahal tanpa vaksin atau obat-obatan, satu-satunya solusi yang kita miliki untuk memerangi covid-19 adalah memakai masker. Beberapa psikolog mencoba menjabarkan alasan psikologi yang menjadi pendorong perilaku orang-orang itu.
David B. Abrams, profesor ilmu sosial dan perilaku di School of Global Public Health di New York University, Amerika Serikat (AS) mengatakan kegelisahan dan polarisasi ekstrim atas pemakaian masker dapat dihubungkan ke satu hal, yaitu krena virus dan pandemi ini terasa sangat asing.
"Manusia, seperti primata lain dan mamalia lain, memiliki naluri kuat untuk bertahan hidup yang mendasari yang menjadi hiper-stimulasi di bawah ancaman tiba-tiba musuh yang tidak dikenal. Ini mengarah pada apa yang oleh para psikolog disebut 'kognisi panas' dengan serangkaian emosi yang kuat dan kuat yang benar-benar mengesampingkan dan menghapus pemikiran rasional," kata Abrams dikutip Huffington Post.
Joseph J. Trunzo, seorang profesor dan ketua departemen psikologi di Universitas Bryant di Smithfield, Rhode Island, AS, mengatakan setiap perilaku manusia, bahkan perilaku yang tampaknya sederhana, seperti mengenakan masker atau tidak - ditentukan oleh beberapa faktor, keyakinan politik, ideologi, faktor sosial, dan pendidikan.
"Dalam konteks ini dan semua perubahan dari waktu ke waktu dengan virus ini, dan Anda dengan cepat memiliki alasan yang sangat rumit untuk pilihan perilaku individu mana pun. Alasannya beragam, tetapi ada beberapa argumen umum yang dibuat oleh anti-masker," kata Trunzo.
Alasan tersebut antara lain orang-orang merasa begitu banyak yang tidak pasti saat ini. Itu membuat mereka merasa memegang kendali atas dirinya untuk memilih keluar tanpa masker.
"Ketidakpastian melahirkan ketakutan, yang secara alami memicu kebutuhan akan kontrol," kata Trunzo.
Sejak coronavirus pertama kali muncul awal tahun ini, pedoman tentang apakah kita harus memakai masker tidak konsisten. Pesan campuran dari kepemimpinan dan komunitas ilmiah tentang tindakan pencegahan yang tepat telah membuat amanat untuk memakai menjadi perdebatan.
Shane G. Owens, seorang psikolog dan asisten direktur kesehatan mental kampus di Farmingdale State College (SUNY), melangkah mengatakan bahwa para ilmuwan dan dokter menanggung sebagian besar kesalahan karena kegagalan perlaku masyarakat yang tidak mengenakan masker dan tidak menjaga jarak karena pesannya sebelumnya simpang siur.
"Pada awalnya, ilmuwan dan dokter tidak bisa mengatakan, 'Kami belum tahu' dengan virus ini. Pesan campuran yang kita semua terima mungkin adalah penyebab utama untuk tidak mengenakan masker. Rekomendasi yang tidak konsisten, bersama dengan polarisasi bersejarah partai politik, memperbesar ketidakpercayaan masyarakat terhadap mandat pemerintah," pungkas Owens. (M-1)
PEMAHAMAN mendalam mengenai tahapan perkembangan psikologi anak bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan fondasi utama dalam pola asuh modern di tahun 2026.
Psikologi menyebut orang yang memasak sambil membersihkan dapur memiliki 8 kepribadian kuat, mulai dari disiplin, mindfulness, hingga manajemen waktu yang baik.
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Dialah Saparinah Sadli, perempuan berusia 99 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang ilmu psikologi dan gerakan perempuan di Indonesia.
Talentlytica bersama Unit Usaha Akademik Unpad akan menggelar Workshop Pauli Reimagined pada 4 Oktober mendatang di Bandung, Jawa Barat
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved