Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA kasus coronavirus melonjak, masih saja banyak masyarakat yang menolak untuk memakai masker dan keras kepala untuk hidup selayaknya normal. Padahal tanpa vaksin atau obat-obatan, satu-satunya solusi yang kita miliki untuk memerangi covid-19 adalah memakai masker. Beberapa psikolog mencoba menjabarkan alasan psikologi yang menjadi pendorong perilaku orang-orang itu.
David B. Abrams, profesor ilmu sosial dan perilaku di School of Global Public Health di New York University, Amerika Serikat (AS) mengatakan kegelisahan dan polarisasi ekstrim atas pemakaian masker dapat dihubungkan ke satu hal, yaitu krena virus dan pandemi ini terasa sangat asing.
"Manusia, seperti primata lain dan mamalia lain, memiliki naluri kuat untuk bertahan hidup yang mendasari yang menjadi hiper-stimulasi di bawah ancaman tiba-tiba musuh yang tidak dikenal. Ini mengarah pada apa yang oleh para psikolog disebut 'kognisi panas' dengan serangkaian emosi yang kuat dan kuat yang benar-benar mengesampingkan dan menghapus pemikiran rasional," kata Abrams dikutip Huffington Post.
Joseph J. Trunzo, seorang profesor dan ketua departemen psikologi di Universitas Bryant di Smithfield, Rhode Island, AS, mengatakan setiap perilaku manusia, bahkan perilaku yang tampaknya sederhana, seperti mengenakan masker atau tidak - ditentukan oleh beberapa faktor, keyakinan politik, ideologi, faktor sosial, dan pendidikan.
"Dalam konteks ini dan semua perubahan dari waktu ke waktu dengan virus ini, dan Anda dengan cepat memiliki alasan yang sangat rumit untuk pilihan perilaku individu mana pun. Alasannya beragam, tetapi ada beberapa argumen umum yang dibuat oleh anti-masker," kata Trunzo.
Alasan tersebut antara lain orang-orang merasa begitu banyak yang tidak pasti saat ini. Itu membuat mereka merasa memegang kendali atas dirinya untuk memilih keluar tanpa masker.
"Ketidakpastian melahirkan ketakutan, yang secara alami memicu kebutuhan akan kontrol," kata Trunzo.
Sejak coronavirus pertama kali muncul awal tahun ini, pedoman tentang apakah kita harus memakai masker tidak konsisten. Pesan campuran dari kepemimpinan dan komunitas ilmiah tentang tindakan pencegahan yang tepat telah membuat amanat untuk memakai menjadi perdebatan.
Shane G. Owens, seorang psikolog dan asisten direktur kesehatan mental kampus di Farmingdale State College (SUNY), melangkah mengatakan bahwa para ilmuwan dan dokter menanggung sebagian besar kesalahan karena kegagalan perlaku masyarakat yang tidak mengenakan masker dan tidak menjaga jarak karena pesannya sebelumnya simpang siur.
"Pada awalnya, ilmuwan dan dokter tidak bisa mengatakan, 'Kami belum tahu' dengan virus ini. Pesan campuran yang kita semua terima mungkin adalah penyebab utama untuk tidak mengenakan masker. Rekomendasi yang tidak konsisten, bersama dengan polarisasi bersejarah partai politik, memperbesar ketidakpercayaan masyarakat terhadap mandat pemerintah," pungkas Owens. (M-1)
Posisi di tengah membuat seorang anak merasa perlu melakukan upaya ekstra untuk mendapatkan perhatian orangtua yang sering kali terbagi.
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Ada mekanisme psikologis dan neurologis yang sangat kompleks yang membuat manusia modern begitu terobsesi dengan urusan privasi orang lain, seperti netizen yang terobsesi dengan artis.
PEMAHAMAN mendalam mengenai tahapan perkembangan psikologi anak bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan fondasi utama dalam pola asuh modern di tahun 2026.
Psikologi menyebut orang yang memasak sambil membersihkan dapur memiliki 8 kepribadian kuat, mulai dari disiplin, mindfulness, hingga manajemen waktu yang baik.
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved