Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Kembali ke Drama Audio

Fathurrozak
26/4/2020 01:35
Kembali ke Drama Audio
(Dok BOX2BOX MEDIA NETWORK)

SIAPA yang dulu rajin menyimak sandiwara radio? Suatu bentuk hiburan yang punya masa jaya di era 1980-an sampai awal 1990-an.

Sekarang, popularitas sandiwara radio memang telah memudar, atau bahkan nyaris sirna. Namun, kini mulai bermunculan drama audio pada sejumlah platform yang memantik kembali memori akan sandiwara radio.

Ramadan tahun ini bahkan tampaknya dapat dikatakan sebagai momentum ‘panen’ bagi para kreator drama audio. Berbagai judul bermunculan, berlomba untuk menjadi pengisi waktu di bulan suci, di masa pandemi. Rapot, kanal siniar (podcast) oleh Reza Chandika, Ankatama Ruyatna, Nastasha Abigail, dan Radhini Aprilya merilis drama audio Mau Gak Mau. Serial itu tayang setiap hari selama Ramadan sejak 24 April. Produksi dilakukan sejak akhir tahun lalu.

“Tentu secara timeline lebih panjang karena melibatkan lebih banyak orang. Kami juga melewati sesi reading seperti aktor/aktris sebelum shooting film. Kemudian proses rekaman semua audio yang dibutuhkan, dan terakhir adalah post-production; tim editing, tim SFX sound, music scoring, mix dan master yang membungkus setiap episodenya sampai siap ditayangkan,” ungkap Nastasha Abigail, yang juga bertindak sebagai line producer Mau Gak Mau saat dihubungi Media Indonesia pada Jumat (24/4).

Selain perkara waktu produksi, bujet yang dibutuhkan juga lebih besar. Bila untuk memproduksi konten reguler Rapot hanya perlu empat personel, untuk drama audio mereka memperlakukannya dengan pendekatan serupa produksi fi lm atau serial.

“Bujetnya besar dan ada nilai jual lebih. Pada akhirnya kami coba menjual produk ini kepada brand. Untuk valuasi yang dihasilkan, ibarat bikin album, sudah jadi tiga album dari 30 episode Mau Gak Mau,” ungkap Manajer Bisnis Rapot, Melon Lemon.

Ia enggan mengungkap berapa nominal untuk produksi 30 episode. Saat ditanya apakah mencapai ratusan juta, ia tidak menampiknya. Di samping Rapot, ada Box2Box Media Network, jejaring media yang menaungi berbagai kanal siniar. Pada Ramadan ini, mereka bermitra dengan Netflix Indonesia mengudarakan serial drama audio Ramadan Pak Budi. Medium podcast drama audio tampaknya dipilih Netflix sebagai upaya untuk mengenalkan konten-konten platform mereka.

“Kami ingin menghibur anggota kami di Indonesia dengan cerita yang unik dan relevan, seperti cerita keluarga Pak Budi, serta menggunakan podcast ini sebagai media untuk berbagi informasi mengenai beragam pilihan konten serta edukasi produk Netflix,” jelas pihak Netfl ix dalam
surat elektronik. Total, ada lima episode Ramadan Pak Budi.

Bukan hanya podcaster, layanan streaming musik Joox juga kembali memproduksi tiga drama audio untuk Ramadan. Tahun lalu, Joox melakukan hal serupa dan mengklaim didengarkan 3,5 juta kali. Joox The Series tahun ini menyiarkan tiga cerita drama audio: Para Pemburu Follower, Best Friend, dan Jatuh Cinta Sendiri. Episode baru hadir setiap pukul 17.00 WIB di aplikasi tersebut.


Kompleks nan prospektif

Bisa jadi karena kompleksitasnya, Abigail mengatakan saat ini konten siniar dengan format cerita drama belum begitu banyak digarap oleh para podcaster. “Mungkin disebabkan tidak adanya tim produksi yang dapat mendukung untuk podcast dengan format bercerita. Karena hal itu butuh lebih banyak pihak, dari penulis cerita hingga tim produksi efek suara,” ungkapnya.

Mondo Gascaro, yang mengisi musik drama audio Ramadan Pak Budi, mengamini bahwa memproduksi podcast cerita drama memang lebih kompleks ketimbang format  bincang-bincang. “Karena paling tidak butuh cast, bujetnya lebih besar, dan waktu, karena ada aktivitas produksi. Ada cerita, musik, juga sound effect,” papar Mondo yang baru pertama kali terlibat dalam proyek drama audio.

Bila dalam mengisi scoring film ia memiliki acuan visual, untuk drama audio justru kebalikannya. Ia harus menciptakan visualnya. Secara instrumentasi, Mondo mengisinya dengan string section, dasar piano, dan unsur akustik, juga gitar.

“Kalau film acuannya ada visualnya, yang bikin kita menentukan mood-nya seperti apa. Drama audio berdasarkan naskah saja tidak bisa. Jadi kemarin saya meminta untuk audio (dialog-narasi) sudah ada dulu.”

Di lain hal, identiknya Ramadan dengan produksi konten drama bagi platform audio, seperti dilakukan radio sejak dekade-dekade lalu, diakui Tubagus Akmal, Manajer Produksi Box2Box Media Network. “Anggapan ini muncul karena konten ini bisa jadi pengisi waktu ngabuburit di kala pendengar radio pada masa itu mencari hiburan selain visual. Kekuatan theater of mind menarik pendengar untuk terbawa pada alur dan cerita drama audio,” ungkap Akmal saat dihubungi Media Indonesia, Jumat (24/4).

Namun, menurutnya, drama audio masa kini bukan lagi tren saat Ramadan saja. Sebelum Ramadan Pak Budi, Box2-Box sudah memproduksi konten podcast format cerita drama lewat kanal Hello Goodbye. Kanal itu ia sebut telah memiliki total putar di atas 20 ribu sejak episode perdana pada 13 Maret silam.

“Potensi ke depannya, menurut kami, sangat baik karena pasar pendengar podcast yang dinamis akan menginginkan format  baru dan berbeda dari apa yang sering mereka dengar saat ini,” ucap Akmal. (M-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya