Kamis 04 Juli 2019, 04:20 WIB

Agustinus Priyanto Pejuang Tempe Organik

Tosiani | Weekend
Agustinus Priyanto Pejuang Tempe Organik

FOTO-FOTO: MI/TOSIANI
Agustinus Priyanto

 

AGUSTINUS Priyanto, baru saja menerima kiriman kedelai organik dari luar daerah, Selasa siang (24/6), sebab para pegawai telah pulang, di rumahnya yang terletak di Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat. Pria 64 tahun itu menata sendiri karung-karung kedelai dan segera mengecek kualitasnya.

Di Instagram, ia dikenal dengan sebutan 'Agus Tempe'. Akunnya, @agus_tempe memiliki lebih dari 4.000 pengikut. Dalam keterangan profil, ia menyebut sebagai artisan tempe kedelai lokal, non-GMO (organisme dengan modifikasi genetik) dan organik.

Menyebut diri sebagai artisan atau dalam bahasa Indonesia berarti seseorang yang membuat produknya dengan tangan dan sangat ahli di bidang tersebut, sepertinya memang tidak berlebihan buat Agus. Tidak hanya berbisnis tempe organik, ia telah banyak memberikan pelatihan pembuatan produk pangan tersebut. Seperti dilihat di medsosnya, peminat pelatihan itu banyak kalangan menengah atas.

Kepada Media Indonesia, Agus mengungkapkan jika kecintaan pada makanan organik, terutama tempe, telah tumbuh sejak 2008, saat menjalani tugas pendampingan petani di Aceh selama enam bulan.

"Saat di Aceh ini menjadi titik balik bagi saya yang mulai menganggap penting organik. Di situ saya mendampingi masyarakat untuk pengembangan pertanian organik, ngajak masyarakat beternak, budi daya cabai dan sayuran, ayam petelur, kambing, dan kerbau. Kemudian kami mengembangkan tanaman koro pedang," tutur Agus.

Dari situ, ditambah dengan pengetahuan tentang pertanian organik yang didapatkan dari berbagai literatur dan sumber, ia menyadari pentingnya pertanian organik bagi lingkungan dan ketahanan pangan. Pertanian organik dapat membuat petani lebih mandiri karena dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk produksinya.

Contohnya ialah penggunaan pupuk organik dengan memanfaatkan kotoran ternak. Hal ini pula yang Agus kampanyekan saat menjadi pendampingan petani di daerah Majalengka pada 2010. Ketika itu ia menjadi mitra dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) bentukan Perum Perhutani. "Di sana banyak domba di kandang panggung, tapi semula kotoran dan air kencingnya hanya dikumpulkan lalu dibakar. Saya ajari petani mengolahnya jadi pupuk organik," kenangnya.

Agus kemudian lebih memfokuskan diri sebagai penggerak pertanian organik jenis kacang koro pedang (Canavalia ensiformis). Komoditas itu ia pilih karena dapat diolah menjadi produk makanan yang berdaya jual tinggi, sehat, dan diminati. "Konsep saya, kalau sudah ada hasil jangan dijual, tapi diolah seperti untuk snack, bikin tempe," tambahnya.

Bisnis
Keseriusannya di pembuatan tempe koro pedang membuatnya menghasilkan standard operational procedure (SOP) pembuatan makanan itu. Maka dari itu, semenjak 2012, ia pun terjun ke bisnis tempe koro pedang organik. Atas dorongan Komunitas Organik Indonesia (KOI), ia pun memamerkan dan memasarkan tempe koro pedang organik di Green Mall, kawasan Tebet, tidak lama setelahnya.

"Responsnya ternyata positif. Ada repeat order, harus saya layani, sehingga pendampingan petani di Majalengka saya tinggalkan," ungkap Agus.

Kini ia sudah memiliki tiga orang karyawan. Pemasarannya juga menembus kalangan menengah ke atas. Kini tempe buatan Agus sudah dipasarkan di Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, dan Karawaci.

Selama tiga tahun pertama merintis usahanya, Agus hanya membuat tempe organik berbahan kacang koro pedang. Pasokan koro pedang ia dapat dari Temanggung, Jawa Tengah. Dipilihnya jenis kacang ini karena kandungan nutrisinya tinggi.

Ia juga berambisi ingin mengatasi ketergantungan pada impor kedelai yang mayoritas jenisnya mengandung GMO. Di Amerika bahan ini dikembangkan jadi biofuel, yakni untuk bahan bakar nabati atau solar. Belakangan bahan ini juga digunakan sebagai pakan ternak, bukan untuk bahan pangan manusia.

"Sebenarnya makanan kita yang utama penganan lokal, bukan dari impor. Kita hidup di daerah tropis, ya makan yang ada di sekitar kita. Bukan saya antiimpor, tapi paling bagus makanan lokal untuk lokal," ujarnya.

Namun, pengolahan koro memiliki kelemahan pada proses yang lebih lama karena proses penghilangan kandungan asam sianida. Jika kedelai biasa diolah jadi tempe butuh waktu tiga sampai empat hari, koro butuh waktu hingga lima hari.

Menurut Agus, kandungan gizi koro mirip kedelai, dengan kadar protein 27%, sedangkan protein kedelai 32%. Potensi produksi koro 20 ton per hektare, lebih tinggi dari kedelai yang hanya 4 ton per hektare. Satu kilogram (kg) kedelai jika diolah hanya jadi lima bungkus tempe ukuran masing-masing 300 gram. Harga koro lebih murah dari kedelai, yakni Rp5.000 per kg pada 2016, dan sekarang Rp9.000-10.000 per kg.

Demi memenuhi permintaan dan selera konsumen, mulai 2015 Agus juga memproduksi tempe kedelai kuning dari jenis lokal organik. Ia mendapatkan kedelai organik dari daerah Yogyakarta dengan harga Rp15 ribu per kg di luar ongkos kirim. Produksi tempe kedelai kuning juga untuk mengatasi minimnya pasokan koro pedang.

Agus juga telah mencoba membuat tempe dari kacang hijau, kedelai hitam, kacang tanah, kacang tholo, dan kacang merah. "Saya ingin mematahkan pemikiran bahwa tempe identik dengan kedelai. Tempe bisa dibuat dari biji-bijian lainnya," ujar pria asal Yogyakarta ini.

Eksperimennya makin berkembang dengan kini membuat tempe herbal masih dengan bahan dasar kacang-kacangan. Kreasinya antara lain ada tempe kunyit, tempe kencur, tempe kayu manis, tempe stevia/kelor, dan tempe spirulina. Untuk percobaan tiap jenis tempe membutuhkan waktu trial and error rata-rata hingga tiga bulan sampai ia mendapatkan komposisi tempe yang pas.

"Indonesia memiliki banyak bahan jamu-jamuan, rempah-rempah, jadi saya coba memanfaatkan. Saya bicara sehat, bukan rasa. Utamakan makanan sehat, enak itu bonus. Karenanya, saya ingin membuat tempe sehat," kata Agus.

Tempe keju premium dijualnya Rp15 ribu per bungkus ukuran 200 gram, tempe dengan bahan campuran empat jenis kacang premium dijual Rp7.000 per bungkus ukuran 200 gram, tempe bit premium dijual Rp9.000 ukuran 200 gram. Tempe herbal dijual rata-rata Rp7.000 tiap jenis ukuran 200 gram. Khusus untuk tempe spirulina dijual Rp15 ribu per 200 gram. Tempe koro dijual Rp5.000 per bungkus ukuran 250 gram, dan tempe kedelai hitam dijual Rp9.000 per 250 gram.

Adapun produksi tempe sehatnya per hari mencapai 10 kilogram untuk kedelai kuning sebagai patokan. Produksi tempe Koro sesuai permintan rata-rata 2-3 kilogram per hari. Omzet tempe organik milim Agus rata-rata mencapai Rp400-500 ribu per hari.

Berdasarkan perhitungan bisnis, menurutnya, produksi tempe organik lebih menguntungkan ketimbang tempe dari kedelai impor. Memang harga kedelai impor hanya di kisaran Rp7.000-an per kg. Namun, di tingkat pengrajin tempe tidak bisa dijual mahal, sedangkan tempe kedelai organik bisa dijual dengan harga dua kali lipat lebih mahal daripada tempe kedelai impor. (M-1)

Baca Juga

Dok. Instagram @batiksemar_official

Batik Semar akan Hadir di Metaverse

👤Putri Rosmalia 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 16:50 WIB
Batik Semar telah lebih dulu meluncurkan NFT pada Februari...
AFP/Bill Ngalls

Jangan Lewatkan, Pekan ini akan jadi Puncak Hujan Meteor Perseids

👤Adiyanto 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 09:00 WIB
Perseid adalah butiran debu yang pernah menjadi bagian dari ekor komet Swift-Tuttle, yang mengorbit matahari setiap 133 tahun...
dok: MLI

Tour Standup Comedy "Lo Semua Sama Aja' Digelar di 8 Kota

👤adiyanto 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 08:45 WIB
Tur “Lo Semua Sama Aja”  merupakan tur standup comedy dengan line up Adriani Qalbi yang merupakan salah satu talent...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya