Kamis 09 Mei 2019, 01:00 WIB

Digitalisasi Detail Komposisi

Tosiani | Weekend
Digitalisasi Detail Komposisi

MI/tOSIANI
Denny Ertanto

 

INGAR bingar Avengers: Endgame sepertinya belum berakhir. Tidak semata di depan layar dan para aktornya, tapi juga mereka yang di balik layar. Salah satunya Denny Ertanto, yang terlibat sebagai digital compositor dari Studio Weta Digital, Wellington, Selandia Baru.

Pria berusia 30 tahun asal Jakarta itu terlibat dalam bagian final battle Avengers. Ia terlibat dalam adegan serangan Thanos ke Gedung Avengers, pertarungan Iron Man melawan Thanos, dan momen terakhir Tony Stark.

"Saya bangga banget bisa dapet kesempatan untuk bisa mengerjakan beberapa bagian di film ini. Apalagi mendengar film ini sangat sukses," ungkap Denny kepada Media Indonesia melalui surel, Minggu (5/5).

Denny mengaku terkesan saat terlibat dalam proses mengubah wajah Tony dengan beberapa luka. Apalagi pengambilan gambar secara close up membuat raut, struktur, dan detail wajah sang peran Tony Stark, Robert Downey Jr, terlihat jelas.

"Saat itu saya harus melakukan ‘digital make up’ di wajah dia. Jadi, kesulitan utama adalah mencari solusi teknis untuk tetap menunjukkan performa ekspresi Robert Downey Jr setelah kita menaruh digital make up. Jadi, kalau ada air mata atau keringat, kita harus bisa meng-introduce detail tersebut kembali," tutur Denny.

Meski memiliki tantangan tersendiri, Denny mengaku senang bisa terlibat dalam proses itu.

Denny mengaku profesinya sebagai digital composer belum banyak dikenal orang. Tugas dari digital composer, kata Denny, lebih luas jika dibandingkan dengan animator. Compositor lebih dikenal di industri perfilman sebagai department 2 (dua) dimensi, sedangkan animator satu bagian dari department 3D.

Tugas utama digital composer ialah menggabungkan elemen atau gambar yang sudah dihasilkan departemen-departemen lain ke dalam hasil shooting, bisa berupa layar hijau, biru, atau cuplikan biasa.

Lebih dari itu, sebagai digital composer, Denny harus meletakkan detail-detail agar cuplikan itu jauh lebih hidup dan realistis. Seperti debu, cahaya, dan darah.

Sudah 10 tahun Denny menjalani profesi sebagai digital composer. Ia tertarik menjadi digital composer sejak SMA. Ia pun mulai belajar efek digital melalui kursus 3D. Denny sempat belajar ke Singapura mengambil jurusan foundation of visual art. Kemudian ia pindah ke Kanada untuk belajar 3D animation and visual effects di Vancouver Film School, Kanada.

"Awalnya saya memang suka seni, jadi saat itu lagi pengen cari tahu apa aja. Lalu pas saat itu saya lihat 3D animasi Pixar, akhirnya ingin belajar 3D lalu setelah saya pindah ke Kanada, saya merasa compositor jauh lebih cocok dengan saya. Lambat laun, saya berpikir ini profesi yang menyenangkan, dan bisa menjadi bagian storytelling dalam bagian semua karya di balik layar," tutur Denny.

Lulus dari Kanada, Denny memutuskan kembali ke Tanah Air karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Ia melamar pekerjaan hingga ke 50 perusahaan terkait animasi dunia. Akhirnya ia diterima di Animasi Infinite Studio, (dulu infinite Frameworks Studio) yang berlokasi di Batam. Selama setengah tahun ia bekerja di sana. Karya pertama Denny, yakni Tatsumi, film 2 dimensi di Infinite frameworks Studio Batam.

"Cuma di pikiran saya, saya punya mimpinya ke luar, akhirnya saya apply lagi ke sana sini lagi, akhirnya diterima di studio visual effects bernama Pixomondo di Shanghai, PRC," katanya.

Di Pixomodo itu menjadi pertama kali bagi Denny mengerjakan event, iklan televisi, dan film. Denny merasa studio tersebut memberinya kesempatan bekerja di box office, dengan memercayakannya mengerjakan film George Lucas Red Tails meski hanya bagian kecil untuk compositor lain, seperti asap dan pecahan gelas.

Kariernya perlahan meningkat, ia pun naik menjadi middle level compositor, senior, dan menjadi lead position. Selama tiga tahun ia bekerja di studio tersebut. Project terakhirnya di sana ialah ‘Fantastic Beast and Where to Find Them.

Di studio ini ia bergabung di beberapa film yang mendapatkan nominasi visual effects di Oscar, salah satunya Xmen Days of Future Past dan The Martian. Ia juga mengerjakan Hugo yang memenangi ‘best visual effects’ di Oscar/Academy.

"Saya lalu pergi ke Seoul untuk berlibur sambil mencari kerja. Saat akan pulang, saya malah mendapatkan tawaran bekerja kembali ke Kanada, tepatnya di Moving Picture Company (MPC) Montreal, Quebec. Studio ini merupakan studio cabang dari Inggris yang saya ingin bekerja. Akhir 2016 saya pindah ke Weta Digital di Wellington, Selandia Baru. Ini studio impian saya sampai sekarang," ujarnya.

Referensi
Saat berkarya, menurut Denny, biasanya konsep sudah disediakan klien. Akan tetapi, ia juga menambah banyak hal dari referensi, terkadang ada testing yang sudah dilakukan klien. Inspirasi awalnya dimulai dari melihat di internet dan melihat lingkungan sekitarnya. Dalam berkarya, Denny bertujuan membuat apa yang ia kerjakan ‘tidak terlihat’. Jadi, harus berdasarkan fakta, kecuali tujuan artistik.

Dalam merealisasikan ide dan inspirasi menjadi karya digital, Denny pun kerap dibantu orang lain. Pada setiap cuplikan ada sekitar 10-20 orang yang terlibat yang saling membantu. Ia menambahkan, untuk merealisasi ide biasanya dengan banyak melihat foto referensi, dan melihat sekitar, bagaimana sebuah objek berinteraksi dengan objek lain.

"Banyak observasi cahaya sekitar, belajar bagaimana cahaya bereaksi dengan lensa kamera, dan semuanya bekerja di bawah department supervision. Nantinya ada lagi supervisor utama yang mengambil keputusan," katanya.

Tidak lepas ialah dukungan perangkat pekerjaan sangat dibutuhkan dan mempercepat proses pengerjaan. Pasalnya, profesi yang diambilnya bisa dilakukan secara freelance atau in-house, seperti untuk film box office, karena jam kerjanya tidak menentu.

Dengan jam kerja yang tidak menentu itu, bayarannya pun lumayan wah. Namun, setiap negara memiliki patokan gaji yang berbeda untuk digital composer. Bagi digital composer pemula akan mendapat gaji rata-rata  Rp3,5 juta-Rp40 juta per bulan. Digital composer menengah bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp50 juta-Rp60 juta per bulan, sedangkan senior bisa mencapai Rp100 juta atau lebih per bulan. (M-3)

 

Baca Juga

dok: Buku Mojok

Cara Bijak Menjalani Patah Hati

👤Fathurrozak 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 09:00 WIB
Patah hati sampai saat ini secara umum masih dianggap sebagai hal yang trivial dan terkesan...
unsplash.com/Manki Kim

Sejarah Yamamotoyama, Salah Satu Perusahaan Teh Tertua dan Terkaya di Jepang

👤Devi Harahap 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 08:14 WIB
Hingga saat ini, merek Yamamotoyama masih tetap mempertahankan eksistensinya di usia yang sudah menginjak lebih dari 300...
unsplash.com/Franki Chamaki

Studi Ungkap Dampak Lingkungan dari 57.000 Produk yang Dijual di Supermarket

👤Devi Harahap 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 08:02 WIB
Kebaruan dari laporan tersebut terletak pada analisisnya yang berkaitan dengan produk kemasan terdiri dari beberapa bahan, seperti saus,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya