Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
MASIH berlanjutnya polarisasi masyarakat akibat Pilpres 2019 membuat musikus Oppie Andaresta miris. Terlebih di media sosial (medsos), orang-orang terus saling cibir soal pasangan capres-cawapres dari pihak lawan. Akibatnya, hubungan silaturahim perkawanan dan persaudaraan, yang sebenarnya lebih penting dipelihara, pun jadi renggang.
Oppie pun mengungkapkan jika perpecahan juga terjadi di grup sesama seniman yang ia ikuti. Musikus berusia 46 tahun ini memilih bersabar dan menahan diri untuk tidak ikut-ikutan. Baginya, perilaku tersebut sesungguhnya menunjukkan ketidakdewasaan sikap dalam memandang perbedaan.
"Di grup saya, sesama seniman saja jadi pecah. Menurut saya, silakan deh mau jagoin siapa, tapi itu jangan posting yang jelek-jelek. Dah gitu saja jadi saling menghormati," cetus Oppie saat ditemui baru-baru ini di Jakarta.
Perempuan yang melejit pada 1993 lewat lagu Cuma Khayalan ini menilai jika pangkal dari perdebatan karena tiap-tiap kubu memiliki pandangan yang sangat subjektif. Ini berlangsung dari prapemungutan suara hingga hari ini, meski isunya terlihat berbeda.
Sebelum hari H pemilu, cibiran kerap beralasan faktor-faktor terkait dengan identitas yang sesungguhnya juga tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Sementara itu, setelah pemungutan suara, cibiran dan ejekan dilakukan dengan alasan kecurangan.
"Ini kan urusannya subjektif. Mereka berpandangan jagoannya yang paling hebat dan lawannya yang curang. Tergantung kita lihat dari mana," kata musikus yang setidaknya sudah berkarier di industri musik sejak 1990.
Oppie pun mengingatkan agar masyarakat belajar dewasa dalam berpolitik. Layaknya manusia mana pun, tiap-tiap pasangan capres-cawapres pastilah memiliki kelemahan dan keunggulan.
Pendewasaan politik itu juga termasuk dalam bersabar dan nantinya menghormati hasil perhitungan Komisi Pemilihan Umum.
"Menurut saya enggak usah posting yang jelek-jelek. Ujung-ujungnya ya sudah nanti tunggu saja tanggal 22, toh siapa yang menang ya elo suka enggak suka akan jadi presiden. Saya prinsipnya gitu. Enggak pernah saya posting yang jelek-jelek, mendingan saya posting yang bagus-bagus," tambah ibu satu anak ini.
Membuat album puisi
Tidak hanya menghindari diri dari ikut berpolemik soal politik, Oppie memilih terus produktif dalam berkarya. Saat ini Oppie telah membuat album musik puisi. Satu album musik puisi itu berisi delapan lagu yang diambil dari puisi karya Joko Pinurbo (Jokpin). Tiap puisi diaransemen berbeda-beda karakternya.
"Jadi puisinya Joko Pinurbo saya nyanyikan, ada delapan puisi, sudah ada albumnya dan sudah di-launching. Judul albumnya Baju Bulan. D isitu ada lagu Hati Jogja yang menarik, Baju Bulan juga menarik, ada Malam ini Aku akan Tidur di Matamu. Itu beda-beda karakternya. Lalu, lagu Kepada Uang," katanya.
Sejauh ini Oppie sudah memiliki sembilan album. Ia berupaya mencari sesuatu yang baru untuk album berikutnya. Lalu, muncullah ide membuat musikalisasi puisi atau musik puisi itu.
"Saya kan sudah punya sembilan album. Jadi, saya selalu mikir album berikutnya mau bikin apa. Saya mencari-cari yang belum pernah saya lakukan. Orang-orang bilangnya musikalisasi puisi. Kalau saya musik puisi, menyanyikan puisi," katanya.
Oppie memperhatikan, selama ini jika puisi digubah menjadi lagu, selalu dinyanyikan dalam bentuk balada. Ia ingin ada aransemen yang berbeda-beda untuk puisi, selain balada. Tantangannya bagi Oppie ialah membuat sesuatu yang berbeda dari karya sebelumnya. Biasanya juga ia membuat lagu dari nol. Saat ini sudah ada puisi orang lain lalu digubah jadi lagu.
"Itu tantangan. Jadi melakukan atau membuat karya yang lain yang beda dari karya saya sebelumnya. Kalau bikin lagu, biasanya semuanya saya yang buat dari nol. Sekarang lagunya sudah ada dari puisi orang lain," katanya.
Pilihan pada puisi Joko, menurutnya, berawal dari undangan tampil di penutup acara Asean Literary Festival. Panitia memintanya tampil dengan lagu yang digubah dari puisi. "Rendra saya tahu puisinya panjang, saya kenal orangnya. Terus saya dengar sudah ada musikus lain, Arireda yang pilih puisi Sapardi Djoko Damono. Saya memutuskan puisi Jokpin," tutur Oppie yang merasa ada kesamaan karakter antara Djoko dan dirinya.
Setelah kemudian bertemu dengan Djoko di acara-acara lain, Oppie pun makin mengagumi penyair terkemuka itu. Proses kreatif Jokpin tidak instan, bahkan bisa hanya menemukan satu kata dalam semalaman berproses.
"Jadi saya pikir pantesan mateng banget kata-katanya. Saya rasa setiap seniman punya proses kreatifnya masing-masing. Dia seperti itu dan saya mengagumi," pungkas Oppie. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved