Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Dilema Klasik nan Abadi para Ibu

MI
14/4/2019 02:20
Dilema Klasik nan Abadi para Ibu
Cuplikan Film Rumput Tetangga(RA PICTURES)

RUMPUT tetangga terlihat lebih hijau. Itu pula yang dirasakan Kirana (Titi Kamal) ketika melihat karib SMA-nya, Diana (Donita).

Kirana yang jadi ibu rumah tangga dengan dua anak, digambarkan merasa inferior ketimbang dengan kawan-kawannya yang jadi perempuan karier. Pada malam pesta reuni SMA, ia bertemu Diana, lajang dan seorang konsultan PR terkemuka.

Keduanya kemudian menjumpai seorang peramal, Madam Sri Menyan (Asri Welas). Keesokannya, Kirana bangun pagi dalam kehidupan yang dijalani Diana, begitu pula sebaliknya.

Film Rumput Tetangga menjadi kerja sama kesekian sutradara Guntur Soeharjanto dengan penulis skenario Alim Sudio. Sebelumnya, mereka telah berkolaborasi menggarap Ayat-Ayat Cinta 2 (2017), Jilbab Traveler (2016), dan 99 Cahaya di Langit Eropa (2013).

Rumput Tetangga mengeksplorasi tema, meminjam istilah Jawa, sawang-sinawang. Bagaimana hidup seseorang terlihat lebih baik bila dibandingkan dengan jalan hidup yang kita jalani.  Disimak dari segi plot, pertukaran secara magis kehidupan antartokoh bukan ramuan baru, khususnya jika berkaca pada film-film Hollywood. Sebut saja seperti film 13 Going to 30, Freaky Friday, What Women Want, atau Just Like Heaven.

Rumput Tetangga menjadi film drama (komedi) yang punya cerita ringan dan dekat dengan realitas. Menjadi pekerja di luar rumah versus SAHM stay at home mom, istilah kekinian ibu rumah tangga memang merupakan dilema klasik yang banyak melanda para ibu.

Karena ringannya pula, film ini membenturkan stereotip kehidupan yang paling mudah dihadapkan. Kehidupan ibu rumah tangga dalam keluarga yang bagi banyak orang dipandang ideal versus kehidupan perempuan lajang yang sukses dalam karier, tapi (mungkin) kesepian dalam kehidupan pribadi.

Sebagai drama komedi, Rumput Tetangga menempatkan cukup porsi komedi di beberapa adegan, seperti saat Kirana berdialog dengan sang sopir atau saat si sopir menemani kedua asisten Kirana/Diana, Indra (Gading Marten) dan Inge (Kirana Larasati).

Film ini tampaknya ingin fokus pada premis kontradiksi kehidupan Kirana dan Diana, juga pertukaran kehidupan mereka sehingga subplot lain yang bisa digarap lebih dalam, seperti problem disleksia Rega (anak Kirana dalam kehidupan sebenarnya), terkesan sekadar tempelan.

Perbincangan terkait dengan gagasan ibu rumah tangga dan perempuan karier juga seringnya terasa seperti ceramah. Belum lagi pengadeganan pada awal film yang bak iklan: suasana pagi keluarga kecil yang tampak bahagia. Ibu yang membenarkan dasi sang suami dan menyiapkan sarapan, dengan dua anaknya di meja makan, bersiap berangkat sekolah.

Namun, dengan menilik beberapa film produksi RA Pictures sebelumnya, Rumput Tetangga, paling tidak, bisa menjadi pintu masuk bagi rumah produksi ini untuk menghasilkan film dengan narasi lebih baik. (Jek/M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya