Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kecanduan Gawai Bisa Picu Neuropati

Indriyani Astuti
10/4/2019 02:00
Kecanduan Gawai Bisa Picu Neuropati
Ilustrasi(Thinkstock)

GAWAI memang menjadi kebutuhan pokok sebagian besar masyarakat pada masa sekarang. Namun, penggunaan gawai yang berlebihan terbukti merugikan. Di bidang kesehatan, banyak masalah timbul akibat kecanduan gawai. Mulai dari gangguan mata, gangguan tidur, juga gangguan saraf tepi atau neuropati.

Dokter spesialis saraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Manfaluthy Hakim, menjelaskan kebiasaan menggunakan gawai yang terlalu lama dan terlampau sering berpotensi memicu kerusakan pada saraf tepi. Sebab, posisi menggunakan gawai membuat tangan melakukan gerakan statis dan berulang.

"Posisi tangan memegang gawai yang statis, seperti siku dan jari menekuk dalam waktu lama, membuat otot serta saraf di sekitarnya menjadi tegang. Lama-kelamaan, timbul cedera pada serabut saraf. Kerusakan itulah yang perlahan-lahan menjadi neuropati," terang Manfaluthy pada diskusi bertajuk Fenomena Penggunaan Gawai Memicu Neuropati, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bagian tubuh yang paling berisiko terkena neuropati akibat terlalu banyak menggunakan gawai antara lain tangan dan lengan terutama bagian siku. Ketika saraf tepi mengalami kerusakan, lanjutnya, akan muncul gejala-gejala seperti kesemutan, kebas, kram, dan kelemahan otot. Semakin parah tingkat kerusakan saraf, gejala yang timbul semakin kentara dan mengganggu kegiatan sehari-hari.

"Pada awalnya penderita merasakan kesemutan, kebas. Itu mencerminkan sudah ada gangguan fungsi saraf. Kalau sudah mati rasa atau tidak bisa merasakan panas, dingin, atau nyeri pada jari artinya sarafnya sudah rusak," imbuhnya.

Manfaluthy menuturkan, saat ini mulai banyak pasien yang menunjukkan gejala neuropati karena gawai. "Biasanya mereka mengeluh nyeri di tangan. Tapi, tingkatnya masih ringan. Jadi kami obat dan beri edukasi apa yang harus dilakukan," katanya.

Kerusakan permanen
Manfaluthy mengingatkan, pencegahan dan pengobatan dini neuropati sangat penting. Mengingat, kerusakan saraf akan bersifat irreversible (permanen) apabila mengenai lebih dari 50% serabut saraf.

"Neuropati bisa dicegah melalui deteksi dini, peregangan ketika otot mulai menegang dan kaku, juga rutin mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin B kompleks atau vitamin neurotropik," sarannya.

Ia menambahkan, pada penelitian nonintervensi dengan vitamin neurotropik yang dilakukan pada 2018, diketahui konsumsi kombinasi vitamin neurotropik yang terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 secara rutin dan berkala dapat mengurangi gejala neuropati seperti kebas, kesemutan, rasa terbakar, dan rasa sakit hingga 62,9% dalam 3 bulan periode konsumsi.

"Saraf tepi berfungsi sebagai penghubung organ-organ tubuh dengan saraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang. Ibaratnya, seperti kabel dalam sebuah rangkaian elektronik. Fungsinya amat, penting, karena itu harus kita jaga," pungkasnya.

Mewakili penyelenggara diskusi itu, Consumer Health Associate Director of Marketing PT P&G PHCI Indonesia, Anie Rachmayani, mengatakan pihaknya turut berupaya meningkatkan kesehatan masyarakat melalui kampanye Total Solution yang mengajak masyarakat merawat saraf.

“Kampanye kami meliputi edukasi gejala, dampak, dan pencegahan neuropati, informasi tentang vitamin neurotropik, pemeriksakan dini saraf di neuropathy check point, dan sosialisasi senam kesehatan saraf,” papar Anie. (H-2)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya