Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI Zata Ligouw, 40, menjalani profesi sebagai bloger sekaligus kreator konten awalnya tak mudah di tengah masyarakat awam yang belum sepenuhnya mafhum akan era digital. Apalagi, setelah ia memutuskan menjalani profesi itu secara full time dan kerap mengerjakan segala sesuatu dari rumah.
Meski tidak mengatakan blak-blakan di hadapannya, banyak orang kerap menganggap Zata tak ubahnya pengangguran. Hal itu lantaran aktivitas Zata yang fleksibel. Pandangan masyarakat awam, orang yang bekerja ialah yang berangkat pagi dan pulang sore, atau jelas kantornya di mana.
"Ada beberapa yang berulang kali menanyakan, sebenarnya saya kerja di mana. Sudah dijelaskan sebagai bloger, mereka masih sulit memahami. Jadi kalau ada yang nanya, saya bilang kerja online saja," ungkap Zata saat berbincang dengan Media Indonesia, di kediamannya, Rabu (6/3).
Paling tidak, sikap tetangga-tetangganya masih lebih santun ketimbang perlakuan yang dialami rekan sesama bloger di derah lain. "Teman saya ada yang dituduh jadi babi ngepet karena bisa beli-beli, padahal ia dianggap nganggur. Saya tidak sampai separah itu, tapi entah kalau bicara di belakang yang saya tidak tahu," tuturnya.
Tantangan juga ia dapatkan dari orangtua dan keluarganya ketika ia memutuskan menjadi full time bloger sekitar 2011. Hingga dua tahun berikutnya, mereka kerap meminta Zata mencari pekerjaan 'serius'.
"Kesannya pekerjaan saya ini bukan pekerjaan beneran," cetusnya.
Namun, Zata menjelaskan kepada orangtuanya bahwa pilihan menjadi bloger memungkinkan dirinya lebih mudah mengatur waktu. Karena banyak dari pekerjaannya itu bisa dilakukan di rumah, Zata jadi lebih punya banyak waktu bersama anak-anaknya.
Lama-kelamaan, orangtua Zata bisa memahami profesi tersebut. Apalagi, setelah mereka melihat berbagai aktivitas Zata melalui foto-foto dan video yang ia unggah di media sosial. Mereka juga mulai membaca tulisan-tulisan Zata di blognya.
Namun, ia tidak memungkiri, masih ada kerabat atau teman-temannya yang masih memandang profesi Zata dengan sebelah mata. Itu ia rasakan dari mengalirnya informasi atau tawaran pekerjaan yang mereka rekomendasikan ke Zata dan suaminya.
Di satu sisi di cap pengangguran, di sisi lain ia sempat dikira bergaya hidup yang mewah dan glamor. Padahal, itu sekadar tuntutan pekerjaan. "Sewaktu mengisi acara, banyak orang mengaku sungkan bicara dengan saya karena di media sosial terkesan glamor padahal sebenarnya tidak," ujar Zata.
Mengatasi hal itu, Zata berinisiatif mengunggah pula kehidupan pribadinya ke media sosial, seperti saat ia dan anaknya naik kereta listrik atau ketika dirinya berbenah di dapur bersama sang suami. Dengan begitu, ia berharap publik memahami citra yang terbangun di media sosial hanyalah untuk keperluan kerja. (TS/M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved