Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
HIDUP berdampingan dengan bencana seakan takdir bagi masyarakat Indonesia. Negeri yang kaya akan sumber daya alam ini berdiri di atas rangkaian cincin api Pasifik atau istilah kerennya The Pacific Ring of Fire yang masih aktif melingkar dari Selandia Baru hingga Amerika Selatan. Atas dasar itu gempa bumi, gunung meletus, hingga tsunami kerap menghampiri negeri ini.
Belum sepenuhnya pulih dari gempa bumi di Lombok serta tsunami di Palu dan Donggala, baru-baru ini tepatnya 22 Desember 2018, tsunami kembali menerjang Indonesia di pesisir Lampung dan Banten akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang memakan ratusan korban. Lalu, bagaimana sebenarnya kesiapan Indonesia menghadapi bencana? Berikut petikan wawancara Media Indonesia dengan ahli vulkanologi, Surono di Jakarta, Kamis (27/12).
Dari kasus tsunami ini, bagaimana Anda melihat sistem deteksi dini bencana terkait gunung berapi yang dimiliki Indonesia saat ini?
Indonesia ini dikaruniai Tuhan gunung api terbanyak. Ada 127 gunung api yang aktif di Indonesia atau sekitar 13% dari jumlah gunung api aktif di dunia. Bahkan letusan gunung api terbesar dalam sejarah modern manusia berada di Indonesia, yaitu letusan Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat, pada 1815 yang abunya sampai ke Eropa.
Jadi (Indonesia) kalau dibilang siap ya siap kalau dibilang tidak ya tidak, karena subjek dari mitigasi bencana itu adalah manusia dan yang terkait dengan manusianya. (Di Indonesia) sekitar 4 juta jiwa masyarakat Indonesia bermukim dan beraktivitas di daerah rawan bencana gunung api dan berisiko terkena dampak bencana gunung api.
Belum lagi masalah gempa bumi dan tsunami (jumlah masyarakat yang tinggal berdampingan dengan bencana tersebut) sekitar 140 juta jiwa, lalu longsor, dan kemungkinan terkena banjir bandang sekitar 40 juta jiwa. Jadi di mana pun terjadi letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, tanah longsor pasti ada korban atau paling tidak pengungsinya banyak. Bisa dicatat letusan Gunung Merapi pada 2010 ada 1 juta pengungsi, yang dihimpun pemerintah atau masuk tenda itu sekitar 417 ribu orang dan meninggal 365 orang, kerugiannya mencapai belasan triliun.
Jadi siap ya siap karena ada peralatan. Tapi teknologi tidak punya arti apa-apa kalau masyarakatnya tidak mengerti tentang ancaman bahaya gunung api dan cara mengantisipasinya, jadi percuma. Kesiapan masyarakat yang menurut saya masih kurang. Walaupun waktu letusan Gunung Merapi 2010, saat saya masih menjadi pejabat saya buat MoU dengan 4 bupati di sekitar Merapi untuk wajib latih sehingga saat terjadi peningkatan aktivitas Merapi masyarakat bisa mengungsi dengan cara-cara yang sudah dilatih, tapi itupun masih ada korban.
The German Research Center for Geosciences mampu mendeteksi gempa pukul 20.00 sebelum tsunami Selat Sunda, tapi alat deteksi kita tidak. Bagaimana alat deteksi gempa di luar negeri mampu deteksi gempa lebih awal dibandingkan kita?
Peralatan kita kalau harus cukup sekali itu, di samping mahal perawatannya tidak murah. Saya mengalami di gunung api itu vandalisme, dicuri, dirusak sering sekali.Saya mengatakan kejadian tsunami di Palu ada missed bagi BMKG dan kita harus berani mengatakan hal itu. Di selat Sunda juga ada kegagalan. Teman saya di Carita menyatakan pada saya air laut begini dan saya jawab berdasarkan keterangan BMKG di Twitter. Lalu, teman saya bilang mobil-mobil terbawa arus, itu adalah tsunami. Tapi saya tidak bisa mengatakan itu karena bukan kewenangan saya lagi, dan hal itu dibilangnya air pasang naik karena bulan purnama.
Setelah itu, Jerman mengomentari, data-data bertebaran di media sosial. Jangan kita bicara data dari Jerman, data dari instansi di Indonesia juga ada. Seperti dari Badan Informasi Geospasial itu memasang alat yang memantau naik turunnya gelombang laut di pantai Banten dan Lampung. Alat itu merekam waktu gelombang itu datang. Karena tsunaminya akibat longsoran tiba-tiba maka besar polanya tidak seperti air surut dulu baru datang air besar. Artinya kita jangan bicara BUOY tidak ada, andaikan pasang surut itu dipasang di Anak Krakatau atau pulau sebelahnya maka tsunami itu terdeteksi secara dini.
Sementara itu, kalau cerita dari Jerman terdeteksi gempa pukul 21.03 dan tsunaminya sampai di darat pukul 21.27. Artinya, ada sekitar 20 menit, kalau pemerintah punya early warning atau sirene sebetulnya bisa bunyi pada saat gelombang diterima di pantai.
Tapi kalau hal itu sekadar dibantah akibat pasang naik bulan purnama masyarakat jadi bingung. Artinya ini tidak ada kepastian dari institusi pemerintah yang menangani hal itu.
Jadi kita harus mengakui hal itu, supaya kita bisa memperbaiki tsunami terkait gunung api, tidak hanya letusannya saja. Tsunami akibat letusan gunung api itu ada 3, pertama letusannya harus dahsyat karena Anak Krakatau maka letusannya harus dahyat bahkan sampai hilang Anak Krakataunya dan jika terjadi letusannya bisa terdengar sampai Jakarta dan abunya tinggi sekali dan itu tidak ada.
Kedua, awan panas. Anak Krakatau tidak memproduksi awan panas skala besar, tidak ada awan panas jutaan meter kubik yang memicu tsunami dan paling mungkin ialah longsoran.
Kita jangan mengkriminalisasi Anak Krakatau karena dari dulu letusannya seperti itu tidak pernah besar. Bisa dikatakan sejak 1927 sampai sekarang Krakatau lebih banyak aktifnya dibandingkan tidurnya.
Kalau alat warning tsunami dipasang dengan benar, entah itu tsunami karena longsor atau letusan gunung api pasti terdeteksi.
BNPB mengaku belum memiliki alat deteksi longsor gunung berapi bawah laut. Sebenarnya apa alasannya? Apalagi aktivitas Gunung Anak Krakatau belakangan meningkat.
Jangan bilang begitu, kalau tsunami itu karena landslide, maka yang dipantau itu tsunami atau landslide-nya? Mungkin bisa dipasang ekstensometer kalau itu retak, kalau retakannya semakin lebar maka bisa saja longsor, tapi apakah pasti longsor kan tidak juga. Yang penting monitoring tsunami, bisa dilakukan karena kegempaannya, gunung api, atau longsor. Bisa gempa menimbulkan longsor bisa juga tidak, bisa menimbulkan tsunami bisa juga tidak, yang penting bagaimana tsunami itu terdeteksi. Jangan menyalahkan kita tidak bisa mendeteksi longsor maka tidak bisa mendeteksi tsunami.
Dengan meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, apakah ada kemungkinan meletus seperti Gunung Krakatau pada 1883?
Masih jauh kalau itu, kenapa? karena sistemnya masih terbuka, belum ada sumbat lavanya juga dan masih meletus dengan strobolian seperti kembang api dan sebagainya. Dia pamer kegagahannya bahwa dirinya itu masih aktif.
Presiden menggagas memasukkan mitigasi bencana ke kurikulum pendidikan. Apakah masyarakat belum paham atau kurang kesadarannya akan mitigasi bencana?
Dulu saya teriak-teriak memasukkan hal ini ke muatan lokal ke dinas-dinas pendidikan. Tapi alasan mereka sudah penuh muatan lokal. Saya dulu pernah kerja sama dengan PGRI, sosialisasi di mana-mana bahkan sampai guru-guru TK mengarang lagu soal gempa bumi, tapi PGRI ternyata tidak akur dengan dinas pendidikannya sehingga kerja sama itu hilang.
Apapun itu, terutama mitigasi tanpa pendidikan dan pelatihan maka program mitigasi pasti akan gagal. Contoh di Jepang anak-anak kecil sudah dilatih pakai helm kalau berangkat sekolah, mereka sudah dididik sejak kecil bahwa negaranya dekat dengan bencana sehingga harus menyiapkan diri. Di Indonesia pakai helm karena takut ditilang polisi bukan karena keselamatan. Saya bosan mengatakan alam Indonesia itu sudah ada sebelum manusianya dengan dinamika gempa, letusan gunung api. Anggap alam sebagai tuan rumah dan kita adalah tamunya, maka selayaknya tamu yang sopan adalah menyesuaikan diri dengan karakter tuan rumah.
Subjek mitigasi itu bukan adanya peralatan atau tidak, melainkan bagaimana masyarakat diedukasi sejak dini tentang kondisi daerahnya, serta bagaimana mengantisipasinya jika ancaman bahaya itu datang. Percuma kita melakukan instalasi alat-alat pendeteksi yang mahal kalau masyarakat tidak terdidik.
Bagaimana sistem pemetaan bencana terkait dengan kegunungapian kita?
Sebenarnya kalau peta gunung api di Indonesia itu dulu sudah saya selesaikan. Beberapa daerah peta rawan gempa bumi maupun tsunami sudah ada. Misalnya apakah sudah ada peta-peta daerah likuifaksi di Palu? itu sudah ada. Tapi seperti saya bilang daerah-daerah rawan bencana itu daerah yang enak untuk ditinggali, bukan berarti daerah rawan bencana tidak boleh ditinggali? Boleh tetapi dengan perhitungan risiko yang optimal.
Sampai sekarang, penataan ruang di daerah itu belum memasukan ancaman bahaya itu, masih memperhitungkan keuntungan ekonomi, ya sulit. Bisa dibayangkan daerah-daerah pantai seperti di Carita, kalau bisa (buat bangunan) di bibir pantai, sulit juga. Di samping itu yang saya heran selat Sunda itu daerah yang strategis, tempat wisata di dua provinsi, yaitu Banten dan Lampung. Ditambah Cilegon ialah zona industri strategis, dulu waktu saya jadi pejabat saya mengatakan tidak ada alasan apa pun Anak Krakatau tidak terpantau, tidak ada alasan alatnya mati.
Ada cadangan yang bisa dipakai karena kalau dipasang di Anak Krakatau sering kejatuhan batu dan pecah, tapi saya heran di daerah yang sevital itu tidak diusahakan diadakan early warning tsunami. Karena tsunami di sana potensinya bukan hanya dari Anak Krakatau, melainkan juga gempa yang ada di selat Sunda. Ini betul-betul daerah vital strategis yang menghadapi dengan tangan kosong untuk menghadapi suatu ancaman yang besar.
Apakah perlu ada perbaikan dan penyesuaian terkait dengan sistem itu?
Itu tidak berubah, kecuali jika seperti Merapi tiba-tiba dalam sejarahnya belum pernah awan panas meluncur sampai 20 km maka diubah petanya. Bisa dimodifikasi jika ada perubahan karakter letusan, kalau tidak ya itu-itu saja.
Imbauan bagi masyarakat bahwa kita hidup dekat dengan bencana?
Masyakat tidak bisa sendiri, masyarakat perlu pemerintah yang punya kewajiban melindungi masyarakatnya, melindungi dari ancaman bahaya. Selain itu, pemerintah harus menyelenggarakan pendidikan masalah kebencanaan sejak dini. Nenek moyang kita sudah memberikan pendidikan sejak dini, contoh Anda menggambar pemandangan dua gunung dengan matahari dan alam yang subur? Itu bagian pendidikan bahwa kita mempunyai gunung api banyak yang memberikan kesuburan. Kita mempunyai tatanan tektonik yang luar biasa unik di mana tatanan tektonik itu bisa menyebabkan gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, longsor.
Jadi, pemerintah wajib melakukan edukasi sejak dini tentang daerah sekitarnya, karakternya seperti apa agar masyarakat bisa menyesuaikan diri. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved