Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Perspektif Cinta Abad 4.0 a la Eki Dance Company

Fathurrozak
26/11/2018 09:36
Perspektif Cinta Abad 4.0 a la Eki Dance Company
(Dok. Eki Dance Company)

Agnes Monica berseru lewat tembangnya Tak Ada Logika. Cita Citata mendendangkan Meriang (Merindukan Kasih Sayang). Dua lagu itu membuka beragam perspektif cinta dalam narasi koreo yang disajikan Eki Dance Company pada Eki Update 4.0.

Usai ditunjukkan harmoni Arjuna-Srikandi, yang maju bersama dalam perang dengan panah mereka, penonton disuguhkan tragedi cinta dari seorang penggemar artis kepada idolanya. Cinta tidak ia ungkapkan lewat kata, melainkan mengakhiri hidup sang idola dengan menembaknya di kepala, sebelum akhirnya si penggemar itu juga menyusul sang idola dengan cara bunuh diri. Keduanya pun bersatu dengan tubuh yang terbujur kaku.

Bukan kebetulan rasanya, bila tahun ini Eki Dance masuk pada nomor Eki Update mereka yang keempat, dengan tajuk We Sing, We Dance, We Love. Sehingga, boleh saja angka 4.0 pada baris kata Eki Update bisa ditarik ke dalam konteks grup tari ini dalam memaknai isu revolusi industri atau akrab dengan Industri 4.0. Industri ini, yang juga kini tengah dikonsepsikan di Indonesia, mengusung otomatisasi di segala bidang, mengandalkan Internet of Things (IoT).

Meski demikian, toh terkadang Indonesia masih saja ribut-ribut dengan hal-hal yang sebenarnya menjadi berkah. Ribut karena beda, persinggungan kelompok, tampaknya mencuat, di tengah Indonesia yang katanya tengah mengejar Industri 4.0 dengan segala otomatisasinya.

Eki Update 4.0 menawarkan lakon Ada Apa Dengan Sinta, sebagai tawaran membaca keriuhan masyarakat kita. Terlebih, menjelang pemilu tahun depan, banyak yang memprediksikan gesekan-gesekan yang menimbulkan perpecahan. Namun, bagi Rusdy Rukmarata, koreografer juga direktur artistik Eki Dance, ia mengungkapkan Indonesia tidak akan pecah, bila semuanya dijalani dengan cinta.

Sinta yang baru saja pulang dari Amerika itu, sudah digadang-gadang untuk dijodohkan dengan anak pengusaha. Ini dimaksudkan bapak dan ibunya agar kekayaan mereka semakin berlipat, karena sama-sama berlatar belakang keluarga. Namun, Sinta sudah punya pilihannya sendiri, Rangga yang tidak pernah dipandang selama ini.

Seperti kata Agnes Monica, cinta kadang-kadang tak ada logika. Namun, begitulah, cinta yang memberi kita harapan, sebab untuk bersatu dengan Rangga, Sinta juga menghadapi tantangan dengan orangtuanya, orangtua dari yang akan dicalonkannya, bahkan orangtua yang ngebet ingin Sinta menikah dengan anaknya. Mungkin juga seperti Indonesia, yang meskipun sudah melewati berbagai konflik dan berbagai peristiwa, akan tetap ada, "selama di antara kita melakukan apa saja dengan cinta, maka Indonesia akan selalu ada,” kata Rusdy.

 

Tribute

Sebagai kelompok tari yang pernah diajar selama lebih dari satu dekade, rasanya Eki Dance Company memang patut memberi penghormatan kepada gurunya, mendiang Rudy Wowor. Maka, dalam pementasan, sosok berjaket tebal cokelat, dengan celana hitam licinnya itu 'tampil' di atas panggung, ia menari dengan gaya jazz, diiringi tiupan saksofon Sujiwo Tedjo. Kenangan 16 tahun lalu dalam Gallery of Kisses itu dihadirkan dengan kembali menarikan nomor koreo Glass of Pride dengan iringan lagu Glass of Wine, sekaligus sosok Rudy di dalam layar menjadi latar.

Dalam pentas yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta sejak 23 hingga 25 November inipun Eki Dance mengajak kolaborasi dengan koreografer luar dan membuka ruang untuk para penari dalam program Eki On Call.

Gege Diaz dan Josh Marchy menjadi dua koreografer yang diajak bekerja sama. “Kolaborasi ini memacu semua pihak untuk saling kenal, belajar dan berkembang ke arah lebih baik,” terang Presiden Direktur Eki Dance Company Aiko Senosoenoto.

Gege Diaz menggarap koreo Savage Dub, yang memadukan balet dengan nuansa hip hop funk ala Gege. Sementara itu, Josh Marcy menampilkan narasi urban lewat koreo Building Blocks. Para penari bergerak begitu dinamis, tidak pernah diam, dan berlindung dengan balok-balok merah mereka, menjadi suatu interpretasi atas kehidupan urban yang serba cepat dan menuntut kebergegasan, sehingga kita tergesa dan tak pernah rileks sejenak. (Jek/M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irana Shalindra
Berita Lainnya