Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Mahabarata, Lakon yang Melintasi Zaman

Ardi Teristi Hardi
23/11/2018 08:30
Mahabarata, Lakon yang Melintasi Zaman
(Dok. Instagram/teaterkoma)

Dewi Rekatawati gundah gulana karena melahirkan sebuah telur. Padahal, sudah lama dia dan sang suami, Hyang Tunggal, mengidam-idamkan lahirnya sosok dewa atau atau dewi dari rahimnya yang akan menggantikan kedudukan suaminya sebagai raja di tiga dunia: Mayapada, Madyapada, dan Marcapada.

Karena kelahiran telur tersebut, Hyang Tunggal memohon petunjuk dengan bersemedi. Tak lama kemudian, petunjuk datang dari Hyang Wenang, ayah dari Hyang Tunggal. Menetaslah telur tersebut dan keluarlah empat sosok Dewa.

Sosok Dewa pertama lahir dari kulit telur, diberi nama Antaga. Sosok Dewa kedua berasal dari putih telur dan dinamai Ismaya. Sosok Dewa ketiga berasal dari kuning telur yang diberi nama Manikmaya. Sosok Dewa keempat berasal dari ari-ari yang diberi nama Manan.

Karena lahir bersamaan, keempat Dewa tersebut kebingungan menentukan siapa yang tertua. Alhasil, dua di antara mereka, Antaga dan Ismaya, menentukan yang tertua dengan cara berkelahi.

Lama mereka berdua adu jotos, tetapi tidak ada juga yang kalah. "Tidak ada yang menang karena tidak ada yang bisa mati. Percuma adu sakti dengan berkelahi," kata Antaga. Manan pun mempunyai ide untuk beradu kesaktian dengan menelan gunung di Jawa, kemudian dikembalikan lagi ke tempat semula. Antaga dan Ismaya sepakat.

Ismaya berhasil menelan Gunung Es Mahameru dan mengembalikan lagi ke tempat semula. Namun, ketika dikembalikan es sudah mencair sehingga mengakibatkan banjir bandang.

Antaga tidak terima karena seharusnya yang ditelan adalah Gunung Api Merumaha. Antaga tidak mampu menelan gunung tersebut hingga mulutnya sobek, sedangkan Ismaya mampu menelannya, tetapi tidak bisa mengeluarkannya kembali dari dalam perutnya.

Perbuatan putra-putranya membuat Hyang Tunggal marah. "Begitu kalian dirasuki kesombongan dan kepongahan, kalian menjadi lemah. Tua hanya lebih dulu, tidak guna tanpa kearifan" tegur Hyang Tunggal.

Hyang Tunggal kemudian berwasiat kepada para putranya. Antaga dan Ismaya berubah wujud dan dinamai Batara Togog dan Batara Semar. Mereka pada kemudian hari akan melakukan pengembaraan di planet Jawa. Manikmaya dinobatkan sebagai Raja Tiga Dunia menggantikan Hyang Tunggal dengan gelar Batara Guru. Sementara itu, Manan menjadi penasihat Batara Guru dan diberi gelar Batara Narada.

Sekelumit kisah tentang awal mula Mahabarata tersebut disajikan Teater Koma dengan judul Mahabarata: Asmara Raja Dewa. Bagi Sutradara dan Penulis Naskah Teater Koma, N Riantiarno, naskah teater yang dipentaskan tersebut telah mengalami proses yang sangat panjang.

"Ini lakon para Dewa dan kemudian lakon penciptaan manusia. Genesis," kata pria yang akrab disapa Nano, di Jakarta, baru-baru ini.

Ia mengaku, sudah mempelajari dan memiliki literasi tentang Mahabarata sejak 1970-an. Ia lalu memasukkan sumber literasi yang lain, baik dari Batak, Bugis, Toraja, Bali, bahkan Yunani, Mesopotamia, dan Afrika. Alhasil, Nano mampu menciptakan berbagai jenis seni dan daya kreativitas manusia dalam teaternya.

"Ini (Mahabarata yang dipentaskan Teater Koma) lakon yang sumbernya bisa dari mana saja," kata Nano.

Cerita Mahabarata yang ditampilkan hanya setengah dari episode pertama dari total 45 episode Mahabarata versi Jawa. Mahabarata versi Jawa mudah dikenali dengan kehadiran tokoh Togog dan Semar. Dalam Mahabarata versi India, kedua tokoh tersebut tidak ada.

Inti dari kisah Mahabarata: Asmara Raja Dewa ialah tentang usaha Batara Guru dalam menjaga kedamaian Tiga Dunia yang selalu diusik oleh penghuni Dunia Gelap. Mereka selalu berhasrat merebut tampuk kekuasaan dengan berbagai cara.

 

Ikuti zaman

Teater Koma merupakan nama besar di jagat teater Indonesia. Teater yang didirikan tahun 1977 itu mampu terus bertahan di tengah arus modenisasi dunia hiburan dan perkembangan teknologi yang sangat pesat belakangan ini.

Dengan dikomandoi oleh N Riantiarno, Teater Koma menjadi salah satu teater yang produktif. Di usia 41 tahun, sudah produksi ke-154 yang dihasilkan, termasuk Mahabarata: Asmara Raja Dewa yang dipentaskan ke publik mulai 16 November sampai 25 November 2018.

Nano menceritakan kunci sukses Teater Koma bisa bertahan hingga sekarang. "Bagi kami penting untuk selalu mengikuti zaman. Kita tidak boleh mengabaikan masyarakat yang ada," ungkapnya.

Sebagai cerminan atas komitmen itu, Teater Koma, misalnya, tidak antipati dengan penggunaan teknologi. Bahkan, dua kali pertunjukan terakhir Teater Koma dibantu oleh seniman multimedia asal Bandung, Bulkini.

Untuk lakon Mahabarata, Teater Koma menggunakan tiga proyektor Epson dengan rentang 12.500 hingga 25.00 lumens. Hasilnya memuaskan. Animasi ditampilkan di bagian belakang panggung dan di bagian depan pangung dengan memanfaatkan layar transparan. Walaupun pada pementasan di Selasa (20/11) lalu proyektor sempat mati sekitar semenit, semua bisa segera diatasi.

Selain dari penggunaan multimedia, regenerasi keaktoran juga tetap dipelihara. Dalam produksi kali ini, banyak aktor-aktor muda direkrut. Ada sekitar 17 anak muda lulusan SMA yang direkrut melalui seleksi lalu dilatih dalam kurun sebulan.

Produser Teater Koma, Ratna Riantiarno menyebut, dari 45 aktor dan aktris yang terlibat, sekitar 70% berusia 23 tahun ke bawah. Teater Koma, imbuhnya, memiliki manajemen yang terbuka dan punya idealisme. "Jadi, kami mau produksi yang sebaik dan seberkualitas mungkin," pungkas Ratna. (AT/M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irana Shalindra
Berita Lainnya