Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
Mulai 25 November hingga enam hari berikutnya, publik Tanah Air berkesempatan menyimak tigapuluh dua film menyoal isu antikekerasan. Penayangan film-film tersebut merupakan bagian dari Enambelas Film Festival 2018 yang mengampanyekan antikekerasan berbasis gender dan seksual.
Sineas Nia Dinata selaku pendiri Enambelas Film Festival menyatakan, medium film menjadi a great ice breaker untuk menyuarakan antikekerasan. "Kami sangat mendukung toleransi atas segala perbedaan, tapi tidak menoleransi kekerasan, terutama berbasis gender dan seksualitas," kata dia saat jumpa pers, Jumat (16/11), di Soulfood, Kebayoran Baru, Jakarta.
Menurut dia, banyak film Indonesia yang telah membicarakan kekerasan dan advokasi bagi korban kekerasan. Namun, sayangnya film-film tersebut tenggelam di antara film-film lain yang lebih mudah 'dicerna' publik.
Pada festival tahun ini yang merupakan kali kedua, akan ada 16 film panjang dan 16 film pendek yang diputar, antara lain Marlina, Posesif, Berbagi Suami, Atas Nama Moralitas dan Agama, Muslimah, Rumah, hingga Anak Lanang. Adapun tema yang diambil 16FF 2018 adalah Hear Me Too: Mendengar dan Berpihak pada Korban. Pemutaran film akan berlangsung di Jakarta, Serpong, Surabaya, Jombang, Kota Jambi, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Muara Bungo, Semarang, Rembang, Sragen, Jogja, Bengkulu, Bandarlampung, dan Denpasar
Komisioner Komnas Perempuan, Magdalena Sitorus, menilai tema tersebut amat relevan mengingat tidak sedikit korban kasus kekerasan yang terabaikan. "Misalnya yang baru-baru ini kasus Baiq Nuril di Lombok," kata Magdalena dalam acara serupa.
Mendengar dan memperdengarkan suara korban disebutnya sangat penting untuk mencegah kekerasan berulang. Bahkan, berdirinya Komnas Perempuan juga dilatarbelakangi kekerasan seksual yang dialami etnis Tionghoa pada tragedi Mei 1998. Namun, para korban saat itu banyak memilih bungkam. Ada banyak faktor mengapa mereka bungkam. Mulai dari stigma aib, faktor budaya, politik, hingga khawatir akan keamanan. "Komnas Perempuan ada supaya tidak lupa pada sejarah dan tidak terulang," tegasnya.
Lebih lanjut, jika melihat statistik kini, kekerasan paling tinggi ternyata di terjadi di tempat yang dianggap paling aman, yaitu dalam rumah tangga. Komnas Perempuan mencatat, ada 348.446 kasus yang terlaporkan ke Komnas Perempuan sepanjang 2017. Lewat 16FF, masyarakat diharapkan kian teredukasi untuk lebih peduli dan ikut menyuarakan antikekerasan.
Ikrar
Dalam kesempatan tersebut Nia Dinata, Magdalena Sitorus, dan beberapa artis, seperi Wulan Guritno, Ayusitha, Richard Kyle, dan Karina Salim, menyuarakan Ikrar Hear Me Too: Mendengar dan Berpihak pada Korban yang berisi 16 butir:
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved