Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Kisah Pascakonflik Poso Menangi Eagle Awards 2018

Ardi Teristi Hardi
01/11/2018 19:13
Kisah Pascakonflik Poso Menangi Eagle Awards 2018
(instagram/eagle_awards)

Toleransi merupakan isu yang tidak pernah basi untuk selalu diulas di tengah kemajemukan bangsa Indonesia. Digarap dengan apik, tema tersebut pun menghantarkan film Damai dalam Kardus sebagai jawara Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2018.

Kemenangan Damai dalam Kardus diumumkan Rabu (31/10) malam, di CGV, Grand Indonesia, Jakarta. Selain film besutan Suleman M Nur dan Andi Ilmi Utami Irawan itu, film Menabur Benih di Lumpur Asmat dan film Pusenai The Last Dayak Basap pun sukses menjadi film terbaik dengan masing-masing menggondol predikat juara dua dan tiga.

“Film Damai dalam Kardus menjadi pemenang karena bercerita dengan sederhana,” kata Garin Nugroho yang menjadi Ketua Dewan Juri EADC 2018. Namun, dengan kesederhanaan tersebut, mereka berhasil mengangkat sebuat tema kuat tentang toleransi di lingkungan yang paling dekat, yaitu keluarga.

Film tersebut bercerita tentang seorang anak yang mencari tahu sosok ayahnya. Mereka berpisah setelah konflik Poso karena berbeda agama.

EADC 2018 terselenggara dari hasil kerja sama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan Eagle institute Indonesia, MatroTV, dan didukung oleh Artha graha Peduli, serta Bank Mayapada. Tema besar EADC 2018  ialah Menjadi Indonesia.

Melihat mulai lunturnya nilai-nilai ke-Indonesiaan saat ini, tema tersebut menjadi penting dan tepat untuk diangkat saat ini. “Diharapkan, melalui ajang ini ditemukan sineas-sineas muda yang mampu memunculkan gagasan mengenai menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Presiden Direktur Metro TV Suryopratomo saat memberikan sambutan

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini, Eagle Institute selaku penyelenggara melakukan inovasi dengan memasang konsep Master Class. Konsep itu menjadikan partisipasi peserta tidak hanya untuk pemula, tetapi juga bisa diikuti oleh sineas yang memiliki keahlian ataupun pernah membuat film bisa ikut berpastisipasi. Lima cerita terbaik yang mendapat fasilitas Master Class serta pendanaan produksi adalah:

1. Fajaria Menur Widowati dan Miftahuddin dengan Pusenai The Last Dayak Basap;

2. Yosep Levi dan Bernad Koten dengan Menabur Benih di Lumpur Asmat;

3. Lukas Deni Setiawan dan Emmanuel Kurniawan dengan Bioskop Kecil;

4. Harapan Besar, Lutfi Retno Wahyudianti dan Gugun Junaedi dengan Menulis Mimpi di Atas Ombak;

5. Andi Imli Utami Irwan, Suleman Nur, dan Nurtaqdir Anugrah dengan Damai Dalam Kardus.

“Kami ingin membangkitkan kembali nasionalisme. Eeagle Award ini seolah gayung bersambut,” ujar Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius, dalam kesempatan serupa. Di era perkembangan teknologi informasi yang pesat saat ini, menurutnya, generasi muda menjadi sasaran brainwashing, termasuk untuk melakukan aksi terorisme.

Suhardi pun mengapresiasi kemenangan juara pertama, Damai dalam Kardus. Pasalnya, Suhardi mengaku melihat sendiri kehancuran yang disebabkan akibat konflik Poso. Ia juga bisa merasakan derita warga Poso yang menjadi korban akibat konflik tersebut. (AT/M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irana Shalindra
Berita Lainnya